- Kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada 27 April 2026 menyoroti tingginya risiko keamanan pada perlintasan sebidang liar.
- Warga lokal mengelola perlintasan liar sebagai sumber penghasilan melalui sistem organisasi informal dan proses regenerasi "ngadal".
- Para penjaga bekerja secara otodidak tanpa pelatihan resmi, menjadikan aktivitas tersebut sebagai mata pencaharian turun-temurun warga setempat.
Bagi Al, pekerjaan ini juga merupakan warisan dari sang kakak. Ketika sang kakak mendapatkan pekerjaan formal, posisi penjaga perlintasan tersebut diserahkan kepadanya. Hal ini menunjukkan bagaimana slot menjaga rel dianggap sebagai aset pekerjaan bagi warga setempat.
"Pas abang-abang saya juga kan emang jaga awalnya, cuman abang saya dapet kerjaan. Saya yang gantiin dia di hari Selasa," ujarnya.
Al tercatat melakoni profesi ini selama belasan tahun sebelum akhirnya berhenti setelah mendapatkan pekerjaan tetap.
"Ya bisa 15 tahunan adalah, cuman saya udahan jaga pas dapet kerja aja. Udah ga pernah jaga sekarang," ujarnya.
Kisah Al menjadi potret nyata kompleksitas perlintasan sebidang liar di Indonesia.
Di satu sisi, kehadiran mereka membantu warga menyeberang di titik-titik yang tidak terjaga secara resmi oleh PT KAI.
Namun di sisi lain, risiko kecelakaan seperti yang baru saja terjadi di Bekasi Timur tetap menjadi ancaman nyata. (Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Setelah Ada Kecelakaan KRL, KAI Baru Benahi Perlintasan Sebidang
-
Terungkap! Taksi Green SM yang Mogok di Rel Bekasi Timur Ternyata Terlambat Servis Hingga 9.000 KM
-
Detik-Detik Sopir Taksi Green SM Selamat dari Maut Sebelum KRL Ditabrak Argo Bromo
-
Kisah Penjaga Perlintasan di Jogja: Lari Kibarkan Bendera Merah Hentikan Kereta saat Ada Mobil Mogok
-
Maut Mengintai di Balik 'Jalan Pintas', 57 Nyawa Melayang Sia-sia di Jalur Kereta Daop 1 Jakarta
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
Bos Barong Grup: Rokok Ilegal Jangan Cuma Ditindak, Ajak Masuk Jalur Legal
-
Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Pandemi Baru Seperti COVID-19
-
Mengenal Istilah Ngadal: Tradisi 'Magang' Anak SMP Jadi Penjaga Perlintasan Rel Liar
-
Rekam Jejak Kontroversial Sara Duterte: Dari Pukul Petugas hingga Ancam Pembunuhan Ferdinand Marcos
-
Sistem Biokontainment Amerika Serikat Siaga Penuh Antisipasi Ledakan Kasus Hantavirus
-
Puan Maharani Soal Larangan Nobar Film 'Pesta Babi', Minta DPR Panggil Pihak Terkait
-
SMAN 1 Pontianak Tuntut Klarifikasi LCC 4 Pilar MPR RI: Juri Diduga Tak Konsisten
-
Mencekam Hantavirus di Kapal MV Hondius, dari Pasien Kritis Sempat Didiagnosis Cuma Mengalami Stres
-
Minta Maaf ke Siswa SMAN 1 Pontianak, Hetifah Sjaifudian Perjuangkan Tanding Ulang LCC 4 Pilar
-
Datang ke RSCM, Oditur Militer Pulang Tanpa Bisa Temui Andrie Yunus