- KSPI memboikot perayaan May Day di Monas pada 15 April 2026 akibat Presiden belum mengesahkan RUU PPRT.
- Presiden dinilai gagal menepati janji pengesahan RUU PPRT dalam 90 hari yang disampaikan pada tahun lalu.
- KSPI menuntut pemerintah segera menerbitkan Surpres agar pembahasan RUU PPRT bersama DPR dapat segera dimulai.
Suara.com - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menegaskan sikap politiknya dengan memboikot perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monumen Nasional (Monas) tahun ini. Sikap tersebut diambil sebagai bentuk protes atas belum ditepatinya janji Presiden untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) dalam waktu 90 hari.
Dalam konferensi pers Koalisi Masyarakat Sipil untuk UU PPRT di LBH Jakarta, Rabu (15/4/2026), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Kahar S. Cahyono, menegaskan bahwa RUU PPRT bukan isu baru dan telah diperjuangkan selama puluhan tahun oleh berbagai elemen masyarakat.
“RUU PPRT ini bukan isu yang baru. Dia bukan isu satu dua tahun, dia belasan tahun bahkan sudah mencapai puluhan tahun,” ujar Kahar.
Ia menyoroti ketimpangan dalam proses legislasi di Indonesia, di mana sejumlah undang-undang dapat disahkan secara cepat, sementara RUU yang menyangkut perlindungan pekerja justru berlarut-larut.
“Tentu kelas pekerja tidak akan pernah lupa tentang bagaimana Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja disahkan. Ini adalah undang-undang yang ditolak juga oleh semua elemen... tapi kemudian bisa dengan cepat diloloskan dan kemudian disahkan. Tapi giliran kemudian ada Undang-Undang PPRT itu sangat lambat sekali,” tegasnya.
Kahar menekankan bahwa saat ini tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan Presiden, menyusul telah diserahkannya RUU PPRT sebagai inisiatif DPR kepada pemerintah. Ia mendesak agar pemerintah segera menerbitkan Surat Presiden (Surpres) sebagai langkah awal pembahasan bersama DPR.
“Tadi sudah ada update yang sangat menggembirakan bahwa saat ini memang bola ada di tangan Presiden. Maka karena dia ada di pemerintah, ada di Presiden, maka kita juga butuh sebuah komitmen untuk menunaikan ini dengan cara yang cepat,” katanya.
Lebih jauh, KSPI juga mengkritik minimnya partisipasi publik dalam proses pembahasan RUU tersebut. Kahar menyebut tidak adanya meaningful participation membuat masyarakat sipil seperti berada “di ruang gelap” tanpa kejelasan perkembangan legislasi.
Kahar mengingatkan kembali janji yang pernah diucapkan Presiden Prabowo Subianto pada May Day tahun lalu di depan ribuan buruh. Saat itu, Presiden menjanjikan RUU PPRT akan disahkan dalam waktu 90 hari.
Baca Juga: 22 Tahun Digantung DPR, Aktivis Sebut Penundaan RUU PPRT Sebagai Ujian Moral Bangsa
“Presiden menjanjikan undang-undang ini akan disahkan dalam waktu 3 bulan, 90 hari. Dan itu artinya kita sudah juga lewat berbulan-bulan ini juga menjelang May Day yang kemudian janji itu juga belum direalisasikan,” ujarnya.
Atas dasar itu, KSPI memutuskan tidak akan menghadiri perayaan May Day di Monas yang rencananya juga akan dihadiri Presiden. Sebagai gantinya, mereka akan menggelar aksi di depan Gedung DPR RI.
“Bagi KSPI tidak akan menghadiri May Day yang ada di Monas. Kenapa tidak hadir... karena tadi ini adalah soal janji yang belum dipenuhi,” tegas Kahar.
Ia menambahkan, kehadiran negara tidak boleh sebatas simbolik dalam perayaan, melainkan harus diwujudkan melalui pemenuhan hak-hak pekerja.
Senada dengan itu, perwakilan Emancipate Indonesia dan Suara Muda Kelas Pekerja, Margianta, menegaskan bahwa pilihan ada di tangan Presiden, yaitu menjadikan May Day sebagai perayaan atau justru momentum penagihan janji.
“Mau merayakan atau mau ditagih janji,” katanya.
Berita Terkait
-
22 Tahun Digantung DPR, Aktivis Sebut Penundaan RUU PPRT Sebagai Ujian Moral Bangsa
-
RUU PPRT Belum Tuntas usai 22 Tahun, Koalisi Minta Presiden Segera Ambil Sikap
-
Jelang May Day 2026, KSPI Umumkan Aksi Besar 16 April hingga 1 Mei
-
KSPI Wanti-Wanti Gelombang PHK dalam 3 Bulan: Sektor Padat Karya Paling Terpukul
-
Kemnaker Respons Laporan 25 Ribu Buruh Belum Terima THR: Perusahaan Wajib Bayar Plus Denda
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
Terkini
-
Atasi Sampah Cilincing, Pemprov DKI Bakal 'Sulap' Limbah Kerang Jadi Material WC
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
Baleg DPR Sepakati Perubahan Prolegnas 2026, Ada Lima RUU Baru Masuk Ini Daftarnya!
-
22 Tahun Nasib PRT Dipingpong, RUU PPRT Kini Terkatung-katung di Tangan Pemerintah
-
Sopir Ambulans Kena Order Fiktif Debt Collector, Berujung Disuruh Tagih Utang
-
BNI Lepas Timnas ke Thomas & Uber Cup 2026, Tegaskan Komitmen Jaga Tradisi Juara
-
Gubernur Pramono Lantik Serentak 11 Pejabat DKI: Syafrin Liputo Resmi Jadi Wali Kota Jaksel
-
Drama 13 Hari Siswi SMK Bekasi Hilang Usai Diusir Ibu, Berhasil Dilacak Lewat Sinyal HP
-
Bukan Cuma Fisik, Chat Mesum Termasuk Kekerasan Seksual: Pakar Soroti Kasus Mahasiswa UI
-
Tuduh Jubir KPK Sebar Fitnah Soal Sitaan Barang, Faizal Assegaf Lapor ke Dewas