News / Internasional
Selasa, 14 Juli 2026 | 13:17 WIB
Serangan udara beruntun militer Amerika Serikat ke wilayah Iran menewaskan seorang petugas keamanan. (media sosial)
Baca 10 detik
  • Gencatan senjata hancur total setelah Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran.

  • Pertempuran sengit menggunakan rudal dan drone di Selat Hormuz menelan korban jiwa awak kapal.

  • Presiden Donald Trump menerapkan sanksi kargo tambahan sebesar 20 persen untuk menekan Iran.

Kebijakan blokade laut terhadap kapal yang menuju dan dari Iran diikuti dengan sanksi ekonomi baru. Donald Trump secara resmi menetapkan pungutan tambahan sebesar 20 persen untuk seluruh kargo.

Di sisi lain, rudal jarak jauh Iran sukses menghantam dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab. Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi serangan di Selat Hormuz itu menewaskan seorang anggota awak kapal.

Bersamaan dengan itu, Iran juga meluncurkan beberapa gelombang serangan udara susulan ke wilayah Bahrain. Rentetan peristiwa berdarah ini memperpanjang catatan kelam konflik bersenjata di Timur Tengah.

Sebagai latar belakang, hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran terus berada dalam titik terendah. Ketegangan berulang kali pecah di Selat Hormuz karena statusnya sebagai jalur logistik minyak dunia.

Intervensi militer dan sanksi ekonomi yang kerap dijatuhkan Washington memicu perlawanan sengit dari Teheran. Kegagalan gencatan senjata kali ini diprediksi akan memperburuk krisis keamanan energi global ke tingkat yang lebih membahayakan.

Load More