News / Nasional
Rabu, 22 April 2026 | 17:17 WIB
Ilustrasi padi. [pixabay.com]
Baca 10 detik
  • Suhu tinggi saat pancaroba April 2026 di Indonesia mengancam produktivitas tanaman pangan strategis seperti padi dan jagung.
  • Dosen UMY, Oki Wijaya, menyatakan suhu panas ekstrem mengganggu proses biologis serta kualitas hasil panen tanaman pangan.
  • Petani disarankan menyesuaikan waktu tanam dan menggunakan varietas toleran panas guna memitigasi risiko gagal panen akibat cuaca.

Suara.com - Suhu di atas normal yang melanda Indonesia pada periode pancaroba April 2026 berpotensi mengancam produktivitas sejumlah komoditas pangan strategis. Terutama padi dan jagung yang tengah memasuki fase pertumbuhan disebut yang paling rentan.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya, menuturkan dampak paling nyata dari suhu tinggi itu yakni terkait dengan produktivitas. Mengingat proses biologis tanaman yang terganggu, apalagi pada fase reproduktif.

"Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air, mengganggu fotosintesis, mempercepat stres tanaman, serta mengganggu pembungaan, penyerbukan, dan pembentukan hasil," kata Oki, dikutip, Rabu (22/4/2026).

Oki mengungkapkan bahwa setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata global diperkirakan menurunkan hasil padi sebesar 3,2 persen, jagung 7,4 persen, gandum 6,0 persen, dan kedelai 3,1 persen.

Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar asumsi teoritis. Melainkan indikator nyata yang relevan dengan kondisi saat ini.

"Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat," tegasnya.

Disampaikan Oki, bahwa dampak suhu ekstrem sebenarnya sudah mulai terlihat di lapangan. Meskipun belum selalu tercatat sebagai kegagalan panen total.

Gejala awal antara lain tanaman cepat layu pada siang hari, gangguan pembungaan, serta penurunan kualitas hasil.

"Penurunan kualitas atau hasil bisa terjadi sebelum tercatat secara resmi sebagai penurunan produksi wilayah. Untuk memastikan skala dampaknya, tetap diperlukan verifikasi lapangan per komoditas dan wilayah," paparnya.

Baca Juga: Produksi Beras Nasional Diproyeksi Turun 380 Ribu Ton, BPS Ungkap Biang Keroknya

Suhu tinggi itu dapat menjadi lebih berbahaya ketika disertai kekurangan air. Pada masa pancaroba dengan curah hujan yang menurun, tanaman menghadapi tekanan ganda.

"Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat," ujarnya.

Disebutkan Oki, komoditas padi, jagung, cabai dan tomat paling rentan terhadap suhu ekstrem.

Pada tanaman padi, suhu tinggi saat fase pembungaan dan pengisian gabah dapat meningkatkan sterilitas bunga sehingga bulir tidak terbentuk sempurna. Sementara itu, jagung dinilai lebih sensitif, terutama pada fase tasseling, silking, dan awal pengisian biji.

Untuk komoditas hortikultura, cabai sangat sensitif pada fase awal perkembangan benih setelah anthesis, yang dapat menurunkan fruit set, bobot buah, dan mutu benih.

Tomat pun menghadapi risiko serupa karena suhu tinggi dapat menurunkan viabilitas serbuk sari dan mengganggu proses pembuahan.

Load More