-
Ledakan tambang batu bara di Kolombia mengakibatkan sembilan pekerja tewas dan enam selamat.
-
Insiden dipicu akumulasi gas metana meski inspeksi keamanan sudah dilakukan sebelumnya.
-
Otoritas menekankan pentingnya ventilasi dan manajemen debu batu bara di area kerja.
Suara.com - Kematian sembilan pekerja di tambang batu bara La Ciscuda menjadi bukti nyata tingginya risiko keamanan kerja bawah tanah.
Badan Pertambangan Nasional (ANM) melaporkan insiden ini menghancurkan operasional tambang di wilayah Sutatausa, Provinsi Cundinamarca.
Dikutip dari Sputnik, tragedi ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas pemantauan gas metana yang seharusnya dilakukan secara nonstop.
Keberhasilan evakuasi enam orang lainnya tidak mampu menutupi duka atas hilangnya nyawa para buruh tambang tersebut.
Data otoritas menunjukkan bahwa hanya sedikit pekerja yang mampu menyelamatkan diri saat ledakan hebat terjadi.
"Enam penambang telah diselamatkan dan sembilan tewas dalam kecelakaan kerja di tambang di Sutatausa, Cundinamarca," kata badan tersebut.
Para korban selamat kini tengah menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan terdekat untuk memulihkan trauma.
Laporan awal menyebutkan bahwa sebanyak 15 orang berada di kedalaman saat ledakan maut itu mengguncang area.
Tambang tersebut secara resmi dioperasikan oleh perusahaan operator bernama Carboneras Los Pinos SAS.
Baca Juga: Irlandia Diteror Bom Mobil di Depan Kantor Polisi
Pihak ANM memastikan ledakan dipicu oleh interaksi zat berbahaya di dalam lorong gelap bawah tanah.
Inspeksi teknis pada 9 April sebenarnya telah memberikan sinyal waspada kepada pihak pengelola perusahaan.
Rekomendasi penguatan keselamatan mencakup pembaruan sistem kelembaman untuk menangani penumpukan debu batu bara secara rutin.
Instruksi penutupan bekas tambang dengan emisi metana tinggi juga menjadi poin utama yang harus ditaati.
Ancaman longsor dan potensi ledakan gas telah dipetakan jauh sebelum peristiwa mematikan ini terjadi.
Akumulasi gas metana memerlukan sistem ventilasi yang sangat efektif untuk mencegah tekanan udara mencapai ambang batas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Polisi Buru Kiai Ashari! Tersangka Cabul Santri Ponpes Pati Bakal Dijemput Paksa Jika Mangkir
-
Sedia Payung dan Jas, BMKG Ingatkan Jakarta Potensi Hujan Sore Ini!
-
'Takut Diamuk Massa': Alasan Klasik di Balik Tabrak Lari, Mengapa Jalanan Kita Begitu Beringas?
-
Ketum TP PKK Ajak Warga Sulsel Tingkatkan Imunisasi Anak Demi Generasi Sehat
-
Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Mendagri Tito Bersama Menteri PKP Tinjau Program BSPS di Balikpapan
-
Kemnaker Siapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Dukung Pertumbuhan Pasar EV dan Green Jobs
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Kritik Pelibatan TNI dalam Pembekalan LPDP, TB Hasanuddin: Perlu Dikaji, Tak Sesuai Tupoksi!
-
BPJS Kesehatan dan BPKP Perkuat Tata Kelola Jaga Keberlanjutan JKN