-
Amerika Serikat menerapkan blokade laut total di pelabuhan Iran untuk melumpuhkan ekonomi Teheran.
-
Strategi ini dianggap lebih aman bagi militer AS dibandingkan konfrontasi langsung di Selat Hormuz.
-
China dan pasar minyak global terancam dampak besar akibat terhentinya pasokan energi Iran.
Pencegatan kapal tanker di Samudra Atlantik sebelumnya telah menunjukkan bahwa jangkauan intervensi Amerika tidak terbatas pada satu wilayah saja.
Komando Pusat AS (Centcom) menegaskan bahwa aturan ini akan berlaku secara menyeluruh tanpa memandang bendera negara asal kapal tersebut.
Blokade "akan ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau berangkat dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran."
Meski demikian, kapal yang menuju pelabuhan non-Iran tetap diberikan izin untuk melintas tanpa gangguan militer.
Logistik yang membawa bantuan kemanusiaan tetap diizinkan lewat, namun tetap harus melewati prosedur pemeriksaan yang sangat ketat.
"Tunduk pada pemeriksaan," ungkap Centcom mengenai pengecualian bagi kapal pembawa bahan kebutuhan pokok dan bantuan medis.
Pertaruhan Ketahanan Ekonomi Iran
Efektivitas blokade ini masih menjadi perdebatan besar mengingat Iran telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa selama masa perang.
Teheran selama ini masih mampu meraup miliaran dolar dari ekspor petrokimia meskipun berada di bawah tekanan serangan militer dan sanksi.
Baca Juga: Lakukan Penistaan Gegara Foto Yesus, Donald Trump Bela Diri Salahkan Media
Blokade total diharapkan dapat menguras cadangan devisa Iran dan melemahkan struktur ekonomi domestik mereka secara signifikan.
Namun, David Satterfield, mantan utusan khusus AS untuk urusan kemanusiaan Timur Tengah, meragukan apakah langkah ini akan membuat Iran menyerah.
"Mereka percaya bahwa mereka dapat melampaui ini," kata David Satterfield kepada BBC.
Satterfield menambahkan bahwa Iran mengandalkan tekanan global akibat lonjakan harga minyak untuk memaksa Amerika Serikat menghentikan blokadenya.
"Bahwa AS akan merasakan sakit dari harga minyak dan bahwa negara-negara Teluk akan menekan AS, pada akhirnya, untuk membuka kembali Selat tersebut," ujarnya.
Washington dinilai seringkali meremehkan keteguhan hati para pemimpin di Teheran dalam menghadapi tekanan ekonomi yang ekstrem.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
Terkini
-
Polling, Warga Israel Mulai Capek Sama Perang: Putus Asa Bingung, dan Marah
-
Lebanon Tegaskan Negosiasi Gencatan Senjata Sendiri dengan Israel, Tak Terkait Iran dan AS
-
Ketika Tuhan Dihina, Klimaks Blunder Gambar Yesus Donald Trump
-
Kelakuan Zionis! Militer Israel Tewaskan 3 Warga Gaza, Puluhan Ditangkap di Tepi Barat
-
Seenaknya Blokade Selat Hormuz, Iran Sebut AS Seperti Perompak di Mata Dunia
-
Benjamin Netanyahu Koar-koar Sebut Israel Serang Iran Demi Cegah Holocaust Kedua
-
Tak Cukup Andalkan Polisi, Sosiolog Dorong Warga Jakarta Kompak Lawan Premanisme
-
Lakukan Penistaan Gegara Foto Yesus, Donald Trump Bela Diri Salahkan Media
-
Panduan Lengkap IDAI: Cara Benar Menangani Anak Tersedak dan Teknik RJP untuk Orang Awam
-
Iran Tertawakan Blokade AS di Selat Hormuz: Mereka akan Rindukan Harga Bensin 4 Dolar