Suara.com - Harga minyak global turun pada Jumat (22/5/2015) atau Sabtu (23/5/2015) pagi waktu Indonesia, karena dolar menguat didorong pengencangan data inflasi AS dan aksi ambil untung berat setelah harga minyak mentah naik selama dua hari berturut-turut.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, turun satu dolar AS menjadi berakhir di 59,72 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah Brent North Sea untuk Juli, acuan kontrak berjangka global, ditutup pada 65,37 dolar AS per barel di London, turun 1,17 dolar AS dari penyelesaian Kamis.
Departemen Tenaga Kerja melaporkan harga konsumen AS naik untuk ketiga bulan berturut-turut pada April. Minus pangan dan energi, indeks harga konsumen (IHK) "inti" naik 0,3 persen, kenaikan terbesar sejak Januari 2013.
Euro jatuh menjadi 1,104 dolar dalam perdagangan sore, dari 1,1112 dolar pada Kamis sore. Sebuah greenback yang kuat meningkatkan biaya minyak yang dihargakan dalam dolar.
"Dolar naik ... didukung angka IHK yang agak kuat, menekan harga minyak," kata Bob Yawger dari Mizuho Securities.
Juga mendukung dolar, Ketua Federal Reserve Janet Yellen menegaskan kembali bahwa rencana The Fed untuk menaikkan suku pada tahun ini tetap di jalurnya, mengatakan ia memperkirakan ekonomi membaik setelah melambat di kuartal pertama.
Yellen memperkirakan The Fed menaikkan suku bunganya tahun ini jika ekonomi tetap di jalur untuk perkiraannya.
"Jika ekonomi terus membaik seperti yang saya harapkan, saya pikir itu akan sesuai di beberapa titik tahun ini untuk mengambil langkah awal menaikkan target suku bunga federal fund" dan mulai untuk menormalkan kebijakan moneter secara bertahap, katanya.
Analis mengatakan bahwa pedagang juga tampak membukukan keuntungan menjelang liburan panjang akhir pekan; pasar ditutup pada Senin di Amerika Serikat dan di beberapa negara-negara Eropa, termasuk Inggris dan Prancis.
Data jumlah rig dari perusahaan jasa minyak Baker Hughes AS yang dipantau secara ketat, turun hanya satu rig dalam satu pekan, menunjukkan mendekati berakhirnya pemotongan produksi oleh perusahaan-perusahaan minyak karena harga minyak stabil.
Jumlah rig "seharusnya mengukur kedalaman penurunannya", kata Matt Smith dari Schneider Electric. "Pada kenyataannya harga yang lebih tinggi hanya akan memberikan insentif produksi dan membantu kelebihan pasokan bertahan." (Antara/AFP)
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu Terdekat di Jakarta
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Bukan Cuma Bupati! KPK Masih Kejar Sosok Penting Lain Terkait OTT Pekalongan
-
Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
Terkini
-
Timur Tengah Membara, Bahlil Garansi Harga BBM Subsidi Gak Bakal Naik
-
OJK Keluarkan 3 Jurus Hadapi Ancaman Perang AS-Iran
-
Cara Harita Nickel Gerakkan Roda Ekonomi Kerakyatan
-
Kilau Berkah Ramadan: Tring! by Pegadaian Hadirkan Festival Seru di 10 Kota Besar Indonesia
-
Perang Iran-AS Terus Bergulir, IHSG Makin Merosot ke Level 7.939
-
Airlangga Belum Bisa Pastikan Dampak Iran Vs AS-Israel ke Stok BBM
-
Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Level Rp16.872
-
Cara Hitung THR PPPK dan PPPK Paruh Waktu, Ini regulasinya
-
Bak Gugur 1 Tumbuh 1.000, OJK Terus Blokir 30.000 Rekening Judol
-
Daftar Ruas Tol Gratis saat Mudik Lebaran 2026