-
AS membangun fasilitas karantina di Kenya untuk mengisolasi warganya yang terpapar virus Ebola.
-
Warga AS yang menunjukkan gejala Ebola dilarang pulang dan akan dievakuasi ke negara ketiga.
-
Kebijakan isolasi di luar negeri ini menuai kritik tajam dari para pakar kesehatan internasional.
"Kami ingin memastikan bahwa warga Amerika di lapangan di sana mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan dengan cepat dan efisien," kata seorang pejabat. "Namun lebih dari itu, pemerintah juga bekerja... untuk memastikan bahwa warga Amerika di sini di Amerika Serikat tidak tertular penyakit tersebut."
Fasilitas dengan kapasitas awal 50 tempat tidur ini dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada hari Jumat. Rencana pengembangan ke depan mencakup penambahan unit biokontaimen dan ruang isolasi khusus.
Petugas dari Layanan Kesehatan Masyarakat AS akan dikerahkan untuk memimpin perawatan medis di fasilitas tersebut. Mereka dibekali dengan terapi antibodi monoklonal dan obat antivirus remdesivir produksi Gilead.
Namun, kebijakan mengisolasi pasien di Kenya ini memicu gelombang kritik keras dari sejumlah pakar kesehatan masyarakat. Mereka menilai pasien akan mendapat perawatan jauh lebih baik jika dibawa ke pusat medis darurat di AS atau Jerman.
Para ahli juga khawatir kebijakan karantina luar negeri ini akan menurunkan minat para dokter untuk menjadi sukarelawan. Pembatasan ini dianggap bisa memperlambat respons kemanusiaan global di wilayah pusat wabah.
Pengetatan jalur evakuasi ini mencuat setelah seorang misionaris medis asal AS terkonfirmasi positif Ebola di DRC. Pasien tersebut terpaksa dilarikan ke Jerman untuk mendapatkan perawatan intensif bersama lima orang lainnya.
Proses evakuasi misionaris tersebut sempat tertunda lama karena adanya penolakan internal dari pihak Gedung Putih. Berdasarkan laporan media, penundaan terjadi akibat keengganan pemerintah mengizinkan pasien infeksi menginjakkan kaki di tanah AS.
Hingga saat ini, lonjakan kasus infeksi di Afrika Timur terus memburuk dengan total ratusan kematian yang dicurigai akibat Ebola. Situasi krusial inilah yang memicu Washington mengambil kebijakan isolasi luar negeri yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Harga Minyak Langsung Ugal-ugalan Usai Amerika Serang Iran Lagi
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
Komisi X Bakal Minta Penjelasan Pemerintah Soal Kebijakan Prabowo Wajib Bahasa Prancis di Sekolah
-
Bantah Komnas HAM, Kemen HAM: Revisi UU Justru Perkuat Posisi Lembaga Pengawas
-
Di Balik Amblesnya Jalan Lenteng Agung, Ada Rongga Tersembunyi yang Sudah Mengintai
-
Panas! Kementerian HAM Balik Tuding Komnas HAM Mangkir dari Rapat Pembahasan Revisi UU
-
Jalan Amblas di Lenteng Agung: Satu Pengendara Terjeblos, Kemacetan Masih Mengular
-
Mengapa Arab Saudi Tidak Mendukung Iran?
-
Pejabat hingga Presiden Harus Ingat! Kurban dari Anggaran Negara Tak Bisa Gantikan Kewajiban Pribadi
-
Prabowo Intens ke Luar Negeri, Pengamat HI: Ada Ambisi Personal Jadi Pemimpin Dunia
-
Wapres AS JD Vance: Kesepakatan dengan Iran Sudah Dekat, Tapi Belum
-
Terungkap! Ini Alasan Presiden Prancis Macron Sebut Prabowo Sosok yang Sangat Berani