-
Prajurit Gannon Ken Van Dyke ditangkap karena judi menggunakan informasi rahasia penangkapan Maduro.
-
Keuntungan taruhan sebesar 400.000 dolar AS sempat disembunyikan melalui brankas kripto luar negeri.
-
Kasus ini memicu perdebatan regulasi pasar prediksi dan integritas personel militer Amerika.
Suara.com - Skandal memalukan mencoreng korps militer Amerika Serikat setelah seorang prajurit pasukan khusus diduga memanipulasi informasi rahasia negara demi memenangkan taruhan finansial.
Master Sergeant Gannon Ken Van Dyke ditangkap karena nekat memasang taruhan atas keberhasilan operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Dikutip dari CNN, tindakan ini mengungkap kerentanan baru di era digital di mana informasi klasifikasi militer dapat disalahgunakan menjadi komoditas pasar prediksi.
Van Dyke diduga menggunakan akses eksklusifnya terhadap perencanaan Operasi Absolute Resolve untuk meraup keuntungan pribadi hingga ratusan ribu dolar.
Penyidik menemukan bukti bahwa prajurit senior ini bertaruh pada platform Polymarket sesaat sebelum penangkapan dilakukan di Caracas.
Aksi spekulasi ilegal ini dilakukan dengan menempatkan dana sebesar 32.000 dolar AS pada prediksi jatuhnya kekuasaan Maduro sebelum Januari.
Kejaksaan menyebut Van Dyke melakukan sedikitnya 13 kali transaksi taruhan di tengah proses persiapan eksekusi militer yang sangat sensitif.
“Mereka yang dipercaya untuk menjaga rahasia negara kita memiliki kewajiban untuk melindungi mereka dan anggota dinas militer kita, dan bukan untuk menggunakan informasi itu untuk keuntungan finansial pribadi,” ujar Jay Clayton, Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York.
Pasca kemenangan taruhan tersebut, Van Dyke disinyalir mencoba menyamarkan jejak kekayaannya melalui mekanisme teknologi finansial yang rumit.
Baca Juga: Pejabat Kontraterorisme Era Donald Trump Diskors, Terseret Dugaan Skandal Sugar Daddy
Ia diduga memindahkan keuntungan sebesar 400.000 dolar AS atau Rp 6,9 miliar ke brankas mata uang kripto luar negeri sebelum mencairkannya ke akun broker.
Reaksi Keras Gedung Putih dan Regulator
Pemerintah Amerika Serikat segera merespons kasus ini sebagai ancaman serius terhadap etika pengabdian prajurit dan keamanan nasional.
Presiden Trump memberikan perumpamaan tajam terhadap tindakan memalukan ini dengan menyamakannya pada skandal perjudian atlet ternama.
“Itu seperti Pete Rose bertaruh pada timnya sendiri,” kata sang presiden saat merujuk pada pemain bisbol yang dilarang bertanding selamanya.
Trump juga menyatakan kekhawatirannya terhadap tren global yang menjadikan peristiwa geopolitik dan peperangan sebagai ajang kasino internasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Pria Yahudi Ditangkap karena Pakai Kippah Bergambar Bendera Israel dan Palestina
-
Berlabel Pupuk! Polisi Sita 1,9 Ton Sianida Asal Filipina dari Kapal yang Kandas di Gorontalo
-
Italia Respon Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026
-
Kenapa Indonesia Tidak Bisa Pungut Tarif di Selat Malaka, Akal-akalan Malaysia atau Tabrak Hukum?
-
263 Napi Risiko Tinggi Dipindah ke Nusakambangan, Terbanyak Asal Riau!
-
Wacana Tarif Purbaya, Menhan Malaysia Tegas: Tak Ada Negara Bisa Kuasai Selat Malaka!
-
Resmi Disahkan! Panduan Lengkap UU PPRT: Apa yang Berubah bagi Majikan dan Pekerja?
-
Aiptu YS Diduga Jadi Broker Proyek Rp16 M di Bekasi, IPW Desak PTDH dan Tersangka
-
'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran
-
Singgung Kasus Rocky Gerung, Todung Tak Yakin Saiful Mujani Berakhir di Pengadilan