Suara.com - Momentum Hari Nelayan Nasional yang diperingati setiap 6 April menjadi refleksi penting atas peran nelayan, termasuk di Pulau Obi, dalam menjaga produktivitas laut sekaligus menopang kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Di wilayah ini, aktivitas melaut tetap berlangsung rutin dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Di Desa Soligi, Halmahera Selatan, nelayan secara konsisten menangkap berbagai jenis ikan seperti kerapu, kakap, baronang, tuna, dan cakalang untuk kemudian ditimbang dan dipasarkan. Aktivitas ini berjalan beriringan dengan terbukanya akses pasar yang lebih terstruktur melalui kelompok Sentra Usaha Tani Nelayan (SUTAN).
Melalui skema tadi, hasil tangkapan nelayan mulai terserap untuk memenuhi kebutuhan konsumsi karyawan Harita Nickel. Sepanjang 2024, kelompok nelayan SUTAN di Soligi tercatat menyalurkan lebih dari 24 ton ikan ke kantin-kantin karyawan, dengan kapasitas pasokan berkisar antara 1 hingga 2 ton per bulan.
“Skema ini membuka akses pasar yang lebih terstruktur bagi nelayan,” ujar Broto Suwarso, Community Development Manager Harita Nickel.
Bagi nelayan, pola penyerapan ini menjadi perubahan dari sebelumnya, di mana hasil tangkapan hanya dipasarkan secara terbatas. Kini, hasil tangkapan dapat disalurkan secara lebih teratur.
Momentum Hari Nelayan Nasional juga menjadi ruang refleksi untuk melihat hubungan antara laut, nelayan, dan arah pembangunan di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Di tengah berbagai diskursus publik mengenai industri nikel dan potensi dampaknya terhadap lingkungan, aktivitas nelayan di lapangan tetap berlangsung rutin dan produktif.
Nelayan Desa Soligi yang tergabung dalam kelompok SUTAN masih melaut secara konsisten dan memperoleh hasil tangkapan yang baik. Ikan-ikan seperti kerapu, kakap, baronang, tuna, hingga cakalang menjadi komoditas utama yang tidak hanya dipasarkan ke pasar lokal, tetapi juga menjadi pasokan bahan pangan bagi ribuan karyawan Harita Nickel. Praktik ini memperlihatkan keterlibatan langsung nelayan lokal dalam mendukung kebutuhan operasional perusahaan melalui rantai pasok berbasis masyarakat.
Sebagian hasil tangkapan nelayan bahkan secara rutin diserap oleh perusahaan sebagai bahan konsumsi karyawan, memperkuat peran nelayan sebagai mitra ekonomi lokal. Program SUTAN juga memberikan pendampingan kepada kelompok nelayan melalui peningkatan standar kualitas ikan, manajemen kelompok, hingga penguatan akses distribusi hasil tangkapan.
Dukungan dalam penanganan pascapanen, termasuk penggunaan es dan rencana pembangunan fasilitas cold storage, membantu menjaga kesegaran ikan sekaligus meningkatkan nilai jual hasil tangkapan. Dengan sistem ini, nelayan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penjualan harian dan memiliki fleksibilitas dalam menentukan waktu pemasaran hasil laut.
Baca Juga: DJKI dan BRIN Dorong UMKM Bali Lindungi Kekayaan Intelektual
Produktivitas nelayan lokal yang mampu memasok kebutuhan perusahaan Harita Nickel tidak terlepas dari kondisi perairan Obi yang dinilai masih mendukung kehidupan biota laut. Sejumlah kajian akademik menunjukkan kualitas lingkungan laut di wilayah tersebut berada dalam kondisi yang baik.
Penelitian yang melibatkan akademisi kelautan mencatat parameter kualitas air laut seperti pH, Biological Oxygen Demand (BOD), serta tingkat kekeruhan masih berada dalam standar baku mutu lingkungan. Kondisi ini menunjukkan ekosistem pesisir tetap mampu menopang kehidupan organisme laut dan aktivitas perikanan masyarakat.
Prof. M. Janib Achmad menyebut hasil observasi lapangan memperlihatkan kualitas air yang sesuai baku mutu mendukung pola ekologi perairan yang stabil serta keberlanjutan biota laut di sekitar Pulau Obi. Temuan ini sekaligus menjadi indikator bahwa aktivitas nelayan yang terus berjalan memiliki basis ekologis yang tetap terjaga.
Temuan senada juga disampaikan Prof. Dr. Ir. Etty Riani melalui penelitian yang menguji sampel air dan ikan dari sejumlah lokasi di Maluku Utara, termasuk Pulau Obi. Hasil uji laboratorium menunjukkan kondisi perairan Obi, baik di sekitar area pertambangan maupun di luar area, berada dalam kategori relatif baik.
Penelitian ini menganalisis kandungan logam berat seperti nikel (Ni) dan besi (Fe), serta melakukan pengamatan terhadap organ ikan untuk melihat potensi dampak kontaminasi. Hasilnya menunjukkan kandungan logam berat masih dalam tingkat yang dapat ditoleransi dan tidak serta-merta menjadikan ikan tidak layak konsumsi.
Menurut Prof. Etty, keamanan konsumsi ikan sangat bergantung pada konsentrasi kandungan, frekuensi konsumsi, serta kemampuan tubuh dalam memproses logam berat. Dalam konteks penelitian tadi, ikan hasil tangkapan dari wilayah kajian dinilai masih aman dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
Rangkaian temuan ilmiah ini memperkuat gambaran bahwa dinamika laut di Pulau Obi tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang saja. Pengalaman nelayan yang tetap memperoleh hasil tangkapan produktif di lapangan berjalan beriringan dengan hasil kajian akademik yang menunjukkan kondisi perairan masih mendukung keberlanjutan ekosistem.
Dengan demikian, peran nelayan Pulau Obi melalui program SUTAN tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi lokal, akan tetapi mencerminkan hubungan yang saling terhubung antara keberlanjutan lingkungan laut dan penguatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dukungan pembinaan dan akses pasar membuat nelayan lokal kini menjadi pemasok tetap kebutuhan konsumsi karyawan Harita Nickel, sekaligus menunjukkan bagaimana aktivitas industri dan produktivitas nelayan dapat berjalan berdampingan dalam ekosistem yang tetap terjaga.***
Berita Terkait
-
DJKI dan BRIN Dorong UMKM Bali Lindungi Kekayaan Intelektual
-
BRI Dorong UMKM Desa Hendrosari Lewat Program Desa BRILiaN dan Wisata Lontar Sewu
-
BRI Perkuat UMKM: Dari Modal Rp250 Ribu, Usaha Kuliner Ayam Panggang Bu Setu Sudah Bergulir 35 Tahun
-
Harita Nickel Tingkatkan Kualitas Pendidikan Pulau Obi Melalui Revitalisasi Sekolah
-
Cara Harita Nickel Gerakkan Roda Ekonomi Kerakyatan
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 7 Sunscreen Tone Up Terbaik untuk Kulit Kusam sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Butuh Kesempatan Kerja yang Setara, Fajeri di JobFair Jaksel: Padahal Difabel Ada yang Mampu Juga
-
Jelang Muktamar PBNU, Gus Ipul Tegaskan Tak Semua PWNU-PCNU Punya Hak Pilih
-
Saat Stadion Tak Lagi Ramai, DPRD Usul Lahan Kamal Muara Disulap Jadi SMA Negeri
-
Kasus TPA Jatiwaringin: Mengapa Kebakaran TPA Terus Berulang, Apa Sebenarnya Akarnya?
-
Viral Perempuan Disabilitas Melahirkan, Polisi Buru Terduga Pelaku Rudapaksa di Jagakarsa
-
Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Melawan Vonis 10 Tahun, Nadiem Makarim Resmi Serahkan Memori Banding
-
Dilema Anak Muda RI: Tetap Ingin Menikah tapi Tercekik Beban Ekonomi dan Rumah Mahal
-
Kejagung Bongkar Akal-Akalan Ekspor Logam Tanah Jarang, Dua Pengiriman Diduga Sudah Lolos