-
Disinformasi memicu massa membakar ruang isolasi Ebola di Rumah Sakit Rwampara Kongo.
-
Keluarga menolak pemakaman protokol kesehatan karena menganggap Ebola sebagai rekayasa komersial.
-
Wabah spesies Bundibugyo meluas ke wilayah konflik hingga memicu isolasi perbatasan Uganda.
"Tidak memahami realitas penyakit ini," kata Jean Claude Mukendi, koordinator respons keamanan Ebola di Ituri, yang menyesalkan minimnya pemahaman masyarakat setempat.
Ibu kandung korban bahkan bersikeras meyakini bahwa putranya meninggal dunia akibat demam tifoid, bukan karena infeksi Ebola.
Penolakan kolektif ini mempertegas jurang pemisah yang lebar antara fakta sains dan persepsi publik di pedalaman.
Banyak warga lokal menganggap keberadaan virus mematikan ini hanyalah rekayasa pihak luar demi keuntungan finansial semata.
"Masyarakat tidak mendapatkan informasi atau sosialisasi secara benar tentang apa yang sedang terjadi. Bagi sebagian segmen populasi, terutama di daerah terpencil, Ebola adalah ciptaan orang luar - penyakit itu tidak ada," tutur politisi Luc Malembe Malembe dengan nada penuh keprihatinan.
"Mereka percaya bahwa LSM dan rumah sakit menciptakan ini untuk menghasilkan uang, dan ini sangat tragis."
Aksi pembakaran tersebut menghanguskan dua tenda medis beserta satu jenazah infeksius yang sedianya akan segera dimakamkan.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menginstruksikan pemakaman yang aman dan bermartabat dijalankan oleh tim khusus ber-APD lengkap.
Sebanyak enam pasien isolasi yang sempat dirawat di tenda tersebut dilaporkan melarikan diri saat kerusuhan pecah.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Dihantui Penyebaran Penyakit Menular dari Campak, Hepatitis Hingga Ebola
Kendati demikian, lembaga kemanusiaan Alima mengonfirmasi seluruh pasien telah ditemukan dan kini dirawat di dalam gedung utama.
Dampak buruk krisis ini juga memaksa tim nasional sepak bola Kongo membatalkan pemusatan latihan menjelang Piala Dunia.
WHO menetapkan situasi ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, meski belum berstatus pandemi global.
Hingga saat ini, data resmi internal WHO mencatat ada 139 korban jiwa dari total 600 kasus suspek.
Akan tetapi, Menteri Kesehatan Kongo Samuel Roger Kamba mengumumkan jumlah kematian yang jauh lebih tinggi, yakni 159 jiwa.
Keganasan virus ini dipicu oleh spesies langka Bundibugyo yang belum memiliki vaksin penangkal resmi di dunia medis.
Penyebaran lintas batas mulai terdeteksi di Uganda, memicu penghentian sementara seluruh operasional transportasi publik antarnegara.
Krisis semakin rumit setelah kelompok pemberontak M23 mengonfirmasi temuan kasus fatal pertama di wilayah Kivu Selatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
DPR Bantah Menteri HAM Soal Larangan Tembak Begal: Polisi Tak Boleh Ragu Bertindak
-
Bukan Hantu atau Begal! Pocong Bikin Resah Warga Ciputat Tiap Malam Ternyata Pengamen
-
Perintah Kapolda Lampung Tembak Begal di Tempat Berpotensi Jadi Pembunuhan di Luar Hukum
-
Prabowo Target 100 GW PLTS dalam Tiga Tahun: Seberapa Siap Indonesia Mewujudkannya?
-
Ravio Patra Bongkar Temuan 34 CCTV di Sidang Praperadilan Andrie Yunus
-
Pemerintah Indonesia - Republik Korea Teken Kerja Sama Perkuat Pemerintah Digital
-
Kacau Balau di Jam Sibuk! Jalur Senen Tersumbat KA Anjlok, KRL Cikarang Kena Imbas
-
Bau Amis 'Lokalisir' Kasus Andrie Yunus, Kuasa Hukum Desak Polda Metro Jaya Ambil Alih
-
Setelah 28 Tahun Reformasi, Guru Besar UI Nilai Keadilan Masih Jauh dari Harapan
-
7 Dosen Terseret Kasus Pelecehan di UPN Veteran Yogyakarta, 13 Mahasiswa Jadi Korban