News / Internasional
Senin, 18 Mei 2026 | 14:53 WIB
Ilustrasi pertambangan batubara. [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Peneliti Oxford dan UCL menemukan polusi pembangkit batu bara menurunkan produksi listrik tenaga surya global sebesar 5,8 persen pada 2023.
  • Partikel polusi udara menghalangi sinar matahari mencapai panel surya sehingga dunia kehilangan 111 terawatt-hour energi terbarukan sepanjang tahun tersebut.
  • China mengalami kerugian produksi energi surya terbesar, namun kebijakan pengendalian emisi terbukti mampu mengurangi dampak polusi pada panel surya.

Suara.com - Di banyak negara, panel surya selama ini dipandang sebagai simbol transisi menuju energi bersih. Namun, studi terbaru justru menunjukkan ironi besar dalam transisi energi global: polusi dari pembangkit listrik tenaga batubara ternyata ikut mengurangi kemampuan panel surya menghasilkan listrik.

Riset yang dipimpin peneliti dari University of Oxford dan University College London menemukan bahwa polusi udara dari pembangkit batubara telah menurunkan produksi listrik tenaga surya global hingga 5,8 persen sepanjang 2023. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability.

Dikutip dari Phys.org, ara peneliti menganalisis lebih dari 140 ribu instalasi panel surya di seluruh dunia menggunakan citra satelit dan data atmosfer. Hasilnya, partikel polusi di udara atau aerosol terbukti menghalangi cahaya matahari mencapai panel surya secara maksimal.

Ilustrasi panel surya (Freepik/freepik)

Dampaknya tidak kecil. Pada 2023, dunia diperkirakan kehilangan 111 terawatt-hour (TWh) energi surya akibat polusi udara. Jumlah itu setara produksi listrik dari 18 pembangkit listrik tenaga batubara berukuran sedang.

Temuan ini memberi perspektif baru bahwa krisis iklim dan polusi udara tidak hanya berdampak pada kesehatan atau lingkungan, tetapi juga diam-diam memperlambat efektivitas energi terbarukan itu sendiri.

“Kita melihat ekspansi energi terbarukan yang sangat cepat, tetapi efektivitas transisi itu ternyata lebih rendah dari yang selama ini diasumsikan,” ujar peneliti utama, Dr. Rui Song.

Menurutnya, ketika pembangkit batubara dan panel surya berkembang bersamaan, emisi dari batubara justru mengubah kondisi atmosfer dan mengurangi performa listrik tenaga surya.

Fenomena tersebut paling terlihat di China. Negara itu merupakan produsen listrik tenaga surya terbesar di dunia dengan produksi mencapai 793,5 TWh pada 2023 atau sekitar 41,5 persen total produksi global.

Namun di saat bersamaan, China juga mengalami kerugian terbesar akibat polusi aerosol dengan penurunan output listrik surya mencapai 7,7 persen.

Baca Juga: India di Ambang 'Kiamat' Energi karena Perang AS - Iran, Udara Tercemar Parah karena Ini

Peneliti memperkirakan sekitar 29 persen kerugian energi surya di China berasal langsung dari polusi pembangkit batubara. Partikel halus dari emisi batubara menyebarkan dan menyerap sinar matahari sehingga cahaya yang mencapai panel surya menjadi berkurang.

Di sisi lain, studi ini juga menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian emisi tetap memberi dampak positif. Dalam satu dekade terakhir, kerugian energi surya akibat polusi di China justru perlahan menurun berkat standar emisi yang lebih ketat dan penggunaan teknologi rendah emisi di pembangkit batubara.

Para peneliti mengingatkan bahwa selama ini banyak negara mungkin terlalu optimistis menghitung potensi energi surya tanpa memperhitungkan dampak polusi udara.

“Jika polusi batubara tidak dikendalikan, kita bisa terlalu melebih-lebihkan kontribusi energi surya dalam menurunkan emisi,” kata Dr. Song.

Studi ini sekaligus memperlihatkan bahwa transisi energi bukan sekadar membangun lebih banyak panel surya, tetapi juga soal seberapa serius dunia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Load More