- Pasar Santa di Jakarta Selatan mengalami penurunan jumlah pengunjung akibat kalah bersaing dengan kawasan Blok M saat ini.
- Fasilitas fisik yang minim, terutama suhu ruangan yang panas, menyebabkan pelanggan lebih memilih bertransaksi belanja secara daring.
- Penutupan gerai makanan dan minuman mengakibatkan Pasar Santa kehilangan daya tarik bagi pengunjung yang sekadar berjalan-jalan santai.
Suara.com - Deretan kios dengan rolling door tertutup rapat menjadi pemandangan yang jamak ditemui di sudut-sudut Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Jika dulu pasar ini sempat menjadi kiblat budaya populer anak muda Jakarta, kini denyut nadinya terasa lebih pelan, menyisakan ruang-ruang sunyi di antara pajangan piringan hitam dan tumpukan baju thrift.
Aduy (24), salah satu penjual vinyl (piringan hitam) yang bertahan, mengungkapkan keresahannya terhadap kondisi pasar saat ini.
Baginya, Pasar Santa kini seolah kehilangan daya pikatnya jika dibandingkan dengan kawasan Blok M yang sedang kembali naik daun.
“Suasananya... ya kalau misal dibanding Blok M ya, kalau misal dibanding Blok M ya nggak seramai Blok M yang kayaknya tiap hari ramai orang gitu loh, ramai orang. Terus habis itu juga suasananya gimana juga ya? Nggak senyaman Blok M sih kayaknya ya,” ujar Aduy saat ditemui di tokonya yang terletak di lantai atas Pasar Santa pada Rabu (22/4/2026).
Suasana Panas, Pembeli Lebih Pilih Online
Masalah utama yang dirasakan pedagang dan pengunjung bukan hanya soal tren, melainkan kenyamanan fisik. Pantauan di lokasi menunjukkan atap seng tinggi yang menaungi koridor-koridor sempit seringkali memerangkap hawa panas, terutama saat matahari tepat di atas kepala.
“Kalau kita lihat di sini juga nggak ini sih, maksudnya ya kalau siang panas gitu loh, jadi kayak orang nggak nyaman juga sih untuk ke sini sebenarnya ya,” keluh Aduy.
Kondisi ini pula yang mengubah perilaku belanja pelanggan. Menurut Aduy, banyak pemburu piringan hitam yang kini lebih memilih bertransaksi lewat layar ponsel daripada harus berkeringat menyusuri lorong pasar.
Baca Juga: Wajah Terekam Pernah Beraksi, Maling Motor di Kebayoran Lama Tewas Diamuk Warga
“Jadi kita lebih banyak sebenarnya kalau misal orderan-orderan vinyl tuh yang saya rasain ya, ini paling banyak sih online sih. Mungkin orang-orang lebih nyaman belanja online kalau untuk di sini gitu,” tambahnya.
Berubah Menjadi Pasar Tersegmentasi
Sempat mencicipi masa ramai pada akhir 2023, Aduy mencatat adanya penurunan signifikan setelah banyak gerai makanan dan minuman (F&B) yang menjadi magnet utama Pasar Santa mulai tutup satu per satu.
“Pas itu kan sempat viral kan beberapa F&B yang ada di sini gitu sih. Cuman habis itu makin ke sini makin ke sini udah mulai nggak ramai lagi. Kan sempat banyak toko-toko yang tutup-tutup ya, F&B-F&B nya gitu,” kenangnya.
Kini, Pasar Santa seolah terkotak menjadi pasar untuk kalangan tertentu saja. Tidak ada lagi kerumunan anak muda yang sekadar strolling around atau jalan-jalan tanpa tujuan.
“Kalau misalnya ke sini mungkin orang jelas gitu, oh pengen beli vinyl atau pengen ngapain gitu loh, pengen cari-cari makan yang spesifik gitu. Cuman kan kalau orang ke Blok M kan mereka bisa datang ke sana dan nggak tahu apa-apa... Tempatnya lebih gede juga,” kata pria asal Tangerang Selatan ini.
Berita Terkait
-
Wajah Terekam Pernah Beraksi, Maling Motor di Kebayoran Lama Tewas Diamuk Warga
-
Masalah Kotoran Kucing di Skywalk Kebayoran Lama Mencuat, Gubernur DKI Instruksikan Penertiban
-
Kapolda Metro Jaya Perintahkan Propam Tindak Polisi Pelaku Catcalling di Kebayoran Baru
-
Ricuh! Penggusuran Pasar Barito Berujung Blokade Jalan: Pedagang Melawan!
-
Tragis! Lexus Ringsek Tertimpa Pohon Tumbang di Pondok Indah, Pengemudi Tewas
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Modus Baru Judi Online, Pakai Merchant UMKM hingga Payment Gateway
-
Purbaya Ungkap 4 Negara Bebas Aturan DHE SDA, Ada AS hingga China
-
3 Rekomendasi Parfum Aroma Susu dengan Wangi Creamy, Beri Kesan Manis yang Menenangkan
-
BUMN Punya Hotel dan Apartemen Disorot, Masih Relevankah untuk Negara?
-
Eks Menag Lukman Hakim: Publik Makin Tak Percaya Negara karena Penegakkan Hukum Lemah
-
Sekjen Kementerian ATR/BPN Diperiksa KPK Terkait Kasus Suhardiman Amby
-
11 Rekomendasi Ombre Lip Cream OMG Mattelast untuk Bibir Gelap, Cuma Rp55 Ribuan Sepaket
-
Siasat Produsen Ban Gajah Tunggal Bertahan dari Lonjakan Biaya Produksi
-
Berawal dari Hobi Main Game, Konten Kreator Sahrul Agusti Kini Jadi Pengusaha Digital
-
Mafia Internasional Diburu, Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling ke Kamboja Dibongkar