-
Level teror Inggris naik ke posisi Severe karena potensi serangan sangat mungkin terjadi.
-
Serangan di Golders Green menjadi pemicu utama pengetatan keamanan nasional secara masif.
-
Pemerintah menambah anggaran keamanan guna melindungi komunitas yang menjadi sasaran terorisme.
Tersangka utama kasus Golders Green, Essa Suleiman, diketahui sempat masuk dalam pengawasan program antiteror "Prevent" pada tahun 2020.
Namun, rekam jejak menunjukkan bahwa kasusnya ditangguhkan pada tahun yang sama sebelum ia kembali melakukan aksi kekerasan pekan ini.
Kegagalan sistem pengawasan ini menjadi catatan serius bagi kepolisian dalam mengevaluasi efektivitas program deradikalisasi di Inggris.
Selain penusukan, tersangka juga diduga terlibat dalam insiden keamanan lainnya di wilayah London Tenggara pada hari sebelumnya.
Fakta ini memperkuat indikasi bahwa ancaman teror sering kali muncul dari individu yang sebelumnya sudah masuk dalam radar otoritas.
Perdana Menteri Sir Keir Starmer telah menjanjikan tambahan dana sebesar £25 juta untuk memperkuat pengamanan di sekolah dan rumah ibadah.
Langkah ini menyusul rentetan aksi vandalisme dan pembakaran ambulans milik lembaga amal Yahudi yang terjadi beberapa bulan terakhir.
Wali Kota London, Sir Sadiq Khan, memastikan kehadiran personel kepolisian bersenjata akan lebih terlihat di titik-titik vital ibu kota.
Khan mengatakan, "Saya ingin meyakinkan semua warga London dan pengunjung bahwa kami melakukan segala kemungkinan untuk melindungi kota kami dan menjaga semua komunitas kami tetap aman."
Baca Juga: Sering Terjadi Penembakan, Australia Godok Aturan Jaga Ketat Perayaan Orang Yahudi
Tindakan tegas juga akan diambil terhadap organisasi atau individu yang terbukti menyebarkan narasi kebencian dan radikalisme di tanah Inggris.
Kenaikan status menjadi Severe terakhir kali terjadi pada November 2021 setelah peristiwa bom di Rumah Sakit Wanita Liverpool dan pembunuhan anggota parlemen Sir David Amess.
Penetapan level ini dilakukan secara independen oleh Joint Terrorism Analysis Centre (JTAC) berdasarkan data intelijen terbaru mengenai pola serangan ekstremis kanan dan global yang menyasar komunitas rentan di Inggris.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Dana Pendidikan Dikuras Buat MBG, Pemerintah Terancam Gugatan Ganti Rugi Triliunan!
-
Guru Keluhkan MBG Ganggu KBM, Pembagian Makanan hingga Ompreng Sita Waktu Belajar
-
Bukan Gerakan Makar, Aliansi Cipayung: Cara Aparat Memperlakukan Kami Seolah Kami Melakukan Kudeta
-
Apakah Harga Minyak Dunia Kembali Normal Setelah AS - Iran Damai?
-
Diplomasi Prabowo Gagal? Malaysia Lebih Unggul Ambil Peluang Ketimbang Indonesia
-
Istana Ungkap Strategi Kembalikan Kepercayaan Publik di Tengah Dinamika Nasional
-
Sindir DPR dan Prabowo-Gibran Gagal! Mahasiswa Kirim Karangan Bunga Duka ke Senayan
-
Filipina Kembali Gempa Bumi Besar 6,2 SR
-
Sakit Hati Ditagih Utang, Cucu di Banyumas Bunuh Nenek dan Dibuang ke Sumur Demi Harta
-
Prabowo Dinilai Cuma 'Cebokin' Rezim Lama: 'Ada yang Happy Kalau Didemo'