- Abdel Mahdi al-Wuheidi, warga berusia 85 tahun, mengalami tragedi pengusiran paksa Nakba tahun 1948 dan perang Gaza saat ini.
- Konflik yang pecah sejak Oktober 2023 menghancurkan rumah serta infrastruktur di kamp pengungsi Jabalia dan memaksa warga terus mengungsi.
- Meskipun hidup di tengah reruntuhan akibat perang berkepanjangan, Abdel Mahdi bersumpah tetap bertahan dan tidak akan meninggalkan tanah kelahirannya.
Bersama saudara-saudaranya, ia berhasil membangun rumah dan membeli tanah sebelum perang terbaru kembali menghancurkan semuanya.
“Sebuah Nakba di awal hidup saya … dan Nakba lainnya di akhir hidup saya. Apa yang bisa kita katakan?” gumamnya.
Ia menceritakan bagaimana hidupnya kembali jungkir balik sejak perang terbaru di Gaza pecah pada Oktober 2023.
Dalam usia senja, ia harus mengungsi berkali-kali bersama istrinya yang juga telah lanjut usia.
Abdel Mahdi sempat berlindung di Gaza barat hingga Deir el-Balah di Gaza tengah demi menghindari serangan.
Derita di Tengah Reruntuhan Jabalia
Ia mengenang momen ketika tank dan tentara Israel menyerbu sekolah PBB yang menjadi tempat pengungsian warga sipil.
“Mereka memaksa kami keluar dari sekolah,” kenangnya.
“Istri saya yang sudah tua dan saya saling bersandar untuk berjalan. Beberapa orang tidak bisa keluar dan terbunuh di sana,” tambahnya.
Baca Juga: Cara Keji Tentara Zionis Israel Bunuh 7 Warga Gaza, Perempuan dan Anak Jadi Korban
“Kita berjalan jauh hingga tiba di Gaza barat bersama sisa keluarga yang tercerai-berai,” katanya.
“Kita pingsan karena kelelahan, tetapi pengeboman dan ketakutan memaksa kita terus bergerak,” lanjut Abdel Mahdi.
Harapan sempat muncul ketika warga diizinkan kembali ke Gaza utara setelah pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025.
Namun, pemandangan Jabalia yang hancur total justru memperdalam luka batinnya.
“Rasa sakit yang mendalam menguasai saya ketika melihat Jabalia berubah menjadi puing-puing tak berujung dan jalan-jalan yang hancur,” katanya.
“Sekarang saya berjalan dengan susah payah menggunakan tongkat saya,” tambahnya.
Cinta Tanah Air yang Tak Pernah Hilang
Abdel Mahdi menegaskan penderitaan rakyat Palestina hari ini tidak dapat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.
“Dulu, Israel mundur dari tanah kami,” katanya.
“Hari ini, lebih dari separuh tanah Gaza telah dirampas … setiap hari kita mendengar suara tembakan dan kendaraan militer Israel.”
“Bahkan akhir perang yang mereka bicarakan adalah kebohongan,” lanjutnya.
“Kita telah hidup dalam bencana yang berkelanjutan selama tiga tahun.”
Ia juga mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap respons dunia internasional terhadap situasi Gaza.
“Sejarah berulang,” katanya.
“Kita ditinggalkan di setiap tahap dan dibiarkan sendirian menghadapi mesin militer yang kejam.”
Namun, di tengah kehilangan dan pengungsian yang terus berulang, Abdel Mahdi tetap memegang teguh cintanya terhadap tanah air.
“Bahkan jika mereka menawarkan saya istana di New York sebagai ganti rumah yang hancur ini, saya akan menolaknya,” tegasnya.
“Seseorang tidak boleh meninggalkan tanah airnya. Di sini saya akan mati, dan di sini saya akan dimakamkan,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi
-
Kecil Korban Bullying Besar Jadi Pembunuh Hamas, Ini Tampang Direktur Mossad Baru Roman Gofman
-
PM Spanyol Bela Lamine Yamal Usai Kibarkan Bendera Palestina Serang Balik Pejabat Israel
-
Komando Brigade Al-Qassam Tewas, Hamas Janji Pembalasan Menyakitkan untuk Israel
-
Kebakaran Jenggot! Menhan Israel Belingsatan Gegara Lamine Yamal Kibarkan Bendera Palestina
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna
-
Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas
-
Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI
-
KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya
-
Lanud Seluruh Indonesia Bakal jadi Posko Gempa NTT, Hercules Siap Angkut Bantuan
-
Kisah BGS: Merdeka dari Balik Jeruji, Bawa 'Ilmu' Ternak Ayam dari Penjara untuk Mulai Hidup Baru
-
Diskon di Miniso Karawaci Khusus HUT RI ke-81 dari BRI, Ini Cara Klaimnya
-
Jemuran Bikin Resah, 27 Pakaian Dalam Warga Tuban Raib Dicuri
-
Bukan Sekadar Lomba, Pesta Rakyat Trindo Residence Jadi Modal Sosial Kekompakan Warga