- Katredha Lodo, nelayan perempuan di Pantai Walakiri, Sumba, berhasil memasarkan hasil tangkapan laut secara daring melalui TikTok Live.
- Inovasi pemasaran digital tersebut terbukti efektif memperluas jangkauan pasar hingga ke berbagai restoran lokal di wilayah Sumba.
- Mama Redha melakukan diversifikasi ekonomi melalui modal usaha dari Amartha untuk membuka warung kelontong guna menjaga kestabilan pendapatan.
Strategi ini terbukti efektif memperluas jangkauan pasar hingga ke restoran-restoran lokal di Sumba.
Melawan Stigma dan Tantangan
Perjalanan Mama Redha di dunia digital tidak sepenuhnya mulus. Ia sempat menghadapi komentar negatif dari lingkungan sekitar yang meragukan keputusannya berjualan hasil laut yang identik dengan bau amis di platform media sosial.
“Saya pernah diejek orang saat berjualan. Dia bilang, masa perempuan cantik jualan produk yang berbau amis di media sosial? Tapi saya pikir, untuk apa saya malu menjual hasil laut di media sosial? Saya yakin produk ini segar dan terbukti, permintaan selalu ada. Setiap saya posting dan live, semua tangkapan pasti laku terjual”, kenang Mama Redha.
Meskipun permintaan pasar terus meningkat berkat promosi digital, kendala ketersediaan stok tetap menjadi tantangan utama. Faktor alam tetap menjadi penentu utama jumlah tangkapan yang bisa ia tawarkan kepada pelanggan setianya.
“Terkadang malah saya yang tidak bisa memenuhi permintaan, karena tangkapan laut sangat dipengaruhi oleh pasang surut air lautnya. Jadi sering kali stoknya habis padahal permintaan tinggi”, ungkap Mama Redha.
Diversifikasi Ekonomi
Menyadari bahwa ketergantungan pada hasil laut memiliki risiko ketidakpastian pendapatan, Mama Redha memutuskan untuk melakukan diversifikasi usaha.
Pada tahun 2024, ia bergabung menjadi mitra Amartha, sebuah perusahaan fintech lending, untuk mendapatkan akses permodalan.
Baca Juga: Kualitas Air Terjaga, Nelayan Halmahera Penuhi Kebutuhan Gizi Karyawan Harita Nickel
Ia memperoleh pinjaman modal sebesar lima juta rupiah yang seluruhnya dialokasikan untuk membuka warung kelontong sebagai pendapatan sampingan.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga saat kondisi laut tidak memungkinkan untuk mencari ikan.
“Karena hasil laut tidak terlalu stabil dan sangat dipengaruhi oleh gerak bulan, saya berpikir untuk memiliki pendapatan sampingan dengan membuka warung kelontong. Untung saja ada Amartha, yang mau meminjamkan modal tanpa agunan. Sekarang saya jadi punya warung kelontong”, jelas Mama Redha.
Sebelumnya, Mama Redha sempat mencoba mengakses pinjaman dari lembaga keuangan lain, namun ia kerap terbentur kendala administratif yang rumit serta beban bunga yang dianggap terlalu tinggi.
“Saya bersyukur dapat mengenal fintech Amartha. Saya bisa mendapatkan modal tanpa agunan, persyaratannya mudah, dan kita bisa tambah terus plafon pinjaman kalau kita disiplin dalam melakukan pembayaran. Petugas Amartha juga sangat ramah. Jadi saya sangat terbantu”, beber Mama Redha.
Mimpi Membangun Kuliner Lokal
Sebelum fokus menjadi nelayan, Mama Redha sempat bekerja di pabrik cengkeh sebagai tim monitoring pertumbuhan.
Namun, pekerjaan tersebut berdampak buruk pada kesehatannya hingga ia menderita batu ginjal dan sering sakit-sakitan. Keputusannya untuk kembali ke laut ternyata membawa dampak positif bagi kondisi fisiknya.
“Mungkin saya memang tak boleh berpisah dari laut. Setelah kembali menjadi nelayan, saya tidak pernah sakit. Padahal angin laut dan ombak bisa saja membuat sakit, kan?," ujar Mama Redha sembari tertawa.
Keberhasilan dari kombinasi melaut, berjualan di media sosial, dan mengelola warung kelontong telah membuahkan hasil nyata. Mama Redha kini telah memiliki sepeda motor sendiri dan berhasil membangun rumah permanen dari beton.
Ke depan, ia memiliki ambisi untuk mengembangkan potensi kuliner di Pantai Walakiri.
“Cita-cita saya, ingin punya warung makan seafood sendiri. Dari hasil tangkapan laut yang segar, dan dimasak dengan bumbu lokal”, tambah Mama Redha.
Berita Terkait
-
Tak Kenal Menyerah, Ibu Anastasya Buktikan Setiap Perjuangan Layak Ditemani
-
Kualitas Air Terjaga, Nelayan Halmahera Penuhi Kebutuhan Gizi Karyawan Harita Nickel
-
Petualangan Anak Natuna, Kisah Tiga Detektif Cilik Menangkap Penjahat
-
Ritual Laut Semana Santa Warnai Jumat Agung di Larantuka
-
Motor Ekonomi Baru, Kampung Nelayan Bisa Produksi hingga 2,15 Juta Ton Ikan per Tahun
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Bukan Buang Duit, Ini Alasan Sewa Mobil Dinas Tangsel Lebih Hemat Ketimbang Beli
-
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Redam Friksi Kasus Febrie Adriansyah
-
Terungkap! Motif Siswa Padang Ledakkan Bom, Dendam Dibully Sejak SD
-
Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya
-
Tragedi di Balik Tembok Pesantren: Mengurai Kasus Santri Dibakar di Lombok
-
Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027
-
Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari
-
Menhut Raja Juli Soal Inpres Gajah: 9 Menteri Wajib Jaga Habitat Nona Seroja dan Bang Domang
-
Legislator PDIP Tegaskan RUU Perampasan Aset Jalan Terus: Kita Geber Sampai Sah!
-
Teror Bom di SD Srengseng, Wakil Ketua Komisi X Desak Polisi Usut Tuntas