News / Nasional
Senin, 25 Mei 2026 | 11:45 WIB
Potret Loka Wicara dengan Tema "Mengapa Krisis Iklim Adalah Isu Keadilan Gender?" di M Bloc Space pada Jumat (22/5/2026)

Langkah serupa juga dilakukan masyarakat di Desa Igirmranak, Wonosobo, Jawa Tengah. Perwakilan masyarakat setempat, Harun Purwati, mengatakan perubahan iklim telah meningkatkan risiko tanah longsor dan kekeringan di wilayah pegunungan yang menjadi sumber penghidupan warga.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, masyarakat menjalankan program ketahanan pangan yang mendorong setiap keluarga menanam berbagai jenis tanaman yang dapat membantu menjaga kesuburan tanah sekaligus menjadi sumber pangan alternatif.

“Programnya mewajibkan setiap warga untuk menanam tanaman seperti ubi yakon dan kacang-kacangan untuk memulihkan dan menyuburkan tanah,” kata Harun.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang terdampak oleh krisis iklim, tetapi juga aktor penting dalam membangun strategi adaptasi di tingkat komunitas. Dari pengelolaan pangan keluarga hingga gerakan penghijauan dan ketahanan pangan desa, perempuan berperan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.

Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, mulai dari siklus El-Nino yang ekstrem hingga ancaman ketahanan pangan, Program GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia menyelenggarakan Festival Raksha Loka di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 22-23 Mei 2026.

Festival bertajuk “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan” ini merupakan selebrasi sekaligus ruang amplifikasi atas keberhasilan inisiatif pemulihan ekosistem berbasis komunitas yang telah dijalankan selama empat tahun terakhir dalam fase Operational Phase 7 (OP7).

Sejak Juli 2022, GEF SGP Indonesia bersama 86 mitra lokal telah bekerja di empat bentang alam strategis, yakni: DAS Bodri (Jawa Tengah), DAS Balantieng (Sulawesi Selatan), Gorontalo (Wilayah Penyangga SM Nantu & Tahura BJ Habibie), serta Pulau Sabu Raijua (NTT). Upaya kolektif ini telah berhasil memulihkan ekosistem dari ancaman deforestasi, krisis air bersih, hingga degradasi pesisir.

Penulis: Natasha Suhendra

Baca Juga: Setop Pembangunan Top-Down! Saatnya Suara Perempuan Akar Rumput Masuk Kebijakan Nasional

Load More