Mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo yang sudah dilepas jabatannya sebagai Inspektorat Jenderal (Irjen) Polri adalah tersangka sekaligus dalam pembunuhan berencana ajudannya, yakni Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Sambo dikenakan Pasal 340 subsider Pasal 335 juncto 55 dan 56 KUHP. Dengan hukuman maksimal yang bisa diberikan adalah hukuman mati.
Di tengah proses pencarian kebenaran dikarenakan hingga kini belum terkuak motif sebenarnya pembunuhan berencana tersebut, mantan Hakim Agung, Gayus Lumbuun membuat pernyataan yang menuai kontroversi. Guru Besar Universitas Krisnadwipayana ini membuat pernyataan yang membangun reaksi masyarakat ketika menjadi Nara Sumber di Seminar Nasional Kajian Hukum yang berjudul 'Bisakah Ferdy Sambo Bebas?' yang disiarkan lewat kanal YouTube UNKRIS TV, Selasa, 30 Agustus 2022.
Pria bernama lengkap Dr. Topane Gayus Lumbuun mengatakan bahwa menurut pemikirannya, Sambo bisa diberikan pembebasan bersyarat. “Jadi saya akan menjawab sangat mungkin dan bisa, Ferdy Sambo bebas bersyarat,” kata Gayus. Diungkapkannya untuk perkara Sambo, harus dilihat unsur kebermanfaatan dalam sisi hukum, dimana Sambo bisa dijadikan sebagai kunci pembuka kebenaran atas seluruh kegiatan ilegal yang dijalaninya.
Hakim bisa mempertimbangkan hukuman yang diberikan jika Sambo dapat membuat pengakuan yang membantu terungkapnya berbagai kegiatan ilegal dan mau mengaku motif sebenarnya pembunuhan yang sudah dilakukan. “Hakim punya kewenangan untuk pertimbangkan hukuman yg sesuai dengan unsur kemanfaatan berdasarkan pengakuan untuk membuka seluas-luasnya di persidangan dengan hukuman yg meringankan, yang pada akhirnya pada pola hukum tersebut adalah hukum bebas yang bebas bersyarat,” jelas Gayus.
Menurut penilaiannya, tidaklah menjadi berguna jika Sambo diberikan hukuman mati. Sosok Sambo yang sekarang sudah menguak diduga terlibat dalam berbagai kegiatan Mafia di dalam Polri, seharusnya digunakan sebaik mungkin. Gayus menegaskan, “Dunia hukum tidak mendapat manfaat jika Ferdy Sambo (FS) diam saja. Lembaga keadilan jika tidak dibuka, tetap begitu-begitu saja. Jika FS dihukum mati, dikhawatirkan akan muncul FS-FS baru dan tidak menuntaskan akar permasalahan,”.
Pembebasan bersyarat yang ia maksudkan adalah dilepaskan dari hukuman mati ataupun hukuman penjara 20 tahun. "Bersyarat artinya tak usah dihukum mati atau dipenjara 20 tahun,” tegas Gayus.
Menurut Gayus, pada kasus kematian Brigadir J, desakan publik cukup kuat untuk meminta pelaksanaan keadilan yang sebenarnya. Terlihat bahwa masyarakat turut terlibat sebagai Social Justice Warrior (SJW).
Gayus pun menambahkan, Sambo bisa bebas, jika mau memenuhi syarat yang diberikan, dengan membuka semua isu yang terjadi. Pengakuan Sambo bisa membuat lembaga bereformasi. Karena menurutnya, jika Sambo dihukum mati, dikhawatirkan akan muncul 'Sambo-Sambo baru'dan tidak akan menyelesaikan akar permasalahan. Konsep ini muncul berdasarkan analisisnya terhadap keadilan sosial dan keadilan hukum.
Fakta tentang Sambo bisa mendapatkan Bebas Bersyarat adalah benar, dibebaskan dari hukuman mati dan kurungan penjara 20 tahun, atas saran Gayus Lumbuun jika memenuhi syarat mau membantu mengungkap kegiatan ilegal di dalam institusi Polri. Namun bukan menjadi keputusan pengadilan.
Baca Juga: CEK FAKTA: Kesal Whatsapp Tak Direspon, Istri Orang Dibanting. Selingkuh Atau Dendam?
Berita Terkait
-
Melanie Soebono Menyinggung Putri Candrawathi Tidak Ditahan, Mengungkit Deretan Ibu Yang Tetap Ditahan Meskipun Punya Bayi
-
Ferdy Sambo Pantas Dihukum Mati Berdasarkan Hasil Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) Menunjukkan, 50,3 persen Responden.
-
Menyikapi Kasus Ferdy Sambo, Amien Rais Membuat Surat Terbuka Untuk Presiden Jokowi
-
CEK FAKTA: Pembunuhan Berencana Brigadir J, Bukan Pelanggaran HAM Berat, Kata Komnas HAM
-
CEK FAKTA: Berseberangan dengan Kak Seto, Saran KPAI, Anak-anak Ferdy Sambo Tidak Perlu Dibuatkan Tempat Khusus di Lapas
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Setelah AS, Giliran Jerman Mau Ikut Campur di Selat Hormuz
-
Andre Taulany Emosi Dengar Cerita Detik-Detik Pernikahan Boiyen Hanya Bertahan 2 Bulan
-
Indonesia Beli Migas dari Rusia, Lalu Bagaimana dengan Amerika? Ini Jawaban Bahlil
-
Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor
-
Wali Kota Rico Waas Copot Paman Bobby Nasution dari Jabatan Kadisdikbud Medan
-
Melawan Rindu dan Kerasnya Hidup Demi Kenyamanan Tinggal di Perantauan
-
Realme Buds T500 Pro Resmi Debut: TWS Murah dengan ANC, Baterai Tahan 56 Jam
-
Signal 2 Diisukan Gagal Tayang Tahun Ini di tvN, Pachinko Jadi Pengganti?
-
Prediksi El Nino 2026 Bikin Suhu Panas Ekstrem, Lindungi Kulitmu dengan 5 Skincare Andalan Ini!
-
Heboh Mahasiswi ITB Jadi Korban Foto AI Telanjang, Wamenkomdigi Ingatkan soal Etika