- Suhu tinggi saat pancaroba April 2026 di Indonesia mengancam produktivitas tanaman pangan strategis seperti padi dan jagung.
- Dosen UMY, Oki Wijaya, menyatakan suhu panas ekstrem mengganggu proses biologis serta kualitas hasil panen tanaman pangan.
- Petani disarankan menyesuaikan waktu tanam dan menggunakan varietas toleran panas guna memitigasi risiko gagal panen akibat cuaca.
Suara.com - Suhu di atas normal yang melanda Indonesia pada periode pancaroba April 2026 berpotensi mengancam produktivitas sejumlah komoditas pangan strategis. Terutama padi dan jagung yang tengah memasuki fase pertumbuhan disebut yang paling rentan.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya, menuturkan dampak paling nyata dari suhu tinggi itu yakni terkait dengan produktivitas. Mengingat proses biologis tanaman yang terganggu, apalagi pada fase reproduktif.
"Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air, mengganggu fotosintesis, mempercepat stres tanaman, serta mengganggu pembungaan, penyerbukan, dan pembentukan hasil," kata Oki, dikutip, Rabu (22/4/2026).
Oki mengungkapkan bahwa setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata global diperkirakan menurunkan hasil padi sebesar 3,2 persen, jagung 7,4 persen, gandum 6,0 persen, dan kedelai 3,1 persen.
Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar asumsi teoritis. Melainkan indikator nyata yang relevan dengan kondisi saat ini.
"Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat," tegasnya.
Disampaikan Oki, bahwa dampak suhu ekstrem sebenarnya sudah mulai terlihat di lapangan. Meskipun belum selalu tercatat sebagai kegagalan panen total.
Gejala awal antara lain tanaman cepat layu pada siang hari, gangguan pembungaan, serta penurunan kualitas hasil.
"Penurunan kualitas atau hasil bisa terjadi sebelum tercatat secara resmi sebagai penurunan produksi wilayah. Untuk memastikan skala dampaknya, tetap diperlukan verifikasi lapangan per komoditas dan wilayah," paparnya.
Baca Juga: Produksi Beras Nasional Diproyeksi Turun 380 Ribu Ton, BPS Ungkap Biang Keroknya
Suhu tinggi itu dapat menjadi lebih berbahaya ketika disertai kekurangan air. Pada masa pancaroba dengan curah hujan yang menurun, tanaman menghadapi tekanan ganda.
"Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat," ujarnya.
Disebutkan Oki, komoditas padi, jagung, cabai dan tomat paling rentan terhadap suhu ekstrem.
Pada tanaman padi, suhu tinggi saat fase pembungaan dan pengisian gabah dapat meningkatkan sterilitas bunga sehingga bulir tidak terbentuk sempurna. Sementara itu, jagung dinilai lebih sensitif, terutama pada fase tasseling, silking, dan awal pengisian biji.
Untuk komoditas hortikultura, cabai sangat sensitif pada fase awal perkembangan benih setelah anthesis, yang dapat menurunkan fruit set, bobot buah, dan mutu benih.
Tomat pun menghadapi risiko serupa karena suhu tinggi dapat menurunkan viabilitas serbuk sari dan mengganggu proses pembuahan.
Berita Terkait
-
Ramai Gosip Istri Ahmad Sahroni Selingkuh dengan Musisi Terkenal, Pengalihan Isu BBM?
-
Fokus Padi Berubah: Cuan Nomor Sekian, yang Penting Terus Berkarya
-
Perkuat Produksi Jagung Nasional, BULOG Dorong Panen dan Tanam Serentak di Blora
-
Produksi Beras Nasional Diproyeksi Turun 380 Ribu Ton, BPS Ungkap Biang Keroknya
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Demi Korban 98, Koalisi Sipil Banding Lawan Fadli Zon Usai Gugatan Ditolak PTUN
-
Petaka Berenang di Ciliwung: Bocah 11 Tahun Hilang Terseret Arus, Tim SAR Sisir Sungai Hingga 4 Km
-
Militer AS Frustrasi Lawan Iran, Donald Trump Malah Bahas Narkoba di Gedung Putih
-
Dibalik Megahnya USS Gerald R. Ford: Toilet Tersumbat, Serangan AS ke Iran pun Terhambat, Kualat?
-
Viral! Hotel di Negara Ini Buat Pengumuman: Hewan dan Orang Yahudi Dilarang Masuk
-
Kejar Target Tembus Top 50 Kota Global, Pramono Anung 'Gerilya' ke Tiongkok hingga Jepang
-
Kritik dr. Tan Shot Yen: Susu Bumil Gimmick Industri, Desak Program Makan Gratis Pakai Pangan Lokal!
-
Kapal Perang AS Lintasi Selat Malaka, Menlu RI: Patroli di Kawasan
-
Harga BBM dan Elpiji Non-Subsidi Naik, Tulus Cium Aroma Anomali di Lapangan, Apa Itu?
-
Kuota Dipangkas, Jalur Diubah: 30 Ribu Jemaah Iran Berangkat Haji di Tengah Perang