News / Nasional
Senin, 13 April 2026 | 17:53 WIB
Kondisi sekitar rumah pelaku Aep Saepudin (42), terduga pelaku peredaran senjata api ilegal di Rancasepat, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Senin (13/4/2026). ANTARA/Ilham Nugraha.
Baca 10 detik
  • Bareskrim Polri menangkap broker Aep Saepudin dan perakit senjata ilegal Tatang Sutardin alias Ki Bedil di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
  • Polisi menyita berbagai jenis senjata api, amunisi, serta alat perakitan senjata dari tangan kedua pelaku dalam operasi tersebut.
  • Ki Bedil memanfaatkan Aep untuk memasarkan senjata rakitan berkualitas tinggi melalui media sosial kepada pembeli.

Kasat Resmob Bareskrim Polri, Kombes Arsya Khadafi, mengungkap kemampuan Ki Bedil bukan hasil belajar otodidak, melainkan dari pengalamannya bekerja di industri legal.

"Ki Bedil alias saudara TS ini sebelumnya pernah bekerja di industri senjata angin di Cipacing, Jawa Barat," ujar Arsya, Senin (13/4/2026).

Breskrim Polri menangkap Tatang Sutardin alias "Ki Bedil" maestro pembuat senjata api (senpi) dan bahan peledak ilegal di Rancaekek, Jawa Barat. [Bareskrim Polri]

Nama Ki Bedil sendiri sudah lama masuk radar kepolisian. Ia pernah terlibat jaringan penjualan senpi ilegal di wilayah Cipacing, namun sempat lolos saat hendak ditangkap.

Sejak itu, Ki Bedil berubah menjadi sosok tertutup dan menggunakan Aep sebagai broker untuk memasarkan senjata, termasuk melalui media sosial.

"Dia menggunakan perantara AS, yang kemudian AS juga memperjualbelikan ini dengan menggunakan media sosial yang ada," jelas Arsya.

Di kalangan pelaku kejahatan, senjata rakitan Ki Bedil dikenal memiliki kualitas tinggi dan akurasi yang mendekati standar militer maupun kepolisian.

Dengan kualitas tersebut, harga senjata yang dijual pun tidak murah. Untuk senapan laras panjang dengan akurasi tinggi, banderolnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

"Ki Bedil ini adalah orang yang sudah cukup terkenal di kalangan para pelaku street crime dan juga pemburu ilegal, di mana hasil buatannya sangat baik, berfungsi dengan baik dan juga memiliki akurasi yang tinggi," pungkas Arsya. (Antara)

Baca Juga: Laporkan Saiful Mujani, MPSI: Jangan Coba-Coba Giring Publik Lengserkan Presiden di Luar Konstitusi

Load More