- Kaspersky melaporkan lebih dari satu juta akun perbankan diretas selama 2025 akibat serangan malware pencuri data infostealer.
- Peretas kini memanfaatkan perdagangan data di dark web serta situs e-commerce palsu sebagai metode pencurian kredensial utama.
- Serangan siber bergeser ke perangkat mobile dengan peningkatan signifikan di kawasan Asia Pasifik sebesar 132 persen sepanjang tahun.
Suara.com - Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap fakta mengkhawatirkan, yakni lebih dari satu juta akun perbankan online diretas sepanjang 2025.
Serangan ini didominasi oleh malware pencuri data (infostealer), menandai pergeseran tren kejahatan siber finansial dari metode lama ke pencurian kredensial.
Dalam laporan tersebut, Kaspersky menyebut pelaku kini tidak lagi terlalu bergantung pada malware perbankan tradisional di PC, melainkan memanfaatkan rekayasa sosial dan perdagangan data di dark web.
Tren Baru: Pencurian Kredensial Jadi Senjata Utama
Infostealer menjadi alat utama para peretas untuk mencuri data sensitif, mulai dari username, password, cookie, hingga data kartu bank dan aset kripto.
Data yang dicuri kemudian disebarkan atau dijual di dark web, sehingga mempermudah pengambilalihan akun dan penipuan finansial.
“Dark web telah menjadi pusat utama kejahatan siber finansial. Kredensial dan kartu perbankan yang dicuri dikumpulkan, dikemas ulang, dan dijual di sana,” ujar Polina Tretyak, analis Kaspersky Digital Footprint Intelligence dalam keterangan resminya, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan bahwa ekosistem ini membuat serangan semakin mudah dilakukan, bahkan oleh pelaku dengan kemampuan teknis terbatas.
Phishing Masih Marak, E-Commerce Jadi Target Utama
Baca Juga: Serangan Siber di Indonesia Tembus 14,9 Juta, Kaspersky Dorong SOC Berbasis AI
Selain malware, serangan phishing juga masih mendominasi. Pada 2025, situs palsu yang meniru toko online menjadi yang paling banyak digunakan, mencapai 48,5 persen dari total serangan phishing finansial.
Sementara itu target perbankan mencapai 26,1 persen dan sistem pembayaran sekitar 25,5 persen.
Penurunan phishing perbankan menunjukkan bahwa sistem bank semakin sulit ditembus, sehingga pelaku beralih ke metode yang lebih mudah, seperti menipu pengguna melalui platform belanja online.
Serangan Mobile Meningkat, PC Mulai Ditinggalkan
Kaspersky juga mencatat perubahan perilaku pengguna yang kini lebih banyak mengakses layanan keuangan melalui smartphone.
Akibatnya, serangan malware finansial di PC menurun, sementara serangan ke perangkat mobile meningkat hingga 1,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Berita Terkait
-
Situs Web Kamu Bisa Jadi Sarang Konten Ilegal Tanpa Sadar, Ini Modus Kejahatan Siber Terbaru!
-
Awas! Nonton Demon Slayer Gratis Bisa Jadi Jebakan Penjahat Siber!
-
Synology Catatkan Pertumbuhan Data Melonjak 400 Persen, Hadirkan Solusi AI dan Keamanan Data Tangguh
-
Gawat! Deepfake Real-Time Mulai Dijual di Darknet, Harganya Cuma Segini
-
Pakar Kaspersky Mengidentifikasi Agen Serangan Siber Perusahaan Rusia, Backdoor Loki Berbahaya!
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi
-
Terima Bos Blueray Divonis 2 Tahun Penjara, KPK Ogah Ajukan Banding