News / Nasional
Selasa, 05 Mei 2026 | 20:09 WIB
Tangkapan layar - Presiden Prabowo Subianto (kiri) menerima buku rekomendasi dan usulan dari Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie dalam seremoni di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Baca 10 detik
  • Komisi Percepatan Reformasi Polri menyerahkan laporan berisi rekomendasi transformasi kepolisian kepada Presiden Prabowo di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
  • Pemerintah memutuskan Polri tetap di bawah Presiden dan mekanisme pengangkatan Kapolri tetap memerlukan persetujuan DPR RI.
  • Reformasi mencakup perubahan UU Polri, penguatan independensi Kompolnas, serta pembatasan limitatif jabatan personel Polri di luar instansi.

Presiden Prabowo Subianto sepakat bahwa Polri tetap berada langsung di bawah kendali Presiden.

"Tadi Presiden juga tanya, kita jelaskan yang kesimpulan kami manfaatnya dibandingkan mudaratnya, mudaratnya lebih banyak. Maka ya sudah kita tidak usulkan itu," kata Jimly.

Senada dengan Jimly, Menko Kumham dan Imipas, Yusril Ihza Mahendra yang juga anggota Komisi, menegaskan bahwa posisi Polri tidak akan bergeser dari struktur saat ini.

"Hal lain juga yang penting adalah bahwa mengenai kedudukan Polri tetap seperti sekarang. Polri langsung berada di bawah presiden dan tidak dibentuk Kementerian Keamanan atau Kementerian Kepolisian atau meletakkan kepolisian di bawah kementerian yang ada sekarang, tapi Polri tetap langsung berada di bawah presiden," kata Yusril.

Selain status lembaga, mekanisme pengangkatan Kapolri juga sempat menjadi perdebatan hangat di internal Komisi.

Sebagian anggota mengusulkan agar pengangkatan Kapolri tidak perlu lagi melalui persetujuan DPR, sementara sebagian lainnya ingin mempertahankan mekanisme yang ada.

Setelah mendengarkan berbagai pertimbangan, Presiden Prabowo memutuskan untuk tetap menggunakan mekanisme lama.

"Setelah berdiskusi plus-minusnya, Bapak Presiden memberi arahan: 'Ya sudah seperti sekarang saja'," kata Jimly.

Jimly menjelaskan lebih lanjut bahwa mekanisme yang dipilih adalah right to confirm dari parlemen, di mana Presiden mengajukan satu nama calon Kapolri untuk disetujui atau tidak disetujui oleh DPR.

Baca Juga: Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden

"Baik untuk Polri maupun Panglima TNI sesuai dengan ketentuan undang-undang, itu bukan fit and proper test di DPR tapi disetujui atau tidak disetujui. Itu namanya right to confirm dari parlemen. Jadi beda. Jadi presiden hanya mengajukan satu nama, DPR boleh setuju boleh tidak. Nah, walaupun dalam praktik selama ini selalu disetujui. Nah, jadi bapak presiden sesudah berdiskusi panjang memutuskan 'Ya sudah tetap aja seperti sekarang'," kata Jimly.

Yusril Ihza Mahendra menambahkan bahwa keputusan Presiden ini sudah final untuk mengikuti prosedur hukum yang berlaku saat ini.

"Ada dua pendapat dan pak presiden sudah memilih bahwa beliau tetap akan mengikuti apa yang berlaku sekarang, yaitu beliau akan mengajukan calon Kapolri itu kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan, baru kemudian beliau akan mengangkat calon yang diajukan itu sebagai Kapolri," kata Yusril.

Penguatan Kompolnas Menjadi Lembaga Independen

Poin besar lainnya dalam 10 buku laporan tersebut adalah penguatan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Presiden Prabowo menyetujui usulan agar Kompolnas tidak lagi bersifat ex-officio dan berubah menjadi lembaga yang lebih independen dengan kewenangan yang mengikat secara hukum.

Load More