News / Internasional
Senin, 20 April 2026 | 07:31 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Instagram.com/realdonaldtrump)
Baca 10 detik
  • Presiden Trump berencana mengirim delegasi ke Pakistan untuk merundingkan ketegangan konflik AS-Iran terkait Selat Hormuz pekan ini.
  • Pemerintah Iran menolak rencana perundingan tersebut karena keberatan terhadap blokade laut yang dianggap sebagai tindakan ilegal.
  • Ketegangan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas blokade yang diberlakukan oleh pihak militer AS.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan akan mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan, untuk membuka peluang perundingan dengan Iran.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan konflik AS-Israel dengan Iran, khususnya terkait Selat Hormuz.

Trump menyebut pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung awal pekan ini, meski belum merinci siapa saja yang akan mewakili Washington.

Sebelumnya, perundingan putaran pertama yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance berakhir tanpa kesepakatan.

Dalam pernyataannya, Trump juga melontarkan ancaman keras kepada Iran jika menolak tawaran AS.

“Kami menawarkan kesepakatan yang adil. Jika tidak diterima, Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran,” tulis Trump di akun media sosial miliknya seperti dilansir dari Aljazeera.

Namun, respons Teheran justru berseberangan. Pemerintah Iran melalui media resminya menyatakan belum ada keputusan untuk mengirim delegasi ke Pakistan selama blokade laut oleh AS masih berlangsung.

Negosiasi Iran dan Amerika Serikat di Islamabad memanas akibat sengketa militer di Selat Hormuz. (Tanimnews)

Iran bahkan disebut tengah mempertimbangkan menolak rencana perundingan tersebut.

Mereka menilai tuntutan Washington berlebihan, tidak realistis, serta berubah-ubah, ditambah keberlanjutan blokade laut yang dianggap melanggar gencatan senjata.

Baca Juga: 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut blokade AS sebagai tindakan ilegal.

“Ini pelanggaran gencatan senjata dan tindakan kriminal yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” tegasnya.

Situasi semakin memanas setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Penutupan ini dilakukan sebagai respons atas blokade laut yang diberlakukan terhadap kapal dan pelabuhan Iran.

Militer AS mengklaim telah memaksa puluhan kapal untuk berbalik arah sejak blokade diberlakukan.

Sementara itu, perundingan masih menemui jalan buntu, terutama terkait program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengakui adanya kemajuan dalam dialog sebelumnya.

Load More