News / Nasional
Senin, 13 Juli 2026 | 17:58 WIB
Presiden Prabowo Subianto berpidato di Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu(12/7/2026). (foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto meminta warga pesimistis meninggalkan Indonesia saat pidato Hari Koperasi di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
  • Pakar komunikasi menilai gaya pidato provokatif tersebut efektif membangun optimisme nasional namun berisiko memicu polarisasi di masyarakat.
  • Pernyataan tersebut dikhawatirkan membungkam nalar kritis warga serta berpotensi menjadi bumerang politik jika disalahartikan di media sosial.

Tanpa adanya konfirmasi dan kontekstualisasi yang komprehensif dari pihak istana, potongan pidato tersebut justru berpotensi menjadi bumerang politik.

"Di era media sosial, pesan yang provokatif mudah sekali menjadi viral, tapi juga mudah dipelintir menjadi 'tidak boleh kritik' atau 'keluar saja kalau tidak suka'. Ini bisa menimbulkan efek boomerang jika tidak diimbangi dengan penjelasan yang lebih mendalam," ucapnya.

Pada akhirnya, kata Fajar, ujian utama dari sebuah komunikasi kepala negara tidak terletak pada seberapa riuh sorak-sorai dari para pendukung setianya. Melainkan pada kemampuannya merangkul seluruh elemen bangsa yang masih diliputi keraguan.

"Komunikasi kepresidenan yang hebat bukan hanya mampu menggerakkan pendukung, melainkan juga mampu menyapa dan mengajak mereka yang ragu-ragu. Optimisme harus dibarengi dengan ruang mendengar, dialog yang terbuka, serta bukti konkret kemajuan agar pesan ini tidak hanya menggema, tapi benar-benar menyatukan," tandasnya.

Load More