News / Nasional
Rabu, 15 April 2026 | 13:51 WIB
Gelombang massa dari Partai Nasdem gruduk kantor Tempo di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada Selasa (14/4/2026). (Suara.com/Faqih)
Baca 10 detik
  • Elite Partai NasDem memprotes sampul dan isi laporan Majalah Tempo mengenai wacana merger dengan Partai Gerindra.
  • Kader NasDem menggelar aksi unjuk rasa di kantor Tempo pada Selasa (14/4) menuntut permohonan maaf terbuka.
  • NasDem menilai istilah merger merendahkan Surya Paloh serta menegaskan tidak ada pembahasan peleburan partai di internal.

Di sisi lain, Iskandar juga membantah wacana tersebut. Menurutnya, istilah merger dianggap merendahkan Ketua Umum DPP NasDem, Surya Paloh.

Aspirasi itu disampaikan langsung oleh perwakilan kader dari berbagai daerah di Sumut yang datang ke Medan.

Lagi pula, menurut dia, hingga saat ini tak ada pembahasan terkait peleburan atau penggabungan NasDem dengan partai lain, termasuk Gerindra. Iskandar menegaskan NasDem didirikan sebagai wadah perjuangan politik, bukan untuk diperjualbelikan.

"Tapi memang tidak ada pembicaraan bahwasanya NasDem itu akan dilebur, akan diakuisisi, atau dibeli oleh pihak-pihak lain. NasDem didirikan bukan untuk dijual, tapi memperjuangkan rakyat Indonesia melalui seluruh kader yang ada di Partai NasDem," ujarnya.

Aksi massa yang berlangsung di depan kantor Tempo menjadi puncak dari akumulasi kekecewaan para kader di akar rumput.

Mereka menilai visualisasi yang ditampilkan dalam sampul majalah tersebut tidak mencerminkan jurnalisme yang beretika, melainkan sebuah upaya pembunuhan karakter terhadap pimpinan tertinggi partai mereka.

Para demonstran membawa berbagai atribut yang mendesak redaksi untuk segera melakukan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka kepada Partai NasDem dan Surya Paloh secara pribadi.

Di tingkat pusat, jajaran fungsionaris partai terus melakukan koordinasi untuk menentukan langkah hukum selanjutnya jika tuntutan mereka tidak diindahkan.

Mereka menekankan bahwa meskipun menghargai kebebasan pers sebagai pilar demokrasi, namun kebebasan tersebut tidak boleh mencederai kehormatan institusi politik maupun individu melalui pemberitaan yang dianggap tendensius dan minim verifikasi.

Baca Juga: Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029

Gelombang protes ini juga mencerminkan soliditas internal Partai NasDem dalam menjaga marwah partai di tengah dinamika politik nasional yang kian memanas pasca-pemilu.

Isu mengenai peleburan partai atau merger dianggap sebagai narasi yang sangat sensitif karena menyangkut eksistensi dan ideologi partai yang telah dibangun sejak awal berdiri.

Pihak NasDem menegaskan bahwa komunikasi politik dengan Gerindra maupun partai lain adalah hal yang wajar dalam bingkai koalisi pemerintahan, namun hal tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan penghapusan identitas partai melalui mekanisme merger atau akuisisi politik.

Load More