News / Metropolitan
Kamis, 04 Juni 2026 | 16:13 WIB
Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta Judistira Hermawan. (Dok.DDJP)

Suara.com - DPRD DKI Jakarta memprioritaskan program pengelolaan sampah sebagai salah satu agenda strategis pembangunan. Terlebih volume sampah yang dihasilkan Jakarta telah mencapai kisaran 9.000 ton per hari. Karena itu, perlu strategi jitu mewujudkan Jakarta yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

DPRD mendorong penguatan pengelolaan sampah dari hulu melalui pemilahan di tingkat rumah tangga, optimalisasi bank sampah, peningkatan fasilitas pengolahan, serta pemanfaatan teknologi modern untuk mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir.

Harapannya, berbagai upaya tersebut mampu meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mendukung target pengurangan sampah secara signifikan di Jakarta.

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan menyatakan, siap mengurai benang kusut manajemen pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.

Satu diantaranya dengan fokus terhadap empat program prioritas. Yaitu terkait sarana dan prasarana, regulasi, teknologi, dan pembenahan manajemen armada.

Sorotan tajam Pansus seperti minimnya sarana dan prasarana penunjang pemilahan sampah di tingkat RW. Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta selama ini hanya mengimbau tanpa kesiapan fasilitas memadai.

“Kita tidak bisa menuntut keterlibatan masyarakat, tapi sarana-prasarananya tidak kita siapkan dengan baik,” ujar Judistira.

Selanjutnya, Pansus juga fokus penegakan hukum secara konsisten terhadap Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah.

Menurut Judistira, sangat penting pemberian sanksi tegas terhadap sektor-sektor yang tidak mengelola sampah secara mandiri. Seperti pada area pasar yang dikelola BUMD Pasar Jaya.

Baca Juga: DPRD DKI Jakarta Apresiasi Program Pemutihan Ijazah

“Jadi, sinergi antarinstansi dan BUMD seperti PD Pasar Jaya harus berjalan dalam satu visi yang sama mulai mengelola sampah secara mandiri,” tegas dia.

Begitu pula dengan teknologi pengolahan sampah, perlu penyesuaian dengan kebutuhan dan karakteristik di Jakarta.

Pansus juga mengkaji beberapa opsi teknologi terbarukan. Mulai dari Waste to Energy atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), Refuse Derived Fuel (RDF), hingga pengolahan biologis seperti budidaya maggot dan pengomposan (composting).

Judistira mengungkapkan, pemilihan teknologi yang tepat mendorong ekosistem sirkular ekonomi di Jakarta. Sehingga sampah tidak lagi menjadi sumber masalah, melainkan komoditas yang bernilai jual.

“Sampah berubah dari beban menjadi berkah yang bernilai ekonomis,” kata Judistira.

Selain itu, Pansus akan fokus pada pembenahan manajemen armada kendaraan pengangkut sampah. Sebab, banyak armada yang sudah tak layak beroperasi.

“Hal ini krusial karena sudah banyak sekali menerima keluhan-keluhan langsung masyarakat,” pungkas Judistira. ***

Load More