News / Nasional
Kamis, 09 April 2026 | 09:09 WIB
Nelayan Desa Soligi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, membawa hasil tangkapan dari laut (Dok: Harita Nickel)

Suara.com - Momentum Hari Nelayan Nasional yang diperingati setiap 6 April menjadi refleksi penting atas peran nelayan, termasuk di Pulau Obi, dalam menjaga produktivitas laut sekaligus menopang kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Di wilayah ini, aktivitas melaut tetap berlangsung rutin dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.

Di Desa Soligi, Halmahera Selatan, nelayan secara konsisten menangkap berbagai jenis ikan seperti kerapu, kakap, baronang, tuna, dan cakalang untuk kemudian ditimbang dan dipasarkan. Aktivitas ini berjalan beriringan dengan terbukanya akses pasar yang lebih terstruktur melalui kelompok Sentra Usaha Tani Nelayan (SUTAN).

Melalui skema tadi, hasil tangkapan nelayan mulai terserap untuk memenuhi kebutuhan konsumsi karyawan Harita Nickel. Sepanjang 2024, kelompok nelayan SUTAN di Soligi tercatat menyalurkan lebih dari 24 ton ikan ke kantin-kantin karyawan, dengan kapasitas pasokan berkisar antara 1 hingga 2 ton per bulan.

“Skema ini membuka akses pasar yang lebih terstruktur bagi nelayan,” ujar Broto Suwarso, Community Development Manager Harita Nickel.

Bagi nelayan, pola penyerapan ini menjadi perubahan dari sebelumnya, di mana hasil tangkapan hanya dipasarkan secara terbatas. Kini, hasil tangkapan dapat disalurkan secara lebih teratur.

Program SUTAN membantu nelayan Desa Soligi di Pulau Obi untuk membuka akses pasar yang lebih stabil dan berkelanjutan 

Momentum Hari Nelayan Nasional juga menjadi ruang refleksi untuk melihat hubungan antara laut, nelayan, dan arah pembangunan di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Di tengah berbagai diskursus publik mengenai industri nikel dan potensi dampaknya terhadap lingkungan, aktivitas nelayan di lapangan tetap berlangsung rutin dan produktif.

Nelayan Desa Soligi yang tergabung dalam kelompok SUTAN masih melaut secara konsisten dan memperoleh hasil tangkapan yang baik. Ikan-ikan seperti kerapu, kakap, baronang, tuna, hingga cakalang menjadi komoditas utama yang tidak hanya dipasarkan ke pasar lokal, tetapi juga menjadi pasokan bahan pangan bagi ribuan karyawan Harita Nickel. Praktik ini memperlihatkan keterlibatan langsung nelayan lokal dalam mendukung kebutuhan operasional perusahaan melalui rantai pasok berbasis masyarakat.

Sebagian hasil tangkapan nelayan bahkan secara rutin diserap oleh perusahaan sebagai bahan konsumsi karyawan, memperkuat peran nelayan sebagai mitra ekonomi lokal. Program SUTAN juga memberikan pendampingan kepada kelompok nelayan melalui peningkatan standar kualitas ikan, manajemen kelompok, hingga penguatan akses distribusi hasil tangkapan.

Dukungan dalam penanganan pascapanen, termasuk penggunaan es dan rencana pembangunan fasilitas cold storage, membantu menjaga kesegaran ikan sekaligus meningkatkan nilai jual hasil tangkapan. Dengan sistem ini, nelayan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penjualan harian dan memiliki fleksibilitas dalam menentukan waktu pemasaran hasil laut.

Baca Juga: DJKI dan BRIN Dorong UMKM Bali Lindungi Kekayaan Intelektual

Produktivitas nelayan lokal yang mampu memasok kebutuhan perusahaan Harita Nickel tidak terlepas dari kondisi perairan Obi yang dinilai masih mendukung kehidupan biota laut. Sejumlah kajian akademik menunjukkan kualitas lingkungan laut di wilayah tersebut berada dalam kondisi yang baik.

Observasi biota laut di perairan sekitar Pulau Obi

Penelitian yang melibatkan akademisi kelautan mencatat parameter kualitas air laut seperti pH, Biological Oxygen Demand (BOD), serta tingkat kekeruhan masih berada dalam standar baku mutu lingkungan. Kondisi ini menunjukkan ekosistem pesisir tetap mampu menopang kehidupan organisme laut dan aktivitas perikanan masyarakat.

Prof. M. Janib Achmad menyebut hasil observasi lapangan memperlihatkan kualitas air yang sesuai baku mutu mendukung pola ekologi perairan yang stabil serta keberlanjutan biota laut di sekitar Pulau Obi. Temuan ini sekaligus menjadi indikator bahwa aktivitas nelayan yang terus berjalan memiliki basis ekologis yang tetap terjaga.

Temuan senada juga disampaikan Prof. Dr. Ir. Etty Riani melalui penelitian yang menguji sampel air dan ikan dari sejumlah lokasi di Maluku Utara, termasuk Pulau Obi. Hasil uji laboratorium menunjukkan kondisi perairan Obi, baik di sekitar area pertambangan maupun di luar area, berada dalam kategori relatif baik.

Penelitian ini menganalisis kandungan logam berat seperti nikel (Ni) dan besi (Fe), serta melakukan pengamatan terhadap organ ikan untuk melihat potensi dampak kontaminasi. Hasilnya menunjukkan kandungan logam berat masih dalam tingkat yang dapat ditoleransi dan tidak serta-merta menjadikan ikan tidak layak konsumsi.

Nelayan menimbang ikan hasil tangkapan di Desa Soligi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara

Menurut Prof. Etty, keamanan konsumsi ikan sangat bergantung pada konsentrasi kandungan, frekuensi konsumsi, serta kemampuan tubuh dalam memproses logam berat. Dalam konteks penelitian tadi, ikan hasil tangkapan dari wilayah kajian dinilai masih aman dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

Load More