-
Iran kembali memblokade Selat Hormuz sebagai balasan atas blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat.
-
Donald Trump mengancam akan melakukan pemboman jika gencatan senjata berakhir tanpa ada kesepakatan.
-
Militer Iran menyatakan kesiapan menggunakan rudal produksi terbaru tahun 2026 dalam perang mendatang.
Jenderal Mohammed Naqdi menyatakan kesiapan mereka menggunakan peluru kendali dengan spesifikasi produksi paling mutakhir jika peperangan terbuka benar-benar kembali meletus.
“Jika perang dimulai lagi, kami akan menggunakan rudal yang tanggal produksinya adalah Mei 2026,” ungkap Jenderal Mohammed Naqdi kepada media setempat pada hari Sabtu.
Ia juga menekankan bahwa selama ini Teheran telah bersikap sabar agar tidak mengganggu stabilitas produksi minyak dan kepentingan ekonomi masyarakat dunia.
“Kami bisa menghentikan produksi minyak, tetapi kami tidak ingin menimbulkan gangguan bagi dunia, jadi kami bertindak dengan sabar,” tambah Naqdi dalam keterangannya.
Meski demikian, Presiden Donald Trump justru menunjukkan sikap yang kontradiktif dengan mengklaim bahwa proses komunikasi dengan pihak Iran sedang berjalan lancar.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah mau ditekan oleh ancaman atau pemerasan diplomatik yang dilakukan oleh rezim Teheran saat ini.
Risiko Bom dan Kegagalan Gencatan Senjata
Hambatan utama dalam dialog ini masih berkutat pada isu pengayaan uranium serta tuntutan Amerika Serikat agar Iran menyerahkan seluruh cadangan uranium mereka.
Hingga saat ini, Dewan Keamanan Nasional Iran masih menimbang tawaran baru dari Washington tanpa memberikan kepastian kapan mereka akan memberikan jawaban resmi.
Baca Juga: Kapal Perang AS Mondar-mandir di Dekat Perairan Indonesia, Mau Apa?
Trump bahkan telah melontarkan ancaman militer terbuka bahwa opsi serangan udara akan diambil jika kesepakatan perpanjangan gencatan senjata gagal dicapai segera.
“Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, sehingga Anda akan menghadapi blokade dan sayangnya kita harus mulai menjatuhkan bom lagi,” ucap Trump pada hari Jumat.
Di tengah situasi genting tersebut, para pejabat tinggi pertahanan dan intelijen Amerika Serikat terlihat mulai berkumpul secara intensif di Gedung Putih.
Krisis di Selat Hormuz bermula dari ketegangan nuklir kronis antara Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dan Republik Islam Iran selama beberapa tahun terakhir.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat paling krusial bagi pasokan energi dunia, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak bumi global melintasi jalur ini.
Pemberlakuan blokade pelabuhan oleh AS merupakan sanksi ekonomi berat untuk memaksa Iran menghentikan program nuklirnya, yang dibalas Iran dengan ancaman penutupan jalur laut.
Gencatan senjata sementara yang akan berakhir pada 21 April mendatang tadinya diharapkan menjadi pintu masuk bagi perdamaian permanen, namun justru memicu ketidakpastian baru.
Absennya transparansi dalam jalur negosiasi membuat pasar energi dunia sangat fluktuatif terhadap setiap pernyataan yang keluar dari kedua belah pihak yang bertikai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kepala Ditutup Tangan Diborgol, Begini Proses Pemindahan 79 Napi Paling Berbahaya ke Nusakambangan
-
Kejar Target, DPR Pastikan RUU Hak Cipta Ikut Dibahas Selama Masa Reses
-
Kisah Nyi Rasmiwaditro: Musisi Gen Z yang Memilih Jalan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
-
DPR Setuju Hibah Kapal Induk Italia Umur 40 Tahun: Biaya Rawat Rp101 Miliar, Perbaikan Rp16 Triliun
-
Mengapa Greenpeace Desak Batu Bara Keluar dari Daftar Investasi Syariah?
-
5 Serum Hanasui untuk Mencerahkan Wajah, Memudarkan Flek Hitam Mulai Rp30 Ribuan
-
Andai Lionel Messi Memilih Spanyol
-
Harga Changan Deepal S05 untuk Pasar Indonesia Tembus Rp 500 Jutaan
-
Disinformasi di Ruang Digital Ancam Demokrasi dan Persatuan Nasional, Puan: Negara Harus Hadir!
-
6 Sunscreen Terbaik untuk Wanita di Atas 40 Tahun dengan Kulit Sensitif sesuai Review dan Harga