News / Metropolitan
Selasa, 12 Mei 2026 | 13:07 WIB
Pengendara berhentinsaat kereta melintas di perlintasan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Penjaga perlintasan kereta liar di Jawa Barat memperoleh pendapatan harian hingga lima ratus ribu rupiah dari sumbangan sukarela pengendara.
  • Warga setempat menerapkan sistem jadwal shift yang terstruktur guna memastikan pembagian pendapatan yang merata bagi setiap penjaga perlintasan.
  • PT KAI mengizinkan operasional perlintasan tersebut selama tidak terjadi kecelakaan yang membahayakan nyawa para pengguna jalan di lokasi itu.

Suara.com - Perlintasan kereta api liar seringkali dipandang hanya dari sudut pandang risiko keselamatan dan pelanggaran aturan. Namun, bagi warga yang tinggal di bantarannya, titik-titik rawan ini telah bertransformasi menjadi ekosistem ekonomi informal yang menjanjikan.

Pendapatan dari sumbangan sukarela pengguna jalan ternyata mampu melampaui upah harian pekerja formal pada umumnya.

Seorang mantan penjaga perlintasan liar di salah satu Kawasan di Jawa Barat, Al (31) membeberkan sisi lain dari profesi yang pernah ia geluti selama 15 tahun tersebut. Menurutnya, dalam satu hari kerja penuh, seorang penjaga bisa mengantongi uang ratusan ribu rupiah.

"Kalau yang sehari full ya dari jam setengah tujuh sampe jam setengah empat tuh Rp500 ribu tuh enggak mati lah," ungkap Al saat podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, Selasa (12/5/2026).

Angka tersebut ia peroleh murni dari pemberian sukarela para pengendara yang melintas.

Sistem Kerja Terstruktur

Meski berstatus liar, pengelolaan ekonomi di perlintasan ini tidak dilakukan secara sembarangan. Warga setempat memberlakukan sistem jadwal atau shift yang ketat agar pendapatan bisa terbagi rata antar warga.

"Engga (setiap hari kerja). Makanya kan disitu dibikin sistem jadwal, ada yang hari Selasa, ada yang hari Senin, ada yang hari Rabu. Jadi ganti-ganti orangnya," jelasnya.

Uang Rp500 ribu tersebut merupakan pendapatan bersih per orang dalam satu hari jadwal jaga mereka. Al menyebut bahwa sistem pemberian uang dilakukan secara santun tanpa ada unsur paksaan atau pemerasan.

Baca Juga: Pasar Lagi Goyang, Awas Emosi Bikin Cuan Melayang!

"Dan kita jaganya tuh enggak (minta maksa), kan ada orang yang pakai ember gitu dikecrek gitu kan, terus di langsung-langsungin ke orang, kalau kita ngga ya. Orang ngasih dari tangan ke tangan, orang gak ngasihpun ya lewat, lewat gitu, nggak ada tekanan apa-apa," kata dia

Pengendara melintasi rel perlintasan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Ekosistem ekonomi ini mencapai puncaknya saat menjelang hari raya. Al menceritakan bahwa para pengguna jalan yang sudah terbiasa melintas seringkali memberikan uang lebih sebagai bentuk Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para penjaga rel.

"Dapet (uang sumbangan). Bahkan sampai mendekati lebaran pun banyak orang yang ngasih THR," ungkapnya.

Relasi dengan Otoritas

Keberadaan para penjaga ini bukannya tidak diketahui oleh pihak otoritas. Al menyebut PT Kereta Api Indonesia (KAI) pernah berkomunikasi dengan warga. Namun, ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar ladang ekonomi warga ini tidak ditutup keamanan.

"Karena kan emang KAI pernah bilang jangan sampai ada korban dari palang pintu kereta ini, karena satu aja ada korban, tutup permanen di situ," ujarnya.

Load More