Suara.com - Gelombang panas, polusi udara, dan banjir semakin sering melanda berbagai kota di dunia. Menanam lebih banyak pohon kerap menjadi solusi yang paling banyak didorong pemerintah. Namun, pertanyaannya, apakah menanam pohon saja cukup untuk membuat kota lebih tangguh menghadapi perubahan iklim?
Sejumlah peneliti di Inggris menilai jawabannya belum tentu. Persoalannya bukan hanya berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi apakah pohon tersebut ditempatkan di lokasi yang tepat, dipilih sesuai kebutuhan lingkungan, dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Urban Sustainability menunjukkan bahwa banyak kebijakan penghijauan perkotaan selama ini lebih berorientasi pada target penanaman pohon daripada bagaimana ruang hijau dapat menjawab persoalan sosial, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.
Mengapa banyak program penghijauan belum optimal?
Ketua peneliti dari Aberystwyth Business School, Profesor Jasper Kenter, mengatakan pohon di perkotaan selama ini lebih sering dipandang sebagai elemen lanskap atau penghias kota. Padahal, pepohonan juga membentuk hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
"Alat ini dirancang untuk mendukung diskusi yang lebih inklusif tentang masa depan pepohonan di perkotaan sehingga masyarakat dan pembuat kebijakan dapat memikirkan kembali bagaimana manusia hidup bersama alam di kota," ujar Kenter.
Menurut penelitian tersebut, keputusan penanaman pohon sering kali hanya mempertimbangkan manfaat ekologis atau estetika, tanpa melibatkan kebutuhan warga maupun karakter kawasan. Akibatnya, tidak sedikit pohon yang ditanam kurang sesuai dengan fungsi lingkungannya.
Padahal, di tengah perubahan iklim, pohon memiliki peran yang jauh lebih penting. Selain menurunkan suhu udara, pepohonan membantu menyerap air hujan, mengurangi risiko erosi, menyaring polusi udara, hingga menyediakan habitat bagi satwa.
Teknologi untuk membantu menentukan prioritas
Baca Juga: KLHK Soroti Pentingnya Ruang Terbuka Hijau, Kini Jadi Kebutuhan Dasar Hunian
Berangkat dari persoalan tersebut, para peneliti mengembangkan Tree Value Visions, sebuah perangkat yang membantu pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, dan pengelola kota menentukan prioritas penghijauan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.
Pemerintah Inggris sendiri menargetkan penanaman pohon seluas 30.000 hektare setiap tahun sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Tree Value Visions telah diuji di sejumlah kota, seperti Cardiff, Edinburgh, York, Milton Keynes, dan Camden.
Berbeda dengan pendekatan konvensional, alat ini tidak hanya menghitung jumlah pohon, tetapi juga mengajak berbagai pihak mendiskusikan fungsi pohon dari empat sudut pandang: sebagai identitas sebuah tempat, sumber daya, bagian dari ekosistem, serta bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Pelajaran bagi Indonesia
Indonesia sebenarnya telah lama memiliki kebijakan ruang terbuka hijau. Undang-Undang Penataan Ruang mengamanatkan setiap kota memiliki sedikitnya 30 persen ruang terbuka hijau untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Namun, dalam praktiknya, berbagai kawasan hijau terus terdesak oleh pembangunan. Tidak sedikit pohon ditanam tanpa mempertimbangkan kesesuaian lokasi, sementara sempadan sungai dan ruang hijau berubah menjadi kawasan permukiman.
Pengalaman di Inggris menunjukkan bahwa keberhasilan penghijauan kota tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan pepohonan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, memperkuat ketahanan kota terhadap perubahan iklim, serta menjadi bagian dari perencanaan kota yang melibatkan warga.
Penulis: Chairunisa
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Mendikdasmen Larang Perpeloncoan di MPLS 2026, Simak Pesan Lengkap Abdul Muti
-
Cegah Konflik Kepentingan, Benny K Harman Desak KPK Ambil Alih Kasus Korupsi Febrie Adriansyah
-
Kemensos Perketat Penyaluran Bansos, Pemain Judol dan ASN Tak Lagi Jadi Penerima
-
Viral Dinilai Hina Gereja di Inggris, Dokter Kecantikan Anggi Aprilyani Dilaporkan ke Polda Metro
-
Gubernur Bobby Nasution Tegaskan Komite Sekolah Jangan Jadi Beban Peserta Didik
-
Bukan Emas Biasa, KPK Ajak Ahli Antam dan Pegadaian Cek 55 Kg Platinum Bupati Langkat
-
Asabri hingga PLTU, 3 Kasus yang Jerat Eks Jampidsus Febrie Sebabkan Negara Rugi Rp34,6 Triliun!
-
Hindari Kesan Tebang Pilih, Kejagung Diminta Tak Beri Perlakuan Khusus pada Febrie Adriansyah
-
Kebakaran Maut Bar di Bangkok Tewaskan 27 Orang, KBRI: Tidak Ada Korban WNI
-
Niat Selamatkan Surat Berharga, Detik-detik Nenek di Pulogadung Tewas Terbakar Bersama Anak dan Cucu