News / Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 | 15:34 WIB
Spanduk bertuliskan 'Surat Permohonan Maaf' terpasang di gerbang masuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (21/5/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Spanduk berisi kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran terpasang di gerbang masuk kampus UGM, Sleman, pada Kamis, 21 Mei 2026.
  • Pihak UGM menegaskan pemasangan spanduk mencatut identitas kampus dan tidak merepresentasikan sikap resmi universitas sehingga segera diturunkan.
  • BEM UGM menyatakan spanduk tersebut merupakan bentuk keresahan mahasiswa akar rumput terkait kondisi ekonomi serta ketidakpastian kepemimpinan nasional.

Suara.com - Sebuah spanduk bertuliskan 'Surat Permohonan Maaf' terpasang di gerbang masuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (21/5/2026).

Spanduk itu sempat menjadi sorotan karena memuat kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dalam spanduk tersebut tertulis permohonan maaf yang mengatasnamakan UGM karena dianggap telah membiarkan Prabowo-Gibran menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024-2029.

Adapun tulisan pada spanduk berbunyi:

Dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena telah membiarkan PRABOWO-GIBRAN menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2024-2029.

Demikian permohonan maaf ini kami buat sebagai bentuk PENYESALAN karena melihat betapa BOBROKNYA KEPEMIMPINAN NASIONAL hari ini yang menjadi jalan pintas kehancuran bangsa- ditandai dengan berkuasanya orang-orang tanpa kompetensi, nestapa politik, dan carut-marutnya ekonomi.

Di bawah spanduk tertulis bahwa permohonan maaf dibuat sebagai bentuk penyesalan dari kampus, "Hormat kami, Universitas Gadjah Mada".

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, membenarkan adanya baliho yang terpasang di gerbang masuk kampus pada pagi hari.

"UGM pada prinsipnya menghormati dan melindungi kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi oleh setiap warga bangsa," kata Made Andi saat dikonfirmasi.

Baca Juga: Nilai Rezim Prabowo-Gibran Mundur, PSAD UII Sebut Amanat Reformasi 1998 Telah Dikhianati

Namun, UGM menegaskan bahwa pemasangan spanduk tersebut bukan dilakukan oleh pihak kampus dan tidak merepresentasikan sikap resmi universitas.

"Meski mengatasnamakan UGM, baliho tersebut tidak dipasang oleh UGM dan tidak mewakili pandangan resmi UGM. Dengan demikian, baliho tersebut mencatut identitas UGM dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Kampus menilai pemasangan spanduk itu pun tidak sesuai dengan aturan penggunaan ruang di area kampus sehingga akhirnya diturunkan beberapa saat kemudian.

"Dengan demikian, baliho tersebut mencatut identitas UGM dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Presiden dan Wakil Presiden terpilih Indonesia, Prabowo-Gibran. [Ist]

Sementara itu, Plt. Ketua BEM UGM 2026, Sheron Adam Funay, mengatakan bahwa spanduk tersebut bukan dipasang oleh BEM UGM.

"Jadi spanduk permohonan maaf tersebut bukan dipasang oleh BEM, melainkan oleh teman-teman akar rumput UGM. BEM hanya ikut meramaikan yang pada dasarnya jadi keresahan kami bersama," kata Sheron.

Load More