-
Iran mengancam hukum Israel karena melanggar poin gencatan senjata dengan menyerang wilayah Lebanon.
-
Presiden Pezeshkian sebut penghentian serangan di Lebanon adalah syarat utama perjanjian damai Teheran-AS.
-
Serangan Israel menewaskan 254 orang meski kesepakatan gencatan senjata baru saja diumumkan resmi.
Detail kesepakatan ini disampaikan langsung oleh Presiden Pezeshkian saat berkomunikasi melalui sambungan telepon dengan Emmanuel Macron.
Presiden Perancis tersebut dihubungi pada hari Rabu guna membahas perkembangan situasi keamanan di perbatasan Lebanon.
Pezeshkian mengungkapkan bahwa tuntutan berhentinya serangan Israel adalah satu dari sepuluh poin syarat yang dilampirkan.
Dalam dialog tersebut, ia juga menyinggung peran krusial Perancis sebagai penjamin dalam sejarah gencatan senjata sebelumnya.
Teheran merasa telah menunjukkan itikad baik dan sikap bertanggung jawab demi mengupayakan perdamaian yang berkelanjutan.
Langkah damai ini diambil untuk memuluskan jalan menuju resolusi akhir penghentian perang yang dimulai sejak Februari lalu.
Namun, realita di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang sangat kontras dengan semangat perdamaian tersebut.
Hanya berselang sehari setelah pengumuman gencatan senjata, militer Israel meluncurkan serangan udara secara masif ke Lebanon.
Data dari Pertahanan Sipil Lebanon mencatat sedikitnya 254 nyawa melayang akibat serangan udara yang membabi buta.
Baca Juga: Iran Menang Besar! Netanyahu Diserang dari Dalam, Trump Mau Dilengserkan
Selain korban jiwa, tercatat ada 1.165 warga sipil lainnya yang mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil.
Perbedaan pandangan yang sangat tajam kini terjadi antara pihak Iran dan otoritas Israel terkait aturan main.
Pejabat Iran dan Pakistan bersikeras bahwa Lebanon secara otomatis terlindungi dalam payung perjanjian dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, pemerintah Israel justru mengklaim bahwa Lebanon bukan merupakan bagian dari objek gencatan senjata.
Ketidaksamaan persepsi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang yang jauh lebih besar di masa depan.
Iran kini dalam posisi bersiap untuk memberikan balasan militer guna menegakkan poin-poin yang mereka anggap sah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
AS - Israel Khianati Perjanjian dengan Bom Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
-
Gedung Putih: Proposal Iran Awalnya Dibuang ke Tempat Sampah oleh AS
-
Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?
-
Sidak BGN di Cimahi: Ada Dapur MBG yang Beroperasi Tanpa Pengawas Gizi
-
Misi Artemis II Hadapi Ujian Mematikan: Detik-Detik Menembus 'Neraka' Atmosfer Bumi
-
CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua
-
Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut
-
Sadis! Dokter di Hawaii Dorong Istri dari Tebing, Kesaksian Anak Jadi Kunci
-
Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?
-
Program Vokasi Nasional 2026 Resmi Bergulir, 10 Ribu Peserta Tahap I Mulai Pelatihan