-
Jurnalis senior Amal Khalil tewas akibat serangan udara ganda militer Israel di Al-Tayri.
-
Korban dikenal sebagai wartawan pemberani yang konsisten mendokumentasikan dampak agresi di Lebanon.
-
Pemerintah Lebanon mengutuk peristiwa ini sebagai kejahatan perang dan menuntut keadilan internasional.
Suara.com - Amal Khalil menghembuskan napas terakhirnya di tanah kelahirannya akibat serangan udara pasukan Israel.
Kepergian jurnalis veteran ini meninggalkan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Lebanon yang mengenalnya sebagai pelapor garis keras.
Dikutip dari MME, ia bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan simbol keberanian yang tumbuh bersama sejarah pendudukan di wilayah selatan.
Dunia pers kehilangan sosok pionir yang mendedikasikan hidupnya untuk menyingkap realita di bawah bayang-bayang agresi militer.
Tragedi ini memperpanjang daftar panjang jurnalis yang menjadi target serangan saat menjalankan tugas kemanusiaan.
Peristiwa nahas tersebut terjadi saat Amal sedang menuju lokasi serangan sebelumnya di kawasan Al-Tayri.
Kendaraan di depan Amal dan fotografer Zeinab Faraj hantam rudal pertama, memaksa mereka berlindung di sebuah rumah.
Serangan kedua kemudian menghantam bangunan tempat mereka bernaung hingga meruntuhkan seluruh struktur dindingnya.
Tim penyelamat sempat terhambat oleh tembakan aktif sebelum akhirnya menemukan jenazah Amal di bawah reruntuhan.
Baca Juga: PM Lebanon Sebut Israel Lakukan Kejahatan Perang Usai Serangan Udara Tewaskan Jurnalis Al Akhbar
“Amal hadir di setiap rumah. Setiap rumah di Lebanon telah kehilangan dia,” ujar Ali Khalil, saudara laki-lakinya.
Jejak Langkah Jurnalis Perlawanan
Sosok Amal dikenal sangat murah hati dalam berbagi informasi dan akses bagi rekan-rekan jurnalis muda.
“Amal menyerupai wilayah selatan dalam segala detailnya – semilir anginnya yang manis, lembah-lembahnya, pegunungan, dan rumah-rumah tuanya. Dia menyerupai semua itu,” kenang saudaranya.
Ketajaman tulisannya mulai terasah sejak bergabung dengan surat kabar Al-Akhbar pada tahun 2006 silam.
Ia tidak pernah gentar meski sering menerima intimidasi dan ancaman pembunuhan karena membongkar kasus korupsi.
“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas semua yang dia lakukan untuk kami jurnalis muda,” ungkap Hussein Chaabane.
Bagi Amal, jurnalisme adalah alat perjuangan untuk membela hak-hak warga sipil yang tertindas.
“Dia begitu murah hati bahkan jika kami adalah pesaing. Dia tidak pernah ragu dalam berbagi kontak, sebuah kunci – dan dia memiliki semua kunci di selatan,” tambah Chaabane.
Meski memiliki kesempatan untuk menjauh dari zona bahaya, ia memilih tetap berada di sisi masyarakat.
“Dia mengenalnya seperti telapak tangannya sendiri dan dia membagikan cinta serta dedikasi ini kepada semua orang yang membutuhkannya,” jelas rekan sejawatnya.
Perdana Menteri Nawaf Salam secara tegas menyebut tindakan ini sebagai kejahatan perang yang nyata.
Suara Kebenaran yang Tak Terbungkam
Pemerintah Lebanon berkomitmen untuk membawa kasus pembunuhan ini ke jalur hukum internasional demi keadilan.
“Pembunuhan Amal adalah pembunuhan terhadap seorang perempuan perlawanan,” tegas pembuat film Bachir Abou Zeid.
Amal dipandang sebagai ancaman oleh pihak militer karena dokumentasinya yang sangat akurat tentang infrastruktur sipil.
“Israel membunuhnya karena dia adalah jurnalis perlawanan, bukan sekadar karena dia seorang jurnalis,” lanjut Abou Zeid.
Kini, warisan karyanya menjadi bukti sejarah yang akan terus hidup meskipun raganya telah tiada.
Selama bertahun-tahun, Amal menolak untuk tunduk pada batasan wilayah yang ditetapkan oleh pasukan penjajah.
“Tidak sedetik pun Amal mematuhi instruksi Israel tentang ke mana dia bisa pergi,” kata Abou Zeid.
Cintanya pada tanah air jauh melampaui aturan konvensional dalam menjalankan profesi yang penuh risiko.
“Amal bukanlah jurnalis dalam pengertian konvensional profesi ini. Cintanya pada tanah air dan rakyatnya melampaui segalanya,” tambahnya.
Baginya, menyampaikan penderitaan rakyat adalah tugas suci yang tidak bisa ditawar oleh tekanan manapun.
Menolak Menjadi Pusat Perhatian
Meskipun mulai memproduksi konten video, Amal selalu bersikeras untuk tetap berada di balik layar.
“Bagi saya, itu sederhana: saya di sini untuk menceritakan kisah-kisah orang-orang, bukan untuk menjadi cerita itu sendiri,” kata Amal.
Ia merasa bahwa fokus utama jurnalisme harus tetap pada korban dan realitas lapangan yang terjadi.
Keyakinan revolusionernya mengajarkan untuk selalu tegak berdiri menghadapi segala bentuk penindasan yang ada.
“Keberpihakan saya kepada orang-orang di selatan, kehadiran saya di antara mereka sejak perang Juli 2006, selalu menjadi pilihan yang tepat. Mereka selalu hidup sesuai dengan iman yang ditempatkan pada mereka,” ucapnya dalam wawancara terakhir.
Kehilangan Amal Khalil menciptakan kekosongan besar dalam dunia informasi independen di wilayah Lebanon Selatan.
“Mereka akan tumbuh lebih kuat, lebih teguh, dan lebih berkomitmen pada kompas yang tak tergoyahkan ini, menuju kebenaran, dan menuju Palestina,” pesannya untuk masa depan.
Para kolega berjanji akan melanjutkan misi yang telah dimulai oleh mendiang demi kemerdekaan pers.
“Kematian Amal akan meninggalkan kekosongan, yang sangat besar, yang perlu kita isi,” pungkas Hussein Chaabane.
Semangatnya akan terus menginspirasi generasi jurnalis berikutnya untuk tidak pernah takut menyuarakan kebenaran.
Amal Khalil adalah jurnalis senior yang lahir di tengah pendudukan Israel pada 1984 dan besar dalam atmosfer perang saudara.
Ia menghabiskan 20 tahun kariernya di Al-Akhbar untuk meliput korupsi, hak perempuan, dan kejahatan perang di Lebanon Selatan.
Kematiannya di Al-Tayri pada 2024 menjadi sorotan internasional terkait keselamatan pekerja media di zona konflik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Pungli Berjamaah di Dinas ESDM Jatim: 19 Pegawai Kembalikan Duit 'Panas' Rp707 Juta ke Jaksa
-
Pria Yahudi Ditangkap karena Pakai Kippah Bergambar Bendera Israel dan Palestina
-
Berlabel Pupuk! Polisi Sita 1,9 Ton Sianida Asal Filipina dari Kapal yang Kandas di Gorontalo
-
Tentara Khusus AS Ditangkap Usai Skandal Tahuran Rp 6,9 Miliar dalam Penangkapan Presiden Maduro
-
Italia Respon Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026
-
Kenapa Indonesia Tidak Bisa Pungut Tarif di Selat Malaka, Akal-akalan Malaysia atau Tabrak Hukum?
-
263 Napi Risiko Tinggi Dipindah ke Nusakambangan, Terbanyak Asal Riau!
-
Wacana Tarif Purbaya, Menhan Malaysia Tegas: Tak Ada Negara Bisa Kuasai Selat Malaka!
-
Resmi Disahkan! Panduan Lengkap UU PPRT: Apa yang Berubah bagi Majikan dan Pekerja?
-
Aiptu YS Diduga Jadi Broker Proyek Rp16 M di Bekasi, IPW Desak PTDH dan Tersangka