- TNI AL menyatakan kapal perang Amerika Serikat sah melintas di Selat Malaka sesuai aturan hukum laut internasional UNCLOS.
- Selat Malaka berstatus jalur pelayaran internasional sehingga kapal asing boleh melintas tanpa izin khusus selama mematuhi prosedur.
- TNI AL terus mengawasi kapal asing agar tetap menjaga kedaulatan, keselamatan pelayaran, serta mencegah pencemaran di perairan Indonesia.
Suara.com - Kehadiran kapal milik Amerika Serikat di kawasan Selat Malaka baru-baru ini memicu perhatian, terutama terkait legalitas operasional kapal asing di wilayah perairan strategis Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, pihak Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memberikan klarifikasi mengenai status hukum dan protokol internasional yang berlaku di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia tersebut.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul memberikan penjelasan bahwa pergerakan kapal Amerika Serikat tersebut telah sesuai dengan koridor hukum laut internasional.
Berdasarkan pantauan dan koordinasi yang dilakukan, kapal-kapal tersebut hanya melakukan aktivitas transit yang sah secara regulasi global.
"Menanggapi kapal asing yang melintas di Selat Malaka, bahwa hak kapal, termasuk kapal perang yang melintas di perairan tersebut merupakan Hak Lintas Transit (Transit Passage)," kata Tunggul dalam keterangan resminya sebagaimana dilansir Antara, Senin (20/4/2026).
Selat Malaka secara geografis merupakan selat yang digunakan untuk pelayaran internasional antara satu bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan bagian laut lepas atau ZEE lainnya.
Status ini membuat Selat Malaka memiliki kekhususan dalam hukum laut internasional dibandingkan dengan perairan pedalaman atau laut teritorial biasa.
Tunggul mengatakan, hak tersebut dapat dipakai kapal asing lantaran Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran internasional.
Hal ini memungkinkan kapal dari negara mana pun, termasuk kapal perang milik Amerika Serikat, untuk melintas tanpa harus meminta izin khusus terlebih dahulu, selama mereka mematuhi aturan lintas transit yang berlaku.
Baca Juga: Selat Hormuz Diblokade Iran, AS Mulai Incar Selat Malaka? Kapal Perang Trump Lintasi Perairan RI
Secara yuridis, hak transit tersebut memiliki landasan kuat dalam hukum internasional. Dia melanjutkan, hak transit tersebut sah menurut Pasal 37, 38 dan 39 United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Pasal-pasal tersebut mengatur bahwa dalam lintas transit, kapal dan pesawat udara asing harus lewat tanpa menunda-nunda dan tidak boleh melakukan ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan negara pantai.
Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dalam penegakan hukum di wilayah ini karena telah meratifikasi aturan internasional tersebut ke dalam hukum nasional.
Indonesia sendiri telah meratifikasi UNCLOS melalui Undang-Undang nomor 17 tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS.
Dengan adanya undang-undang tersebut, Indonesia secara langsung mengakui keberadaan Selat Malaka sebagai jalur pelayaran Internasional.
Pengakuan ini membawa konsekuensi hukum di mana Indonesia berkewajiban menjamin keselamatan pelayaran, namun di sisi lain, kapal asing juga memiliki kewajiban yang tidak kalah berat.
Berita Terkait
-
Selat Hormuz Diblokade Iran, AS Mulai Incar Selat Malaka? Kapal Perang Trump Lintasi Perairan RI
-
Kapal Perang AS Mondar-mandir di Dekat Perairan Indonesia, Mau Apa?
-
Digerebek Suami Sendiri, Ibu Bhayangkari di Kendari Kepergok Ngamar dengan Oknum TNI
-
Aktivis KontraS Disiram Air Keras, TB Hasanuddin: Momentum Revisi UU Peradilan Militer
-
Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi di Papua Imbas 12 Warga Sipil Meninggal
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
- Ironi Letjen Lodewyk Pusung: 32 Tahun Setia di Militer, Tumbang dalam 1,5 Tahun Urus Gizi Nasional
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Modus Licin Staf Imigrasi, Pakai Rekening OB dan Cleaning Service Buat Tampung Duit Suap Izin WNA
-
Kejagung Diminta Usut Tuntas Korupsi MBG Dadan Cs dan Dugaan Monopoli Dapur
-
Resmi! Prabowo Berhentikan Silmy Karim dari Jabatan Wamen Imipas
-
Silmy Karim Diduga Terima Uang Pemerasan Sejak Jadi Dirjen Hingga Wamen Imipas
-
Keras Feri Amsari di Aksi Kamisan: Parpol Jadi Perusahaan Keluarga, Ketua Partainya Hasil Warisan
-
Aksi Kamisan 910: Indonesia Darurat Militerisme, Anak Papua Jadi Korban Agresi di Pengungsian
-
Modus Kasus Silmy Karim Dkk: Persulit Izin Tinggal WNA, Paksa Bayar Uang Tambahan
-
Hari ke-13 Teror Api di Sleman: Pemilik Rumah Tidur 3 Jam Sehari, Kerugian Tembus Rp70 Juta
-
Puluhan Motor Terjaring Operasi Parkir Liar di Salemba, Trotoar Kenari Milik Pejalan Kaki Lagi
-
Silmy Karim Cs Dirikan Perusahaan Towing Diduga untuk 'Derek' Duit Suap Izin Tinggal WNA