- Presiden ke-6 RI SBY dan pengamat ekonomi Widarta memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah memicu krisis ekonomi dunia.
- Pelemahan rupiah di atas asumsi APBN 2026 menyebabkan kenaikan harga barang impor serta menekan daya beli masyarakat.
- Widarta menyarankan pemerintah memperkuat UMKM dan menyalurkan bantuan sosial untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dari gejolak.
Suara.com - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap perekonomian dunia di tengah situasi geopolitik global yang masih memanas. Jika perang tak segera usai, dikhawatirkan ekonomi dunia akan semakin buruk.
Merespons pernyataan itu, Pengamat Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Widarta menilai eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat memang berpotensi kuat memicu krisis ekonomi dunia. Bahkan ia menyebut kini dampaknya sudah mulai terasa di Indonesia.
"Jadi memang ini (perang di Timur Tengah) berpotensi sekali untuk memacu krisis ekonomi dunia, bahkan Indonesia pun sekarang sudah terasa ya," ujar Widarta kepada Suara.com, Rabu (15/4/2026).
Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi UMBY itu menyoroti tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang telah melampaui asumsi makro APBN 2026. Menurutnya, posisi dolar yang sempat menyentuh angka Rp17.136 telah menciptakan selisih besar dari prediksi pemerintah di kisaran Rp16.500.
Kondisi ini dipastikan akan menambah beban berat pada APBN serta memicu kenaikan harga barang impor yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat kecil. Ia mencontohkan impor kedelai yang sangat berpotensi terdampak.
"Coba bayangkan apa yang dilakukan oleh produsen (kalau harga impor naik). Satu, karena harganya impornya naik, harganya pasti akan dinaikkan atau harga tidak naik di tingkat konsumen tetapi barangnya dikecilkan. Tahu, tempe itu yang kena masyarakat," ungkapnya.
Lebih lanjut, Widarta menjelaskan bahwa efek domino dari kenaikan biaya produksi dan impor ini akan berujung pada rasionalisasi di sektor industri manufaktur maupun UMKM.
Hal ini mengancam kesejahteraan pekerja melalui pengurangan tenaga kerja atau pemotongan gaji. Kondisi itu pada akhirnya melumpuhkan daya beli masyarakat secara global.
"Daya beli akan turun berarti efeknya adalah secara global kalau orang enggak punya duit untuk membeli ya untuk apa kan begitu," ujarnya.
Baca Juga: Minyak Dunia Tembus USD 110, Subsidi RI Terancam Bengkak Rp79 Triliun
Terkait perbandingan dengan krisis finansial global 2008 yang sempat disinggung SBY, Widarta menilai situasi saat ini jauh lebih kompleks, mengingat ancamannya sudah merambah ke jalur logistik vital seperti Selat Hormuz.
Terganggunya jalur tersebut akan mengakibatkan stabilitas energi dunia kacau. Terlebih sebesar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut.
"Dampak ekonomi global, SBY sudah mengingatkan bahwa jika konflik Timur Tengah berlanjut maka perekonomian dunia bisa dalam kondisi yang sangat buruk. Itu karena jelas rantai pasokan akan terganggu, volatilitas harga energi yang dapat menyebabkan semua terkena termasuk APBN kita," tegasnya.
Untuk menghadapi ancaman ini, Widarta menyarankan pemerintah belajar dari sejarah krisis 1998 dan masa pandemi Covid-19, dalam hal ini berfokus pada ekonomi kerakyatan dan UMKM menjadi benteng pertahanan utama.
Ia menekankan perlunya memperkuat sektor-sektor yang tidak memiliki ketergantungan tinggi terhadap dolar AS agar ekonomi domestik tetap berjalan di tengah gejolak global.
"Kita bertahan dengan apa yaitu dengan memperkuat ekonomi internal, ekonomi kerakyatan, memperkuat UMKM. Jadi banyak UMKM kita yang ternyata tidak tergantung pada dolar," ucapnya.
Sebagai langkah konkret jangka pendek, Widarta turut mendesak pemerintah untuk melakukan intervensi langsung guna menjaga daya beli masyarakat. Bisa dilakukan dengan penyaluran dana-dana sosial dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang segera dicairkan.
"Dana-dana sosial dari pemerintah ya yang mau diberikan sebaiknya segera dikucurkan untuk menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah juga harus mampu menjaga isu-isu yang memang cenderung akan membuat masyarakat itu resah misalnya panic buying," tandasnya.
Berita Terkait
-
Minyak Dunia Tembus USD 110, Subsidi RI Terancam Bengkak Rp79 Triliun
-
Malaysia di Ambang Krisis BBM
-
Malaysia Mulai Krisis BBM Juni 2026, Bagaimana dengan Indonesia?
-
Prabowo Temui Putin di Tengah Krisis Global, Pakar: Langkah Krusial Amankan Energi RI
-
Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Qalibaf: Nikmati Harga Bensin Saat Ini
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas