- Saiful Mujani mengkritik Presiden Prabowo di UIN Jakarta pada 23 April 2026 karena dinilai mengancam konstitusi serta demokrasi.
- Pemerintah dianggap ingin kembali ke UUD 1945 asli yang berpotensi menghilangkan pemilihan presiden langsung dan membatasi masa jabatan.
- Saiful menyoroti berbagai pelanggaran konstitusi, penyalahgunaan wewenang, kebijakan fiskal yang buruk, serta pernyataan presiden yang membatasi ruang kritik.
Suara.com - Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta, Saiful Mujani, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia bahkan menyebut Prabowo layak diturunkan dari jabatannya karena dinilai mengancam konstitusi dan demokrasi.
“Presiden Prabowo harus diturunkan karena mengancam konstitusi,” kata Saiful dalam diskusi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Jakarta, Rabu (23/4/2026).
Salah satu poin utama yang dikritik Saiful adalah pandangan Prabowo yang ingin mengembalikan sistem ketatanegaraan ke Undang-Undang Dasar 1945 versi 18 Agustus 1945 yang belum amandemen.
Menurutnya, langkah tersebut berpotensi menggerus prinsip demokrasi yang telah dibangun sejak era reformasi.
“Kita tahu kalau kembali ke sana tidak ada pemilihan presiden langsung, tidak ada pembatasan masa jabatan presiden, dan presiden dipilih secara tidak demokratis,” ujarnya.
Ia menilai, sistem tersebut membuka ruang kekuasaan yang tidak terbatas dan menghilangkan mekanisme kontrol terhadap presiden.
Selain itu, Saiful juga menuding adanya pelanggaran konstitusi dalam sejumlah kebijakan pemerintah. Ia menyinggung praktik yang dianggap masuk dalam kategori konflik kepentingan hingga penyalahgunaan kewenangan.
“Melanggar konstitusi, dari KKN kebijakan, mempekerjakan TNI aktif di wilayah sipil, kerja sama luar negeri tanpa melibatkan DPR, alokasi dana pendidikan untuk MBG, pembuatan koperasi desa dan batalion. Saya sebut program itu sebagai gentong babi,” tegasnya.
Menurut dia, rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan perluasan kekuasaan yang tidak sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
Baca Juga: Presiden Prabowo Ingin Perbanyak Jumlah Konser K-Pop di Indonesia
Saiful juga menyoroti aspek ekonomi, khususnya pengelolaan fiskal yang dinilai bermasalah. Pemerintah saat ini dikritik tidak cukup kompeten dalam mengelola kebijakan fiskal, yang berdampak pada melemahnya kinerja ekonomi nasional.
Tak hanya kebijakan, Saiful juga mengkritik pernyataan-pernyataan Presiden yang dinilai tidak mencerminkan sikap kenegaraan. Menurutnya, sejumlah pernyataan justru berpotensi mempersempit ruang kritik di ruang publik.
“Pernyataan-pernyataan yang tidak presidensial yang itu tidak pantas, saya sebut tadi seperti menertibkan pengamat kritis, pengamat dibiaya asing, terus para demonstran dianggap makar dan dianggap teroris,” katanya.
Saiful menilai, kondisi tersebut menjadi bagian dari indikator kemunduran demokrasi jika tidak dikoreksi. Ia menegaskan, kritik yang disampaikan bukan sekadar persoalan politik, tetapi menyangkut arah sistem ketatanegaraan dan kualitas demokrasi di Indonesia ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Kemenkes Libatkan NU dan Muhammadiyah, Lawan Hoaks Vaksin yang Masih Marak
-
Rekaman Mengerikan Dua Pesawat Nyaris Adu Banteng di Bandara JFK
-
Belum Ada APAR untuk Mobil Listrik, DPRD DKI Peringatkan Risiko Kebakaran
-
Cara Culas Prajurit AS Untung Rp6,5 Miliar dari Operasi Penangkapan Nicolas Maduro
-
Peringati Hari KI Sedunia, DJKI Gelar Layanan di Car Free Day Serentak 33 Provinsi
-
Babak Baru Tragedi Benhil: Polisi Bidik Agen dan Majikan Buntut PRT Tewas Terjun dari Lantai 4!
-
Gatot Nurmantyo dan Eks Panglima TNI Bahas Izin Lintas Udara, Menhan Sjafrie: Kepentingan Nasional
-
Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS
-
Nama Teddy hingga Maruli Diseret, Saiful Mujani Kritik Kebijakan Presiden Perluas Peran TNI di Sipil
-
AS Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran, Targetkan Selat Hormuz hingga Infrastruktur Militer