News / Nasional
Selasa, 12 Mei 2026 | 12:10 WIB
Foto sebagai ILUSTRASI: Perlintasan Dekat Stasiun Bekasi Timur Dipasangi Palang Pintu. (dok. PT KAI)
Baca 10 detik
  • Kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada 27 April 2026 menyoroti tingginya risiko keamanan pada perlintasan sebidang liar.
  • Warga lokal mengelola perlintasan liar sebagai sumber penghasilan melalui sistem organisasi informal dan proses regenerasi "ngadal".
  • Para penjaga bekerja secara otodidak tanpa pelatihan resmi, menjadikan aktivitas tersebut sebagai mata pencaharian turun-temurun warga setempat.

Bagi Al, pekerjaan ini juga merupakan warisan dari sang kakak. Ketika sang kakak mendapatkan pekerjaan formal, posisi penjaga perlintasan tersebut diserahkan kepadanya. Hal ini menunjukkan bagaimana slot menjaga rel dianggap sebagai aset pekerjaan bagi warga setempat.

"Pas abang-abang saya juga kan emang jaga awalnya, cuman abang saya dapet kerjaan. Saya yang gantiin dia di hari Selasa," ujarnya.

Al tercatat melakoni profesi ini selama belasan tahun sebelum akhirnya berhenti setelah mendapatkan pekerjaan tetap.

"Ya bisa 15 tahunan adalah, cuman saya udahan jaga pas dapet kerja aja. Udah ga pernah jaga sekarang," ujarnya.

Kisah Al menjadi potret nyata kompleksitas perlintasan sebidang liar di Indonesia.

Di satu sisi, kehadiran mereka membantu warga menyeberang di titik-titik yang tidak terjaga secara resmi oleh PT KAI.

Namun di sisi lain, risiko kecelakaan seperti yang baru saja terjadi di Bekasi Timur tetap menjadi ancaman nyata. (Tsabita Aulia)

Load More