- Sekjen PDIP Hasto menegaskan dukungan bagi Palestina sebagai kewajiban konstitusional berdasarkan mandat sejarah Konferensi Asia Afrika 1955.
- Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar nasional di Jakarta pada 18 April 2026 untuk merespons krisis geopolitik global.
- Indonesia berkomitmen memperjuangkan keadilan melalui politik luar negeri bebas aktif sesuai pemikiran geopolitik Bung Karno dan semangat KAA.
Suara.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menegaskan, bahwa dukungan tanpa henti Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina bukanlah sekadar sikap emosional, melainkan sebuah kewajiban konstitusional.
Menurutnya, hal tersebut merupakan mandat sejarah dan hukum internasional yang lahir dari Dasasila Bandung pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.
Hal itu disampaikan Hasto dalam pembukaan Seminar Nasional bertajuk ‘Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini’ yang digelar di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Hasto mengingatkan bahwa pada tahun 1955, para pemimpin dari 29 negara peserta KAA telah menyepakati komunike politik yang secara eksplisit mendukung hak-hak bangsa Arab atas Palestina.
Komitmen ini dipandang sebagai momen krusial saat bangsa-bangsa Asia-Afrika bersatu melawan ketidakadilan tanpa tekanan kekuatan Barat.
"Dalam komunike KAA, sangat jelas disebutkan bahwa adanya ketegangan di Timur Tengah akibat masalah Palestina adalah bahaya bagi perdamaian dunia. KAA menyerukan pelaksanaan resolusi PBB dan penyelesaian damai. Inilah hukum internasional yang kita ciptakan sendiri melalui Semangat Bandung," ujar Hasto.
Hasto menilai Indonesia memiliki peran strategis sebagai ‘mercusuar keadilan’ dengan rekam jejak sejarah yang kuat.
Ia menyoroti kondisi geopolitik dunia saat ini yang cenderung anarkis, sehingga Indonesia perlu kembali berpegang pada akar sejarah agar diplomasi negara tidak kehilangan arah.
Untuk itu, kata dia, PDIP terus menyuarakan narasi pembebasan bagi bangsa-bangsa tertindas sebagai inti dari politik luar negeri yang bebas aktif.
Baca Juga: Waspadai Dewa United, Eliano Reijnders Soroti Ivar Jenner
Hasto juga memaparkan relevansi pemikiran geopolitik Bung Karno yang dikenal dengan konsep Progressive Geopolitical Co-existence.
Konsep tersebut menekankan pada hidup berdampingan secara damai, namun tetap progresif dalam memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh dunia.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga mengapresiasi para pakar seperti Andi Wijayanto dan Prof. Asvi Warman Adam yang turut mengkaji gagasan Bung Karno dalam konteks masa kini.
Ia menegaskan bahwa sejarah harus menjadi landasan utama dalam merumuskan kebijakan luar negeri Indonesia.
Selain itu, Hasto menyinggung peran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang secara konsisten membawa spirit KAA dalam misi diplomatiknya di kancah internasional.
Megawati dinilai terus mendorong proyek dekolonialisasi modern agar bangsa-bangsa di dunia mampu mandiri dan tidak terjebak dalam ketergantungan baru.
Berita Terkait
-
Hampir Tiga Tahun Genosida di Palestina oleh Israel, Berapa Korbannya?
-
Menuju Rekor Baru di Persib Bandung, Bojan Hodak Selangkah Lagi Lampaui Indra Thohir
-
Singgung Kritik Dibalas Laporan Polisi, Hasto PDIP: RI Dibangun Atas Dialektika, Bukan Bungkam Suara
-
Pupuk Indonesia Dukung Kejurnas Angkat Besi Senior 2026 di Bandung, Dorong Pembinaan Berkelanjutan
-
Waspadai Dewa United, Eliano Reijnders Soroti Ivar Jenner
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
Terkini
-
Misteri Tewasnya 11 Ilmuwan Nuklir AS, Trump Berharap Kebetulan, FBI Bongkar Fakta Ini
-
Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Kemlu: Semua Pihak Harus Menahan Diri
-
Menteri HAM Cium Aroma Skenario Pojokkan Pemerintah di Balik Laporan Polisi Terhadap Feri Amsari Cs
-
Bukan karena Iran dan AS Damai, Ini Sebab Selat Hormuz Dibuka Kembali
-
Bukan Cuma Blokir Konten, Guru Besar Unair Bongkar 'Cara Halus' Membungkam Kritik di Ruang Digital
-
KWP Nobatkan Novita Wijayanti Jadi Legislator Paling Aspiratif
-
Sebut Istana Alergi Pengamat, Prof. Henri Subiakto Singgung Bahaya Budaya ABS di Lingkaran Prabowo
-
Beri Arahan ke Ketua DPRD se-Indonesia, Prabowo: Saya Ingin Bicara Apa Adanya dari Hati ke Hati
-
Sosok Steven Garcia: Hilang Misterius, Disebut Punya Akses ke Fasilitas Nuklir Rahasia
-
Kawal Dunia Santri, Fraksi PKB DPR RI Sabet Penghargaan 'Peduli Pesantren'