- Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menolak sistem ekonomi kapitalisme untuk memperkuat kedaulatan ekonomi sesuai amanat konstitusi UUD 1945.
- Presiden menegaskan negara harus menguasai sumber daya alam dan menetapkan harga komoditas secara mandiri tanpa pengaruh asing.
- Kebijakan Presiden dalam mencapai target ekonomi nasional sering terhambat oleh langkah tidak selaras dari lembaga moneter pemerintah.
Defiyan Cori
Pemerhati Ekonomi. Lulusan Universitas Gadjah Mada.
Suara.com - Banyak pihak tampaknya masih menyangsikan, apakah Presiden RI Prabowo Subianto benar-benar ingin menolak kapitalisme sebagai sistem ekonomi politik yang dulu ditolak mentah-mentah oleh founding father kita?
Saya berani mendukung premis bahwa Prabowo memang betul-betul ingin mengeliminasi kapitalisme. Dasarnya, ada pada konsistensinya untuk melakukan "penolakan' tersebut.
Indikasi itu tidak saja tergambar jelas dalam visi-misi Asta Cita, yang mencantumkan program memperkokoh Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia.
Sikap tegas Prabowo kembali disampaikan saat peresmian operasionalisasi serentak 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) seluruh Indonesia, yang digelar di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, 16 Mei 2026.
Juga, saat dia menimpali gonjang-ganjing kurs Dolar Amerika Serikat yang melemahkan nilai Rupiah. Tentu, pernyataan presiden harus dicermati substansinya.
Selanjutnya, pada rapat paripurna ke-19 masa persidangan V tahun 2025-2026, Prabowo kembali memantapkan tekadnya lebih strategis.
Ia menyatakan, kekayaan sumber daya alam yang berlimpah harus dikuasai oleh negara, dan penetapan harganya (setting price) oleh otoritas di dalam negeri bukan oleh negara asing.
Musuh Dalam Selimut
Saya termasuk orang yang mengusung sistem ekonomi konstitusi, yang termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945, atau kelanjutan perjuangan ekonomi Pancasila dari almarhum guru besar kami: Profesor Mubyarto.
Baca Juga: Prabowo Target 100 GW PLTS dalam Tiga Tahun: Seberapa Siap Indonesia Mewujudkannya?
Berdasarkan hal itu, saya jelas mendukung penuh jalan yang ditempuh Prabowo. Itu untuk memastikan—meminjam istilah pendukung klub sepakbola Inggris Liverpool, "you are not walk alone", tuan presiden.
Aksi penolakan nyata atas sistem ekonomi kapitalisme itu semakin mewujud, melalui tanggapan Prabowo terhadap stagnasi kondisi makro ekonomi satu bulan terakhir.
Kondisi itu setidaknya dipengaruhi dua hal. Pertama, melemahnya mata uang Rupiah terhadap Dolar AS. Kedua, harga komoditas SDA Indonesia yang tak kita atur sendiri.
Tentu saja, sikap dan langkah Prabowo ini takkan disukai oleh "orang-orang" yang menjadi agen sistem ekonomi kapitalisme di Tanah Air.
Namun, memang ada tantangan yang harus dihadapi atas tata kelola sistem ekonomi konstitusi yang hendak diterapkan. Khususnya, menyangkut otoritas ekonomi dan moneter yang mengurusnya di dalam pemerintahan.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tidak terlepas dari kinerja pengurus lembaga independen Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Berita Terkait
-
Prabowo Target 100 GW PLTS dalam Tiga Tahun: Seberapa Siap Indonesia Mewujudkannya?
-
IESR Sebut Solusi Energi Prabowo Berisiko Tambah Beban Fiskal: Sawit Mahal!
-
Koperasi Merah Putih Disorot, Isi Rak Barang Terlihat Sepi dan Renggang
-
Surat Kadin China ke Prabowo Jadi Alarm Keras, DPR Bongkar Banyaknya Biaya Siluman Investasi RI
-
Sempat Simpang Siur, Kiky Saputri Kini Bantah Tuduhan Jadi Buzzer dan Tegaskan Tak Terima Bayaran
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 8 Sepatu Adidas untuk Jalan Kaki yang Sedang Diskon di Toko Resmi, Harga Jadi Rp500 Ribuan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel
-
Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo
-
Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang
-
Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan
-
Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma
-
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'
-
Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara
-
Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak