- Honda mengalami penurunan drastis penjualan di China serta membatalkan proyek kendaraan listrik akibat kalah bersaing secara harga.
- Kinerja buruk tersebut memicu kerugian miliaran dolar sehingga Honda melakukan pemotongan gaji petinggi dan perombakan operasional perusahaan.
- Presiden Honda, Toshihiro Mibe, berencana mengalihkan fokus riset ke operasi independen guna mengejar ketertinggalan teknologi dan kecepatan produksi.
Suara.com - Pabrikan otomotif asal Jepang Honda sedang menghadapi situasi sulit di pasar China karena lambatnya transisi ke kendaraan listrik. Perusahaan bahkan terpaksa membatalkan tiga proyek mobil listrik untuk pasar Amerika Serikat termasuk kerja sama strategis dengan Sony.
Bahkan para eksekutif Honda mengakui bahwa Honda tidak mampu menghadirkan produk yang menawarkan nilai harga lebih baik daripada produsen mobil listrik yang lebih baru sehingga membuat mereka kehilangan daya saing. Kondisi ini memicu kerugian hingga miliaran dolar dan berujung pada pemotongan gaji para petinggi sebagai bentuk tanggung jawab.
Bahkan Honda disebut berencana mengalihkan fokus penelitian dan pengembangan kembali ke operasi independen demi mengejar ketertinggalan.
"Honda tidak memiliki peluang jika terus bertahan dengan sistem lama," ujar Presiden Honda, Toshihiro Mibe dikutip Senin (20/4/2026).
Lebih lanjut, Mibe bahkan menyaksikan langsung bahwa pabrik di China mampu memproduksi kendaraan dengan sangat cepat dan murah namun tetap berkualitas tinggi.
Statistik menunjukkan penurunan tajam performa Honda di China. Pada 2020 perusahaan berhasil menjual 1,6 juta unit mobil namun tahun ini angka tersebut diperkirakan merosot hingga hanya 600.000 unit.
Pabrik Honda di China kini hanya beroperasi pada setengah kapasitas produksinya yang memicu beban biaya operasional sangat tinggi. Persoalan utama terletak pada durasi desain model baru yang memakan waktu dua kali lebih lama dibandingkan produsen asal China.
Honda berupaya membangkitkan kembali semangat inovasi masa lalu untuk memacu kecepatan produksi dan keterampilan teknologi. Kekhawatiran ini senada dengan pernyataan CEO Toyota, Koji Sato yang mengatakan tantangan industri otomotif saat ini sangat berat. "Kita tidak akan bertahan jika keadaan terus seperti ini," ungkapnya saat berbicara di depan para pemasok perusahaan.
Baca Juga: ACC Carnival Jadi Solusi Mobil Baru dan Mobil Bekas dari Berbagai Merek Otomotif
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
- Ironi Letjen Lodewyk Pusung: 32 Tahun Setia di Militer, Tumbang dalam 1,5 Tahun Urus Gizi Nasional
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Akselerasi Pemulihan Bencana Aceh Toyota Kerahkan Tiga Unit Kijang Innova Jadi Armada Medis
-
Harga Beda Tipis, Mending Honda Brio RS atau Toyota Raize? Begini Kata Pakar
-
Terpopuler: Cruise Yamaha, Motor Hidrogen, Garasi Wamen Imipas Silmy Karim
-
Konsumen Indonesia Mulai Lirik Varian PHEV Pesanan Wuling Eksion Tunjukkan Tren Positif
-
Ironi Garasi Rp8,4 Miliar Silmy Karim: Bertabur Mobil 'Hobi' Klasik di Tengah Pusaran Korupsi
-
Canggihnya Cruise Control Yamaha, Bisa Ngedownshift Otomatis
-
Begini Perbedaan 'Mahzab' Kawasaki dan Toyota Meracik Motor Hidrogen
-
Auto2000 Masih Pede Jualan Veloz Hybrid Meski Ditantang BYD M6 PHEV dari Sisi Harga dan Teknologi
-
Dibongkar Kejagung, Terkuak Fakta Motor Listrik BGN Pesanan Dadan Hindayana
-
Proyek Pabrik BYD Subang Kebakaran, Diduga Akibat Puntung Rokok