News / Internasional
Kamis, 23 April 2026 | 13:10 WIB
Penampakan Selat Malaka di Google Maps (Google Maps)
Baca 10 detik
  • Usulan tarik tarif di Selat Malaka ditolak mentah-mentah oleh Malaysia dan Singapura.
  • Alasan utama penolakan adalah menjaga kebebasan navigasi laut sesuai hukum internasional UNCLOS.
  • Keputusan sepihak berisiko merusak netralitas ASEAN di tengah persaingan Amerika dan China.

"ASEAN itu berbasis konsensus. Bahkan di tingkat komite kecil sekalipun, semua keputusan diambil bersama," tambah Hasan.

3. Ketakutan Kehilangan Posisi Netral

Selat Malaka Berada Dimana? (The Shipyard)

Bagi Malaysia, stabilitas navigasi di perairan ini adalah kunci kelangsungan hidup negara. Mereka berpegang teguh pada konsep Zona Damai, Bebas, dan Netral (ZOPFAN).

“Kita negara perdagangan dengan ekonomi terbuka. Kita tidak bisa terlihat berpihak,” ujar Hasan. Ia memperingatkan bahwa keberpihakan hanya akan membuat laju ekonomi terganggu parah.

Oleh karena itu, ketiga negara pantai ini sangat solid menolak segala bentuk pungutan biaya. Mereka tidak ingin jalur logistik vital ini terhambat oleh kepentingan sesaat.

4. Tameng Bernama Hukum Laut UNCLOS

Langkah strategis bersama diambil guna menghindari senjataisasi jalur perdagangan seperti di wilayah lain. Aturan main yang dipakai mutlak merujuk pada hukum internasional yang diakui dunia.

"Terkait dengan Amerika dan China, kami telah memberi tahu keduanya, kami beroperasi berdasarkan UNCLOS," tegas Dr. Balakrishnan.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa negara Asia Tenggara menolak didikte asing.

Baca Juga: Media Malaysia Beberkan 3 Negara Terdampak Besar Jika Selat Malaka Kena Tarif

Singapura memastikan tidak akan terlibat dalam upaya penutupan rute di lingkungan mereka. Sikap serupa berlaku untuk ruang udara di atas perairan strategis tersebut.

5. Pantang Tunduk pada Washington dan Beijing

Persaingan ketat Amerika Serikat dan China membuat kawasan ini harus bersikap ekstra hati-hati. Singapura memilih langkah diplomasi mandiri murni tanpa adanya tekanan eksternal.

"Dan jika saya harus mengatakan tidak kepada Washington atau Beijing atau siapa pun, kami tidak akan gentar," tuturnya.

Keputusan yang mereka ambil murni demi kepentingan nasional jangka panjang sendiri.

Bahkan, Dr. Balakrishnan menyoroti bahaya luar biasa jika konflik fisik benar-benar pecah di Pasifik. Ia menyebut eskalasi di wilayah itu akan jauh lebih mengerikan ketimbang krisis logistik global lainnya.

Load More