- Katredha Lodo, nelayan perempuan di Pantai Walakiri, Sumba, berhasil memasarkan hasil tangkapan laut secara daring melalui TikTok Live.
- Inovasi pemasaran digital tersebut terbukti efektif memperluas jangkauan pasar hingga ke berbagai restoran lokal di wilayah Sumba.
- Mama Redha melakukan diversifikasi ekonomi melalui modal usaha dari Amartha untuk membuka warung kelontong guna menjaga kestabilan pendapatan.
Suara.com - Indonesia sebagai negara maritim memiliki kekayaan laut yang melimpah, menjadikannya tumpuan hidup bagi jutaan nelayan di berbagai pelosok nusantara.
Di kawasan wisata Pantai Walakiri, Sumba, Nusa Tenggara Timur, muncul sosok unik yang mendobrak kebiasaan tradisional dalam menjual hasil tangkapan laut.
Katredha Lodo, seorang perempuan berusia 32 tahun, membuktikan bahwa profesi nelayan tidak hanya didominasi oleh laki-laki dan cara-cara konvensional.
Perempuan yang akrab disapa Mama Redha ini telah aktif melaut sejak usia belia. Setiap harinya, ia bergelut dengan ombak untuk mencari berbagai jenis hasil laut seperti ikan, gurita, siput gonggong, sayur laut, hingga kerang.
Teknik yang digunakannya pun tergolong tradisional namun membutuhkan keahlian khusus, yakni menggunakan tombak besi saat kondisi air laut sedang surut.
Mama Redha membagikan kisahnya menjadi nelayan perempuan di pantai Walakiri, Sumba, Nusa Tenggara Timur.
“Laut sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup saya. Sejak kecil, saya sudah diajak melaut oleh ayah saya, mencari siput, gurita, ikan, dan lain-lain untuk kami jual ke rumah makan atau konsumsi harian masyarakat di sini”, ungkap Mama Redha.
Dari Tombak Besi ke TikTok Live
Aktivitas melaut Mama Redha sangat bergantung pada alam. Dalam satu minggu, ia rata-rata mampu memperoleh tangkapan sebanyak 9 hingga 10 kilogram.
Baca Juga: Kualitas Air Terjaga, Nelayan Halmahera Penuhi Kebutuhan Gizi Karyawan Harita Nickel
Namun, jadwal melautnya tidak pernah menentu karena sangat dipengaruhi oleh siklus bulan yang menentukan pasang surut air laut.
Di saat air laut pasang dan tidak memungkinkan untuk melaut, Mama Redha mengalihkan fokusnya pada strategi penjualan.
Inovasi muncul ketika Mama Redha mulai memanfaatkan teknologi digital. Ia tercatat sebagai nelayan perempuan pertama di wilayahnya yang menjual hasil tangkapan melalui media sosial.
Langkah itu awalnya dimulai secara tidak sengaja melalui sebuah unggahan sederhana.
“Awalnya saya tidak bermaksud menjual di media sosial. Siang itu, saya hanya memfoto saja tangkapan saya. Lalu saya tuliskan caption, Berkat dari laut hari ini. Ternyata banyak warga yang akhirnya tertarik dan justru ingin membeli. Sejak itu, saya jadi memakai media sosial untuk menjual hasil laut”, ungkap Mama Redha.
Keberhasilan tersebut mendorongnya untuk belajar secara otodidak. Kini, Mama Redha tidak hanya mengunggah foto, tetapi juga aktif sebagai streamer melalui fitur TikTok Live untuk menjajakan tangkapannya secara langsung.
Berita Terkait
-
Tak Kenal Menyerah, Ibu Anastasya Buktikan Setiap Perjuangan Layak Ditemani
-
Kualitas Air Terjaga, Nelayan Halmahera Penuhi Kebutuhan Gizi Karyawan Harita Nickel
-
Petualangan Anak Natuna, Kisah Tiga Detektif Cilik Menangkap Penjahat
-
Ritual Laut Semana Santa Warnai Jumat Agung di Larantuka
-
Motor Ekonomi Baru, Kampung Nelayan Bisa Produksi hingga 2,15 Juta Ton Ikan per Tahun
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Legislator Golkar Tagih Revisi UU Pemilu: Banyak Putusan MK Mendesak Segera Ditindaklanjuti
-
Ketegangan di Yerusalem Meningkat usai Pemasangan Pintu Besi di Kawasan Bersejarah
-
Di Balik Layar OTT KPK: Membongkar Gurita Sindikasi 'Jatah Preman' Kepala Daerah Lewat Ajudan
-
Menteri PPPA: Hentikan Normalisasi Candaan Merendahkan Martabat Perempuan
-
Revisi UU Pemilu Masuk Tahap Awal, Anggota Komisi II DPR Beberkan 10 Isu yang Akan Dikaji
-
22 Tahun Digantung DPR, Aktivis Sebut Penundaan RUU PPRT Sebagai Ujian Moral Bangsa
-
Menkes Budi Bongkar Jutaan Orang Kaya Nikmati Subsidi BPJS: Demi Keadilan Kita Hapus!
-
Hasil Studi IHDC: 1 dari 5 Anak Jakarta Alami Gangguan Memori Akibat Anemia
-
Rekrutmen Nasional 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Resmi Dibuka, Ini Syaratnya
-
Rismon Bantah Terima Uang Damai Kasus Ijazah Jokowi, Sebut Tuduhan Tak Masuk Akal