- Sebanyak 50 pria diduga tentara mendatangi Markas Polda Metro Jaya pada Kamis pagi untuk mengintervensi proses penyidikan kasus korupsi.
- Kedatangan tersebut bertujuan mengamankan saksi kunci terkait kasus korupsi yang melibatkan Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah di Jakarta.
- Polda Metro Jaya menegaskan akan menindak tegas pihak yang menghalangi penyidikan sesuai Pasal 21 UU Tindak Pidana Korupsi.
Peringatan Keras Polda Metro Jaya: Jangan Halangi Penyidikan!
Di lain sisi, pihak kepolisian mengingatkan bahwa penyidikan kasus korupsi PT PLN, PT Asabri, dan PT CBS merupakan mandat hukum yang harus dihormati oleh semua instansi dan pihak tanpa terkecuali.
Eskalasi di mapolda ini terjadi berbarengan dengan peringatan keras mengenai obstruction of justice atau perintangan penyidikan.
Penegak hukum menegaskan bahwa siapa pun yang mencoba mengintervensi atau menghalangi proses ini dapat dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menegaskan komitmen institusinya dalam menuntaskan kasus ini tanpa pandang bulu.
"Siapa saja yang menghalangi penyelidikan, akan diproses sesuai Pasal 21 UU Tipikor," tegasnya.
Penggeledahan Sentul City dan Temuan Brankas Rahasia
Sebelum ketegangan di Mapolda mencuat, tim gabungan telah melakukan operasi penggeledahan besar-besaran di kawasan elite Sentul City, Bogor.
Targetnya adalah sebuah rumah mewah di Perumahan Golf Hijau yang diduga kuat milik Jampidsus Febrie Adriansyah.
Baca Juga: Sempat Dijaga TNI Bersenjata, Begini Kondisi Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Pagi Ini
Operasi ini berlangsung dramatis dengan penjagaan ketat personel Brimob bersenjata laras panjang untuk mengantisipasi gangguan keamanan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Polri membongkar tiga skandal korupsi besar yang saling berkelindan:
- Dugaan korupsi pengadaan batu bara yang memicu krisis listrik di PT PLN (Persero).
- Penyimpangan dana di PT Asabri periode 2020–2025.
- Dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam skema utang PT CBS kepada PT KNI.
Ketiga kasus ini diduga melibatkan jaringan elit penyelenggara negara yang saling melindungi, di mana terdapat aliran dana haram yang digunakan untuk mengamankan perkara-perkara besar agar tidak tersentuh hukum.
Salah satu bukti paling mencolok yang ditemukan penyidik berada di Cafe de'CLAN Signature, Jakarta Selatan.
Dalam penggeledahan di kafe tersebut, penyidik menemukan sebuah brankas rahasia yang disembunyikan secara rapi di balik lemari untuk mengelabui petugas.
Kombes Budi Hermanto mengungkapkan, isi brankas tersebut sangat mengejutkan, berisi tumpukan uang tunai dalam mata uang asing yang nilainya sangat fantastis.
“Ada di balik lemari brankasnya," kata Budi.
Penyidik mengamankan dokumen transaksi keuangan serta tumpukan mata uang Dollar Singapura (SGD) dan Dollar Amerika (USD).
Selain kafe, polisi juga menyisir gerai money changer yang diduga kuat menjadi instrumen pencucian uang untuk mengubah hasil korupsi menjadi aset yang tampak legal.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Mapolda Metro Jaya masih terus dipantau secara ketat.
Sebagian rombongan pria berambut cepak tersebut dikabarkan belum membubarkan diri sepenuhnya, sementara penyidik terus mendalami keterkaitan Jampidsus dalam pusaran kasus korupsi yang merugikan negara triliunan rupiah ini.
Berita Terkait
-
Sempat Dijaga TNI Bersenjata, Begini Kondisi Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Pagi Ini
-
PB PMII Dukung Polri Bongkar Mega Korupsi, Tolak Intervensi TNI
-
DPP IMM Pertanyakan Pelibatan TNI Jaga Rumah Jampidsus
-
Cafe deClan Signature Milik Siapa? Diduga Jadi 'Gudang Uang' Jampidsus Febrie Adriansyah
-
TNI Buka Suara soal Prajurit Bersenjata di Rumah Jampidsus: Bukan Terkait Penyidikan
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Romantis Sekaligus Realistis & Alasan Lain yang Bikin Harus Nonton Film "Dan Bandung" di Bioskop
-
Warga Kepulauan Seribu Ingin Transportasi Laut Murah, Transjakarta Siap Ambil Alih
-
IHSG Masih Bertengger di Level 6.500 Pagi Ini, Pantau BBNI
-
Lulusan Terbaik Undip Antre Jadi Buruh: Saat Ijazah Sarjana Tak Lagi Menjamin Pekerjaan
-
Lewat Skema Transfer, Kendal Tornado FC Datangkan Fikron Afriyanto dari Persijap
-
Gubernur Khofifah Dorong Trauma Healing Berkelanjutan di Lokasi Pengungsian Pascagempa NTT
-
Emas Antam Melambung Tinggi, Harganya Rp2,75 Juta/Gram
-
Presiden Prabowo Dikabarkan Bakal ke Riau Tinjau Karhutla di Kampar
-
Masjid Auliya Setono Gedong, Jejak Islam dan Daha di Tengah Kediri Kota
-
Waduk Jatigede Surut, Warga Sumedang Manfaatkan Lahan untuk Bertani