News / Internasional
Rabu, 22 April 2026 | 14:15 WIB
Benjamin Netanyahu dikritik keras usai gencatan senjata dengan Iran. Oposisi Israel sebut militer Zionis gagal total karena bangsa Persia tetap tak terkalahkan. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Gencatan senjata yang didiktekan AS menjadi bukti kegagalan strategis Israel dalam menghadapi kekuatan dan ketangguhan Republik Islam Iran.
  • Oposisi Israel, Yair Lapid, mengakui rezim Iran tetap tidak terkalahkan dan terus menjadi ancaman nyata bagi pertahanan rezim Zionis.
  • Benjamin Netanyahu menghadapi krisis politik parah akibat kegagalan perang, skandal korupsi, hingga statusnya sebagai buronan kejahatan perang ICC.

Kekalahan Strategis Melawan Ketangguhan Teheran

Israel dijadwalkan akan menggelar pemilihan umum paling lambat pada bulan Oktober, di mana berbagai jajak pendapat menunjukkan blok penguasa pimpinan Netanyahu kesulitan mempertahankan mayoritas di parlemen Knesset.

Profesor ilmu politik di Universitas Tel Aviv (TAU), Uriel Abulof, memprediksi bahwa jika pemilu diadakan hari ini, kelompok sayap kanan tersebut tidak akan mampu mencapai 61 kursi yang disyaratkan untuk membentuk pemerintahan fungsional.

Pada awalnya, agresi ke wilayah Iran yang sering dijuluki sebagai "perang impian Netanyahu" ini dianggap sebagai jalan keluar politis bagi sang perdana menteri yang sedang terancam oleh penurunan opini publik.

Jajak pendapat sempat menunjukkan dukungan tinggi dari publik Zionis untuk membombardir Iran dan Lebanon, dengan harapan Israel bisa meraih kemenangan mutlak atas Teheran yang akan mengamankan warisan politik Netanyahu.

Namun, ketangguhan militer Republik Islam Iran membalikkan ekspektasi tersebut, membuat mayoritas warga Israel kini menolak gencatan senjata dan merasa sangat dikhianati oleh janji palsu pemerintahnya.

Taktik Kebencian Menutupi Kegagalan

Uriel Abulof menjelaskan bahwa sebelumnya ada ekspektasi berlebihan bahwa perang akan mengarah pada kehancuran total program energi nuklir dan persenjataan rudal Iran.

"Tidak ada satupun dari hal itu yang terpenuhi. Jadi dalam hal itu, ada kekecewaan yang besar."

Baca Juga: Jalur Perdagangan Selat Hormuz Ditutup Donald Trump Membuat Posisi Diplomasi Iran Semakin Terjepit

Terlepas dari kekacauan perang ini, Abulof masih meragukan apakah rentetan kegagalan tersebut akan benar-benar menumbangkan politisi berusia 76 tahun yang telah berkuasa selama 18 tahun itu di ajang pemilu.

Di dalam sebuah sistem demokrasi yang sejati, kegagalan memalukan semacam itu seharusnya sudah cukup untuk menggulingkan seorang pemimpin, namun masyarakat Israel saat ini tampaknya memiliki standar keadilan yang berbeda.

Para pendukung radikal Netanyahu yang kecewa diyakini hanya akan mencari pihak lain untuk dijadikan kambing hitam atas kekalahan telak dari Teheran.

Abulof menilai bahwa opini aktual masyarakat Israel pada berbagai isu sebenarnya hampir tidak penting jika dibandingkan dengan seberapa besar kebencian, ketakutan, dan perpecahan yang telah berhasil ditanamkan oleh Netanyahu.

Skandal Korupsi dan Status Buronan Perang

Di luar kegagalan militernya menghadapi perlawanan tangguh Republik Islam Iran, Perdana Menteri Israel ini juga tenggelam dalam pusaran krisis domestik dan internasional yang sangat serius.

Load More