News / Internasional
Rabu, 29 April 2026 | 10:09 WIB
Ilustrasi Opec
Baca 10 detik
  • Uni Emirat Arab resmi meninggalkan OPEC demi mengutamakan kepentingan nasional dan produksi minyak mandiri.

  • Konflik Iran dan perang energi global menjadi latar belakang pengunduran diri strategis Abu Dhabi.

  • Arab Saudi kini menanggung beban stabilitas harga minyak sendirian pasca keluarnya Uni Emirat Arab.

Suara.com - Langkah berani Uni Emirat Arab meninggalkan keanggotaan OPEC menjadi sinyal kuat runtuhnya dominasi kartel minyak dalam mengatur pasar energi global.

Keputusan ini diambil saat dunia sedang menghadapi guncangan ekonomi hebat akibat eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Dikutip dari Al Jazeera, mundurnya negara produsen besar ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan strategi untuk memerdekakan kapasitas produksi mereka dari belenggu kuota kolektif.

Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Shutterstock)

Alih-alih bertahan dalam solidaritas kelompok, Abu Dhabi memilih jalur mandiri guna mengamankan target ekonomi jangka panjang yang lebih agresif.

Keluarnya UEA secara resmi pada hari Jumat mendatang akan mengubah peta kekuatan eksportir minyak di tengah ancaman jalur pelayaran Selat Hormuz.

Pihak berwenang menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari evaluasi mendalam terhadap visi ekonomi dan profil energi negara yang terus berkembang.

“Selama waktu kami di organisasi tersebut, kami memberikan kontribusi signifikan dan bahkan pengorbanan yang lebih besar demi keuntungan semua orang,” jelas pernyataan resmi media pemerintah.

Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].

“Namun, waktunya telah tiba untuk memfokuskan upaya kami pada apa yang didiktekan oleh kepentingan nasional kami,” tambah keterangan tersebut.

Suhail Mohamed al-Mazrouei selaku Menteri Energi UEA menegaskan bahwa kebijakan ini murni didasarkan pada tinjauan strategi energi internal secara saksama.

Baca Juga: Iran Absen di Rapat FIFA karena Masalah Visa, Keikutsertaan di Piala Dunia 2026 Masih Tanda Tanya

Beliau juga mengungkapkan bahwa keputusan besar ini diambil tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi.

“Ini adalah keputusan kebijakan. Ini dilakukan setelah melihat secara cermat kebijakan saat ini dan masa depan terkait tingkat produksi,” tutur sang menteri kepada kantor berita Reuters.

Kepergian salah satu anggota kunci ini diprediksi akan memicu kekacauan koordinasi di internal kelompok yang selama ini berusaha tampil solid.

Padahal, para produsen di kawasan Teluk sedang berjuang keras mengamankan pengiriman komoditas melalui titik rawan Selat Hormuz yang kian mencekam.

Konflik yang melibatkan Iran telah membuat arus keluar masuk sepertiga pasokan gas alam cair dan seperlima minyak mentah dunia terganggu.

Sentimen negatif ini diperparah oleh tekanan politik global yang sering menuding organisasi ini melakukan manipulasi harga demi keuntungan sepihak.

Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat sebelumnya sempat melontarkan kritik pedas dengan menuduh OPEC sedang merampok dunia melalui inflasi harga.

Trump bahkan secara eksplisit mengaitkan bantuan militer Amerika di kawasan Teluk dengan kewajiban para produsen untuk menjaga harga minyak tetap rendah.

“Memanfaatkan hal ini dengan membebankan harga minyak yang tinggi,” ungkap Trump saat mengkritik perlindungan keamanan yang diberikan AS kepada anggota kartel.

UEA sendiri telah memiliki sejarah panjang dalam organisasi ini sejak bergabung melalui Emirat Abu Dhabi pada tahun 1967 silam.

Namun daya tawar kartel yang berbasis di Wina ini mulai melemah seiring dengan meroketnya produksi minyak mentah dari Amerika Serikat.

Persaingan ekonomi antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi di wilayah Laut Merah juga ditengarai menjadi faktor pemicu keretakan hubungan ini.

Meskipun sempat bersatu melawan pemberontak Houthi di Yaman pada 2015, koalisi kedua negara tersebut akhirnya mengalami perpecahan di akhir Desember.

Ketegangan memuncak ketika pihak Saudi melakukan serangan udara terhadap pengiriman senjata yang dituding menuju kelompok separatis dukungan UEA.

Lembaga riset Rystad Energy menilai bahwa mundurnya UEA akan membawa perubahan fundamental bagi kekuatan kolektif para produsen minyak.

“Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari, dan ambisi untuk memproduksi lebih banyak, benar-benar mencabut alat utama dari tangan kelompok tersebut,” tegas Jorge Leon dari Rystad Energy.

Jorge menambahkan bahwa bagi produsen dengan biaya rendah, sistem kuota kini dianggap sebagai penghambat keuntungan finansial di saat permintaan mendekati puncak.

“Dengan permintaan yang mendekati puncaknya, kalkulasi bagi produsen dengan barel berbiaya rendah berubah cepat, dan menunggu giliran di dalam sistem kuota mulai terlihat seperti membiarkan uang tertinggal di atas meja,” lanjutnya.

Kondisi ini memaksa Arab Saudi untuk bekerja lebih keras sendirian dalam menjaga stabilitas harga tanpa bantuan tenaga cadangan dari UEA.

“Arab Saudi sekarang dibiarkan melakukan lebih banyak beban berat dalam stabilitas harga, dan pasar kehilangan salah satu dari sedikit peredam guncangan yang tersisa,” pungkas Leon.

Kini, pasar energi internasional harus bersiap menghadapi volatilitas baru tanpa kepastian koordinasi dari salah satu pemain paling ambisius di dunia.

Prahara ini bermula dari akumulasi ketegangan antara keinginan Uni Emirat Arab untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional dan aturan kuota ketat yang ditetapkan OPEC+.

Di sisi lain, eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menciptakan ketidakpastian jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

Ketidakharmonisan hubungan diplomatik antara UEA dan Arab Saudi dalam kebijakan regional di Yaman turut mempercepat keputusan Abu Dhabi untuk keluar dari organisasi yang telah mereka tempati selama lebih dari lima dekade.

Load More