- Warga Timor Tengah Selatan menghadapi krisis air bersih dan sanitasi yang memicu angka stunting mencapai 56,8 persen.
- Wahana Visi Indonesia menjalankan program Water for Timor sejak Maret 2026 untuk membangun infrastruktur air bersih.
- Pembangunan jaringan air di lima desa bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan serta mendukung waktu belajar bagi anak-anak.
Suara.com - Bayangkan harus berjalan kaki berjam-jam setiap hari hanya untuk mendapatkan seember air, sementara di sekolah dan rumah, akses sanitasi masih menjadi barang mewah.
Inilah realita pahit yang masih dihadapi ribuan warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan potret buram: hanya 70,72% rumah tangga di TTS yang memiliki akses sanitasi layak, dan 75,48% yang mendapatkan akses air minum layak.
Di tengah krisis ini, Wahana Visi Indonesia (WVI) bergerak melalui kampanye Water for Timor. Sejak Maret 2026, program ini fokus mendampingi masyarakat membangun infrastruktur air bersih demi masa depan lebih dari 2.000 orang di lima desa dan tiga sekolah sasaran.
Angelina Theodora, National Director Wahana Visi Indonesia, menegaskan bahwa air bersih adalah kunci pembuka bagi kesejahteraan sosial yang lebih luas.
“WVI percaya bahwa setiap anak berhak untuk hidup dan bertumbuh di lingkungan yang mendukung perkembangan setiap anak tersebut. Namun sayangnya akses air masih terasa seperti privilege di beberapa titik di Indonesia, termasuk di Timor Tengah Selatan,” ungkap Angelina dalam keterangannya dikutip, Selasa (29/4/2026).
"Aksi kami melalui Water for Timor bukan sekadar pembangunan infrastruktur belaka, namun membantu anak-anak mendapatkan haknya untuk dapat bertumbuh, belajar secara optimal, dan terbebas dari penyakit," katanya menambahkan.
Berikut adalah 5 fakta krusial mengapa krisis air di TTS harus segera diatasi:
1. Terjebak dalam Kemarau Panjang yang Melelahkan
Baca Juga: PAM JAYA Lanjutkan Distribusi Toren Gratis, Kini Sasar 270 Hunian di Jakarta Utara
Kabupaten TTS memiliki karakter iklim kering yang ekstrem. Data BMKG mencatat musim kemarau di wilayah ini bisa berlangsung selama 7 hingga 8 bulan setiap tahunnya. Kondisi tandus ini memaksa warga berhemat air secara ekstrem, yang dampaknya merembet pada sulitnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Mencuci tangan dengan sabun atau mengonsumsi air minum yang benar-benar aman seringkali menjadi prioritas sekian karena terbatasnya pasokan.
2. Hubungan Kelam Antara Krisis Air dan Stunting
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatatkan angka yang mengejutkan: prevalensi stunting di TTS mencapai 56,8%. Angka ini melonjak jauh di atas rata-rata nasional yang berada di angka 19,8%.
Tanpa air bersih, anak-anak rentan terkena diare dan infeksi berulang. Penyakit-penyakit inilah yang menguras nutrisi tubuh, melemahkan imunitas, dan akhirnya memicu gangguan pertumbuhan kronis (stunting) sejak dini.
3. Membebaskan Waktu Anak untuk Masa Depan
Berita Terkait
-
Mengubah Hutan Bambu Jadi Sumber Kehidupan, Langkah Nyata Green Action 2026
-
Sasar Pelanggan Kategori 2A, PAM Jaya Distribusikan Puluhan Toren untuk Ibu-ibu di Koja
-
PAM JAYA Lanjutkan Distribusi Toren Gratis, Kini Sasar 270 Hunian di Jakarta Utara
-
Jaga Kelestarian Alam, Ekowisata Mangrove di Lombok Timur Ini 'Mengalah' Demi Napas Lingkungan
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim