-
Perundingan damai Iran dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan sehingga memicu ancaman serangan baru.
-
Menteri Israel mengancam akan menghancurkan infrastruktur nuklir Iran dan fasilitas strategis di wilayah Lebanon.
-
Israel dan Amerika Serikat berkomitmen penuh untuk mencegah kepemilikan senjata nuklir oleh pemerintah Teheran.
Pernyataan ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi internasional di masa depan.
Selain Iran Israel juga mengalihkan fokus operasional militer mereka ke arah wilayah kedaulatan Lebanon.
Eli Cohen mengusulkan agar tentara Tel Aviv memperluas cakupan serangan mereka hingga menyentuh fasilitas sipil.
Target serangan kali ini tidak hanya terbatas pada personel militer atau kelompok bersenjata Hizbullah semata.
Israel berambisi untuk melumpuhkan infrastruktur strategis Lebanon guna memberikan tekanan maksimal bagi keamanan dalam negeri mereka.
Langkah provokatif ini muncul meskipun ada rencana pertemuan diplomasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Washington DC.
Skeptisisme Terhadap Jalur Diplomasi
Kegagalan negosiasi sebelumnya membuat para menteri kabinet Israel meragukan keberhasilan dialog langsung di masa depan.
Pandangan pesimistis ini muncul di tengah persiapan pertemuan antara Tel Aviv dan Beirut untuk mengamankan gencatan senjata.
Baca Juga: Soal Isu Izin Terbang Militer AS di Wilayah Udara RI, DPR Minta Pemerintah Buka-Bukaan
Sentimen negatif terhadap jalur damai ini justru memperkuat dukungan internal untuk melanjutkan kampanye militer di lapangan.
Menteri Ekonomi Israel Nir Barkat menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki tekad yang sama kuat dalam konflik ini.
Nir Barkat menyatakan keyakinannya bahwa koordinasi antara Amerika Serikat dan Israel berada pada level tertinggi.
Pemerintah Israel percaya bahwa otoritas Iran belum memahami sepenuhnya keberanian kepemimpinan Donald Trump dan Netanyahu.
Persiapan untuk kembali ke medan laga telah dilakukan dengan perhitungan strategis yang sangat matang dan detail.
"Para pejabat Iran tidak memahami tekad Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kita akan kembali berperang dan mencapai tujuannya," kata Barkat.
Misi utama dari perang ini adalah penghancuran total terhadap ancaman militer Iran yang membayangi keamanan Israel.
Koordinasi Keamanan Washington Tel Aviv
Dukungan terhadap operasi militer juga datang dari Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Miki Zohar melalui pernyataan resminya.
Zohar menilai bahwa sinkronisasi antara Washington dan Tel Aviv sangat solid dalam mencegah ancaman nuklir Iran.
Pihaknya mengklaim bahwa segala upaya Iran untuk mendapatkan senjata nuklir akan dihadapi dengan kekuatan militer gabungan.
Ketegasan Amerika Serikat menjadi landasan utama bagi Israel untuk terus menekan Teheran melalui berbagai jalur strategis.
Koordinasi ini mencerminkan kepentingan bersama dalam menjaga dominasi keamanan di seluruh wilayah strategis Timur Tengah.
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh gagalnya negosiasi maraton selama 21 jam yang berlangsung di Islamabad Pakistan.
Pakistan yang bertindak sebagai mediator tidak berhasil menjembatani perbedaan kepentingan yang tajam antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya perang antara poros Amerika-Israel melawan Iran sempat berhenti sementara melalui gencatan senjata berdurasi dua minggu.
Namun kebuntuan di meja perundingan membuat kesepakatan damai tersebut kini berada di ujung tanduk kehancuran.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda pihak Iran bersedia melunak terhadap tuntutan penghentian program nuklir mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru