- Dosen Universitas Udayana mengungkap skandal pemalsuan karya ilmiah sistematis oleh sekelompok peneliti Indonesia dalam konferensi ISPPD 2026 di Denmark.
- Para pelaku menggunakan data fabrikasi berbasis kecerdasan buatan serta identitas fiktif demi mendapatkan dana perjalanan ke berbagai negara.
- Akibat manipulasi tersebut, komite penyelenggara resmi membatalkan seluruh karya, melakukan blacklist, dan mencabut pendanaan bagi para oknum terlibat.
Temuan lapangan mengindikasikan seluruh rangkaian draf tabel, visualisasi draf grafik, hingga narasi draf teks tersebut murni merupakan hasil fabrikasi draf data otomatis yang diproduksi oleh peranti kecerdasan buatan (AI), tanpa pernah ada draf eksperimen nyata di laboratorium.
“Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga,” tambah Mandhara.
Identitas Terduga Oknum dan Afiliasi Lembaga Fiktif
Dari hasil draf verifikasi draf dokumen dan data sekuler, tim periset yang diduga bermasalah tersebut terdiri dari tiga nama, yaitu Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.
Berdasarkan draf penelusuran pada direktori LinkedIn miliknya, Prihantini (yang akrab disapa Titin) mencantumkan draf profil sebagai peneliti independen, penulis, serta penggerak draf ekosistem pendidikan dengan fokus komputasi matematika dan data sains untuk kebutuhan biomedis.
Titin diketahui menyelesaikan draf pendidikan Sarjana Matematika di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada rentang tahun 2015–2019 dengan konsentrasi pada ruang Banach dan matematika murni.
Dalam portofolio draf karya ilmiah yang disetor ke panitia ISPPD 2026, kelompok ini mencantumkan dua nama institusi bernaung.
Lembaga pertama adalah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Sleman, sedangkan lembaga kedua adalah AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation yang beralamat di Jakarta.
Setelah ditelisik lebih jauh oleh komunitas akademik, entitas IMCDS-BioMed tersebut kuat diduga sebagai organisasi fiktif yang sengaja diciptakan untuk melegitimasi draf status riset mereka.
Baca Juga: Kapan Pengumuman Hasil TKA SD dan SMP 2026? Simak Jadwalnya
Motivasi utama di balik aksi nekat ini diduga kuat adalah pemburuan draf insentif dana akomodasi luar negeri.
“Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri ‘gratis’,” duga Mandhara dalam unggahannya.
Dugaan tersebut diperkuat oleh draf rekam jejak digital salah satu oknum yang secara terbuka memamerkan draf pencapaiannya di bio media sosial, dengan klaim telah mengunjungi puluhan negara secara cuma-cuma lewat draf jalur undangan simposium ilmiah: "Traveling around the world with science | 57 Countries & Still Counting | Maths, BioMedicine, and CS."
Celah Sistemis Konferensi Internasional dan Rekam Jejak Masa Lalu
Skandal ini juga membuka mata publik mengenai adanya draf celah (loophole) keamanan pada draf sistem penyaringan artikel di jurnal atau konferensi internasional terkemuka. Seorang pengguna media sosial dengan akun @ardianto****wan memaparkan draf analisis mengapa draf abstrak palsu milik Prihantini dkk bisa lolos dari draf sensor komite kurator.
"Kok bisa lolos ke conferencenya? Emng ga dibaca? Conferencenya abal? FYI katanya conferencenya bergengsi dan bukan abal ya gais. Kenapa bisa lolos? Saya highlight 3 alasan utama: Karena yang disubmit buat diseleksi itu HANYA ABSTRAK. Ya paling 200-300 kata aja. Bukan riset keseluruhannya. Jadi kalo bisa nulis abstrak wahh itu menang banyak. Karena BLIND REVIEW. Jadi reviewer Gak tau siapa yang nulis abstrak ini. Semuanya. Gada nama2nya, gada instansinya. Niatnya biar OBJEKTIF. Dan mereka juga asumsi peniliti2 yanh submit itu semuanya punya INTEGRITAS. Tapi juga jadi loophole ternyata. Ya karena paper tim ini abstraknya WAH banget, datanya dari mancanegara dan pakai metode terbaru yang WAH. Jadi terlihat outstanding dibanding abstrak2 paper lain."
Berita Terkait
-
Selebgram Woodyrman Jadi Tersangka usai Aniaya WNA hingga Tewas di Blok M
-
Skandal Riset Palsu di Denmark, Peneliti Indonesia Diduga Tipu Ilmuwan Dunia Demi 'Grant'
-
Viral Orang Indonesia Diduga Palsukan Riset di Konferensi Internasional, Tuai Hujatan
-
Hasil TKA 2026 Sudah Diumumkan Hari Ini, Apakah Siswa Bisa Cek Nilai Sendiri?
-
Mas Bahlil Ganteng itu Siapa? Viral Lagu MBG di TikTok
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Tepis Isu Pesanan, Dasco Tegaskan Revisi UU Polri Bukan Demi Jabatan Kapolri
-
Konflik Papua Tak Kunjung Usai, Komnas HAM Desak Tiga Pihak Ini Segera Duduk Bersama
-
Jerit Keadilan Keluarga M Berlian di DPR: Vonis Seumur Hidup Cuma Modal Lie Detector!
-
Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal
-
Pramono Wukuf di Arafah, Wagub Rano Karno Pimpin Jakarta Rayakan Idul Adha
-
Final dan Mengikat, Dasco Pastikan Putusan MK Soal Kuota Perempuan 30 Persen Masuk Revisi UU Pemilu
-
Mendagri Serahkan Hewan Kurban Kemendagri dan BNPP, Bentuk Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat
-
'To Kill or To Be Killed', Jaleswari Ingatkan TNI Dilatih Membunuh Bukan Urus Sawah
-
Biar Setara dengan TNI, Dasco Sebut Usulan Perpanjangan Usia Pensiun Polri Layak Dipertimbangkan
-
Ekonom Senior AMRO: Disrupsi Energi Timur Tengah 4 Kali Lebih Ngeri Dibanding Perang Rusia-Ukraina