- Seorang balita berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran karena kerentanan tinggi terhadap suhu ekstrem.
- Ketua Umum IDAI menegaskan aktivitas mendaki gunung sangat berisiko bagi balita karena tubuh anak mudah kehilangan panas.
- IDAI menyarankan orang tua menghindari pendakian ekstrem dan lebih memilih lokasi alam yang aman serta mudah dievakuasi.
Suara.com - Kasus bayi berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat diajak mendaki Gunung Ungaran menuai perhatian publik. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa aktivitas ekstrem seperti mendaki gunung sangat berisiko bagi anak usia dini.
Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa keselamatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas luar ruang. Ia menyebut anak, terutama balita, memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan suhu.
“Bahwa anak-anak itu kan, apalagi kalau nggak salah 1,5 tahun umurnya ya? Itu anak sangat mudah kehilangan panas dibanding dewasa ya,” ujar Piprim saat sesi doorstop dalam acara Media Briefing IDAI di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, risiko semakin besar jika pendakian dilakukan dalam kondisi cuaca tidak menentu seperti hujan atau suhu ekstrem. Selain itu, medan gunung yang sulit juga menyulitkan proses evakuasi bila terjadi kondisi darurat.
“Apalagi kalau naik gunungnya jaraknya jauh, ada potensi hujan, kemudian evakuasinya juga lama. Ini tentu hal-hal yang harus dipikirkan sebelumnya,” lanjutnya.
Ia menyarankan orang tua untuk tidak membawa anak usia batita ke aktivitas ekstrem seperti pendakian gunung. Jika ingin mengenalkan alam, sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dalam kondisi yang aman.
“Lebih aman apabila mengajak batita atau balita itu kalaupun mau ke alam ya jangan yang ekstrem seperti gunung yang tinggi, mungkin sekadar hiking ringan tapi mudah diakses untuk evakuasi,” katanya.
Senada, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Yogi Prawira, menegaskan bahwa anak bukanlah “dewasa versi kecil” sehingga tidak bisa disamakan daya tahannya dengan orang tua.
Ia menjelaskan anak lebih rentan mengalami kehilangan cairan dan panas tubuh, terutama saat berada di lingkungan dingin atau saat aktivitas fisik berat.
Baca Juga: Alarm Merah Campak 2026: Mengapa Penyakit Kuno Ini Kembali Menghantui Indonesia?
“Anak-anak itu sangat mudah kehilangan cairan juga. Napasnya dia lebih sering dibandingkan orang dewasa. Pada saat kita bernapas, itu juga bisa kehilangan cairan dari situ, kehilangan panas juga dari situ,” jelasnya.
Dalam kondisi darurat seperti hipotermia, orang tua perlu memahami langkah penanganan awal, salah satunya metode skin-to-skin untuk menghangatkan tubuh anak.
“Bisa skin-to-skin, dibuka bajunya, tempelin kulit ke kulit, baru di luarnya pakai baju. Pastikan kering semua,” ujar Yogi.
Sementara itu, Ketua IDAI DKI Jakarta, Rismala Dewi, menegaskan tidak ada batas usia pasti bagi anak untuk mendaki gunung, namun anak di bawah usia tiga tahun tergolong sangat rentan.
“Di bawah 5 tahun, di bawah 3 tahun itu sangat rentan. Jadi persiapannya pasti harus lebih banyak lagi. Kalau misal tidak bisa memenuhi itu, ya jangan dulu,” pungkasnya.
Ia menambahkan kesiapan anak dan orang tua menjadi faktor utama, termasuk pemahaman terhadap tindakan preventif dan kemampuan menghadapi kondisi darurat.
Berita Terkait
-
Alarm Merah Campak 2026: Mengapa Penyakit Kuno Ini Kembali Menghantui Indonesia?
-
Pembatasan Medsos Anak Tak Cukup, IDAI Soroti Peran Orang Tua dan Kesenjangan Pendampingan
-
Dukung PP TUNAS, IDAI Setuju Pembatasan Usia Pengguna Media Sosial bagi Anak
-
Wajib Vaksin Sebelum Mudik Lebaran! IDAI Ingatkan Risiko Campak Meningkat Saat Libur Panjang
-
6 Barang Wajib di Travel Kit Lebaran untuk Ibu yang Membawa Balita
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Sebut Rencana Pramono Anung Ini 'Lucu', Kevin Wu PSI: Rakyat Bisa Antipati ke Partai Politik
-
JK Diserang Usai Senggol Ijazah Jokowi, Jubir Bongkar Motif Upaya Pembungkaman
-
Dapat Kejutan Ultah di DPR, Titiek Soeharto Senyum-senyum Ditanya Ucapan 'Spesial' dari Prabowo
-
PSI Usul Cara Lain Tambah PAD Jakarta, Tak Perlu Jual Nama Halte ke Parpol
-
Perkuat Otot Militer, RI-AS Resmi Bentuk MDCP: Fokus Teknologi Bawah Laut
-
Iran Desak PBB Beri Sanksi Ganti Rugi Materiil dari Bahrain Hingga Yordania
-
Minyak Dunia Tembus USD 110, Subsidi RI Terancam Bengkak Rp79 Triliun
-
Profil Pete Hegseth: Menteri Perang AS yang 'Membenci' Islam, Punya Tato Kafir
-
Sambil Menangis, Aboe Bakar PKS Minta Maaf ke Ulama dan Warga Madura Terkait Isu Narkoba
-
3 Jejak Kotor Pete Hegseth Si Dewa Perang yang Doyan Mabuk dan Terjerat Skandal Seks