News / Internasional
Senin, 18 Mei 2026 | 16:05 WIB
Tentara Israel pada Sabtu (28/6/202), mengeluarkan perintah pengusiran terhadap warga Palestina. (ist)
Baca 10 detik
  • Abdel Mahdi al-Wuheidi, warga berusia 85 tahun, mengalami tragedi pengusiran paksa Nakba tahun 1948 dan perang Gaza saat ini.
  • Konflik yang pecah sejak Oktober 2023 menghancurkan rumah serta infrastruktur di kamp pengungsi Jabalia dan memaksa warga terus mengungsi.
  • Meskipun hidup di tengah reruntuhan akibat perang berkepanjangan, Abdel Mahdi bersumpah tetap bertahan dan tidak akan meninggalkan tanah kelahirannya.

Bersama saudara-saudaranya, ia berhasil membangun rumah dan membeli tanah sebelum perang terbaru kembali menghancurkan semuanya.

“Sebuah Nakba di awal hidup saya … dan Nakba lainnya di akhir hidup saya. Apa yang bisa kita katakan?” gumamnya.

Ia menceritakan bagaimana hidupnya kembali jungkir balik sejak perang terbaru di Gaza pecah pada Oktober 2023.

Dalam usia senja, ia harus mengungsi berkali-kali bersama istrinya yang juga telah lanjut usia.

Abdel Mahdi sempat berlindung di Gaza barat hingga Deir el-Balah di Gaza tengah demi menghindari serangan.

Derita di Tengah Reruntuhan Jabalia

Ia mengenang momen ketika tank dan tentara Israel menyerbu sekolah PBB yang menjadi tempat pengungsian warga sipil.

“Mereka memaksa kami keluar dari sekolah,” kenangnya.

“Istri saya yang sudah tua dan saya saling bersandar untuk berjalan. Beberapa orang tidak bisa keluar dan terbunuh di sana,” tambahnya.

Baca Juga: Cara Keji Tentara Zionis Israel Bunuh 7 Warga Gaza, Perempuan dan Anak Jadi Korban

“Kita berjalan jauh hingga tiba di Gaza barat bersama sisa keluarga yang tercerai-berai,” katanya.

“Kita pingsan karena kelelahan, tetapi pengeboman dan ketakutan memaksa kita terus bergerak,” lanjut Abdel Mahdi.

Harapan sempat muncul ketika warga diizinkan kembali ke Gaza utara setelah pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025.

Namun, pemandangan Jabalia yang hancur total justru memperdalam luka batinnya.

“Rasa sakit yang mendalam menguasai saya ketika melihat Jabalia berubah menjadi puing-puing tak berujung dan jalan-jalan yang hancur,” katanya.

“Sekarang saya berjalan dengan susah payah menggunakan tongkat saya,” tambahnya.

Load More