- Presiden Prabowo Subianto meminta warga pesimistis meninggalkan Indonesia saat pidato Hari Koperasi di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
- Pakar komunikasi menilai gaya pidato provokatif tersebut efektif membangun optimisme nasional namun berisiko memicu polarisasi di masyarakat.
- Pernyataan tersebut dikhawatirkan membungkam nalar kritis warga serta berpotensi menjadi bumerang politik jika disalahartikan di media sosial.
Suara.com - Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Koperasi ke-79 pada Minggu (12/7/2026) di Indonesia Arena, Jakarta kemarin kembali menjadi sorotan.
Dalam kesempatan itu, kepala negara meminta pihak-pihak dengan pandangan pesimistis terhadap masa depan bangsa untuk keluar dari Indonesia dan mencari negara lain.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menilai gaya komunikasi politik tersebut dinilai sarat akan pesan populis yang kuat. Namun menyimpan risiko besar terhadap iklim demokrasi.
"Dari sudut pandang komunikasi publik, pendekatan ini sangat efektif dalam membangun narasi optimisme nasional," kata Fajar kepada Suara.com, Senin (13/7/2026).
Lebih jauh, Fajar bilang pernyataan itu merupakan bentuk reframing atau pembingkaian ulang terhadap narasi mengenai kondisi Indonesia.
Alih-alih menerima anggapan bahwa Indonesia sedang suram sebagai sebuah realitas, pidato tersebut menggesernya menjadi persoalan sikap yang bisa dipilih setiap individu.
"Dengan bahasa yang sederhana, lugas, dan sedikit provokatif, Presiden berhasil melakukan reframing, mengubah pandangan 'Indonesia suram' dari sebuah realitas menjadi sekadar pilihan sikap yang bisa ditinggalkan," ujarnya.
Struktur kebahasaan yang sengaja dipilih oleh Presiden itu mampu mendikte persepsi publik secara psikologis. Metode kontras yang diaplikasikan dinilai sukses memilah garis batas yang tegas di tengah elemen masyarakat.
"Teknik kontras ini menciptakan rasa urgensi sekaligus rasa kebersamaan, kita yang tinggal dan berjuang versus mereka yang memilih mundur," tuturnya.
Baca Juga: Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah
Disampaikan Fajar, penggunaan gaya komunikasi yang ditunjukkan Prabowo mampu membangun emosi kolektif di tengah massa.
Kendati demikian, gaya bahasa kepemimpinan yang berulang dan menyasar sentimen akar rumput berpotensi memicu konsekuensi sosiologis yang kontraproduktif bagi persatuan nasional.
"Ada catatan penting. Pernyataan yang sangat tegas seperti ini berisiko memperlebar polarisasi," tegasnya.
Fajar menyoroti bagaimana dampak langsung dari diksi provokatif tersebut bagi kelompok masyarakat sipil yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Ketegasan verbal dari seorang kepala negara dikhawatirkan memunculkan salah tafsir yang membungkam nalar kritis warga negara.
"Bagi sebagian warga yang sedang kritis, bukan karena benci negara, melainkan karena khawatir terhadap berbagai masalah, kalimat tersebut bisa terasa menutup ruang dialog dan dianggap dismissive," kata dia.
Di tengah arus digitalisasi informasi yang bergerak cepat, Fajar menggarisbawahi potensi bahaya pemelintiran pesan di ruang siber.
Tag
Berita Terkait
-
Diplomasi Candi: Apa Rahasia di Balik Pertemuan Prabowo Subianto dan Narendra Modi?
-
Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD
-
Kata Prabowo: Banyak Petani RI Liburan ke Luar Negeri!
-
Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
Terkini
-
BNI Lakukan Serangkaian Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR
-
Kejagung Bantah Febrie Adriansyah Umrah Usai Tersangka: Sudah Dicekal, Masih di Indonesia
-
KPK Masih Buka Peluang Supervisi Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Siap Pantau
-
Ngeri! Sebelum Dibakar, Santri di Lombok Diduga Sering Disiksa Anak Pemilik Ponpes
-
Habiburokhman Jawab Kritik Mahfud MD: Kasus Febrie Diserahkan ke Kejagung Demi Redam Friksi
-
MPLS Sekolah Rakyat Digelar Empat Gelombang, Gus Ipul: Tiap Titik harus Aman dan Nyaman
-
Skandal Rp34,6 T Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Bakal Tuntas atau Mandek di Kejagung?
-
Kasus Febrie Diserahkan ke Kejagung Jadi Sorotan, DPR: Kita Pantau Lewat Panja, Disupervisi KPK
-
PERADI Profesional Ingatkan DPR, RUU HPI Harus Jaga Kedaulatan Nasional di Tengah Arus Global
-
KPK Pantau Kasus Febrie Adriansyah, Yakin Kejagung Profesional Usut Eks Jampidsus