Suara.com - Para aktivis Greenpeace Southeast Asia (GPSEA) mendesak para pemimpin kawasan dalam KTT ASEAN ke-48 untuk segera mengatasi krisis polusi plastik dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Seruan itu muncul di tengah meningkatnya tragedi lingkungan di Asia Tenggara, termasuk longsor sampah di TPST Bantar Gebang yang menelan korban jiwa.
Greenpeace menilai berbagai bencana tersebut bukan lagi kasus terpisah, melainkan tanda kegagalan sistemik yang mengancam lingkungan sekaligus hak asasi manusia (HAM).
Krisis plastik di Asia Tenggara kini berada pada level mengkhawatirkan. Enam negara di kawasan ini tercatat menyumbang sekitar 31 juta ton sampah plastik setiap tahun.
Sementara di Indonesia, jurnal “Krisis Sampah Plastik dan Arah Kebijakan Lingkungan 2025: Dari Daratan hingga Lautan Nusantara” mencatat produksi sampah plastik mencapai 12,4 juta ton pada 2025 atau naik 20 persen dibandingkan 2020.
Perwakilan Greenpeace Malaysia, Dunxin Wen, mengatakan masyarakat yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis justru menjadi kelompok yang paling terdampak.
“Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang menimpa komunitas yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis ini. Para pemimpin ASEAN tidak bisa hanya datang ke KTT, menandatangani deklarasi, dan menyebutnya sebagai terobosan. Kita juga berhak atas lingkungan yang aman, bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain mencemari lingkungan, polusi plastik juga berdampak langsung pada kesehatan dan ekonomi masyarakat. Mikroplastik bahkan disebut telah mengontaminasi 14 persen tanaman pangan global.
Perwakilan Greenpeace Filipina, Marian Ledesma, mengatakan plastik mencemari makanan dan air, merusak ekosistem, serta membebani kelompok rentan seperti perempuan, masyarakat adat, dan warga berpenghasilan rendah.
Baca Juga: Dari Kantong Kuning dan Hijau, Jakarta Bisa Mulai Benahi Sampahnya
“ASEAN tidak bisa terus mengabaikan krisis ini,” kata Marian.
Sebagai solusi, GPSEA mendorong ASEAN memasukkan intervensi hulu yang lebih agresif ke dalam Regional Plan of Action (RPA). Greenpeace menargetkan pengurangan produksi plastik global hingga 75 persen pada 2040 dan penghapusan plastik sekali pakai seperti kemasan saset yang mendominasi polusi di Asia Tenggara.
Greenpeace juga mendorong transisi menuju sistem reuse dan refill sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Menurut mereka, krisis plastik tidak bisa dipisahkan dari ketergantungan pada bahan bakar fosil karena sekitar 90 persen siklus hidup plastik menghasilkan emisi karbon.
Perwakilan Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, menegaskan Asia Tenggara tidak lagi punya banyak waktu untuk menunda perubahan.
“Kita tidak punya banyak waktu untuk berubah. Jika perubahan tidak segera dilakukan, kita akan terus terkunci pada jebakan bahan bakar fosil, serta sulit bertransisi ke pilihan alternatif dan terbarukan,” ujarnya.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali