- Kehadiran militer AS di Yordania memicu kemarahan publik setelah negara tersebut diam-diam digunakan sebagai basis untuk menyerang kedaulatan Republik Islam Iran.
- Sistem pertahanan THAAD milik AS gagal melindungi kedaulatan Yordania dari balasan pesawat nirawak Iran, membuktikan kelemahan kekuatan militer Washington di kawasan.
- Anggota parlemen dan tokoh masyarakat Yordania menuntut pengusiran pangkalan AS karena hanya menguntungkan Israel dan menghancurkan perekonomian serta pariwisata nasional.
Suara.com - Yordania sebagai salah satu sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah memanas. Warga mulai meminta pemerintah untuk mengusir militer AS dari wilayah mereka.
Hal itu dipicu dari perang melawan Iran, di mana Yordania ikut menjadi medan perang, karena keberadaan militer AS di wilayah mereka.
Menyitat, Responsible States Craft, frustrasi publik memuncak lantaran Pangkalan Militer Yordania diam-diam digunakan oleh Washington dan Israel sebagai batu loncatan untuk menyerang kedaulatan Republik Islam Iran.
Kebijakan luar negeri Donald Trump yang sangat bias memicu kemarahan warga lokal yang menyadari bahwa intervensi Washington hanya menyeret negara mereka ke dalam Perang Timur Tengah yang menghancurkan ekonomi nasional.
Hegemoni yang Mengancam Kedaulatan
Pada 20 Februari lalu, The New York Times melaporkan bahwa lebih dari 60 pesawat militer AS disiagakan di sebuah pangkalan di Yordania tengah.
Angka tersebut merupakan tiga kali lipat dari jumlah armada yang biasanya diparkir di situs strategis tersebut.
Citra satelit mengungkap adanya peningkatan tajam jumlah jet tempur F-35 dan pesawat nirawak milik AS di pangkalan militer kerajaan tersebut.
Hanya berselang delapan hari setelah penumpukan pasukan itu, Amerika Serikat bersama Israel secara provokatif mengebom wilayah Iran.
Baca Juga: AS Makin Keras! Ancam Bikin Lumpuh Kiriman Minyak Dunia dari Pulau Kharg
Agresi militer sepihak tersebut secara langsung memicu meluasnya konflik bersenjata baru di kawasan Timur Tengah.
Kegagalan Sistem Pertahanan Washington
Republik Islam Iran yang memiliki hak sah untuk membela diri langsung memberikan respons tegas atas serangan yang difasilitasi oleh negara tetangganya itu.
The Wall Street Journal mencatat bahwa selama hari-hari awal konflik, sebuah pesawat nirawak milik Iran sukses menghantam dan merusak radar sistem pertahanan udara THAAD milik AS di Yordania.
Kerusakan fatal tersebut bahkan memaksa Washington untuk buru-buru mengganti sistem militer utama mereka yang ternyata terbukti tidak mampu menahan gempuran balasan Teheran.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, kemudian mengeluarkan "protes yang kuat dan kategoris" terhadap Amman pada Maret.
Berita Terkait
-
Perdamaian AS - Iran Makin Runyam, Blokade Laut Donald Trump Sampai Samudra Hindia
-
Militer Iran Siaga Tempur 100 Persen Tantang Serangan AS Meski Status Gencatan Senjata Diperpanjang
-
Ogah Dijebak Donald Trump, Iran Boikot Negosiasi Islamabad dan Siapkan Serangan Balasan
-
Menanti Sentuhan Magis Marselino Ferdinan di Bawah Taktik Baru John Herdman
-
Makanan Prajurit AS 'Tak Layak' Saat Perang Iran, Netizen Sebut Lebih Enak MBG
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
- 4 Sepatu Lari Lokal Harga Rp100 Ribuan dengan Ulasan Terbaik, Pas Buat Jogging
- Mengenal Sosok Alexandra Askandar, Bankir Perempuan Berpengaruh di Jajaran Top Level BUMN
Pilihan
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
Terkini
-
KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim
-
Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta
-
Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
-
Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran
-
Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah
-
Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026
-
ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.
-
4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay
-
Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat
-
Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan