Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengemukakan kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2015 dipenuhi banyak tantangan sehingga membuat investor asing mengalihkan sebagian dananya keluar dari pasar saham domestik.
Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta, Rabu (30/12/2015) menyatakan bahwa kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat membuat investor asing mengalihkan sebagian dananya keluar dari instrumen portofolio di Indonesia yang ditandai dengan nilai jual bersih dana investor asing di pasar modal domestik sebesar Rp22,58 triliun.
"Situasi itu membuat laju IHSG BEI sepanjang Januari hingga Desember 2015 mengalami tren konsolidasi cenderung melemah," katanya.
Dampak dari kondisi global itu, lanjut dia, menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) per 30 Desember 2015 ditutup di level 4.593,01 poin atau mengalami penurunan sebesar 12,13 persen, dibandingkan penutupan akhir Desember 2014 yang berada di level 5.226,94 poin.
Meski demikian, tren konsolidasi IHSG sejalan dengan bursa-bursa saham lainnya seperti Indeks Dow Jones Industrial Average Amerika Serikat yang mencatat minus 1,65 persen, Indeks PSE Filipina minus 3,42 persen, Hang Seng Hongkong turun 7,14 persen, dan Strait Times Singapura melamah 14,56 persen.
Sementara itu tercatat di tingkatan regional, hanya ada tiga indeks yang berhasil tumbuh di sepanjang 2015, yakni Indeks Shanghai Composite Cina yang tumbuh 9,25 persen, Nikkei 225 Jepang naik 8,15 persen, dan Indeks KOSPI Korea Selatan yang mampu meningkat 2,53 persen.
"Meski demikian, secara jangka panjang, pertumbuhan IHSG dalam enam tahun terakhir dari 2009 hingga 2015 masih positif dengan membukukan pertumbuhan imbal hasil akumulatif sekitar 79,82 persen atau tercatat berada di urutan kedua setelah bursa Filipina," katanya.
Dalam menjaga industri pasar modal, Tito Sulistio mengatakan pihaknya memiliki empat strategi, pertama, menambah jumlah perusahaan tercatat atau emiten di BEI. Kedua, BEI akan membuka cabang di Surabaya untuk memudahkan proses penawaran umum perdana saham (IPO).
Ketiga, lanjut dia, memperbanyak kantor cabang BEI untuk sosialisasi dan edukasi. Dan, keempat menjaga reputasi dan wibawa Bursa agar masyarakat percaya menempatkan dananya di pasar modal.
"Empat hal itu yang akan fokus kita lakukan," katanya.
(Antara)
Berita Terkait
-
MKBD Tembus Rp 1 Triliun, KISI Perkuat Fundamental di Tengah Persaingan Sekuritas
-
Tak Lakukan RUPS dan Diduga Gelapkan Dana, Dirut Wanteg Sekuritas Dicopot Sementara
-
Harus Hati-hati, Penerapan Free Float 15 Persen Bisa Tekan Harga
-
7 Fakta Penting di Balik Proses Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
-
Frekuensi Transaksi Harian BEI Pecah Rekor Pekan Ini
Terpopuler
Pilihan
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
-
Sesaat Lagi! Link Live Streaming Persija vs Borneo FC, Jaminan Laga Seru di JIS
-
Kedubes AS Diserang, Cristiano Ronaldo Tinggalkan Arab Saudi
-
Bukan Cuma Bupati! KPK Masih Kejar Sosok Penting Lain Terkait OTT Pekalongan
Terkini
-
Wamenkeu Klaim Defisit APBN Masih Aman Meski Ada Perang AS-Israel-Iran
-
PT SMI Klaim Pembiayaan Proyek Masih Aman Meski Ada Konflik Timur Tengah
-
Bidik Investor Kalangan Masyarakat, PT SMI Siapkan Obligasi Rp 8-10 Triliun di 2026
-
Menkeu Purbaya: Anggaran Masih Bisa Bertahan Jika Harga Minyak 92 Dolar AS per Barel
-
Arab Saudi Larang Impor Unggas dan Telur dari Indonesia, Apa Sebab?
-
PT SMI Salurkan Rp 125 Triliun untuk Proyek Strategis Nasional
-
BEI Buka Data Kepemilikan Saham di atas 1 Persen
-
Pelayaran Selat Hormuz Ditutup, Biaya Logistik Terancam Melonjak
-
Elnusa Petrofin Perkuat Mitigasi Risiko, Pastikan BBM Aman Selama Ramadan
-
Chandra Asri Nyatakan Force Majeure, Konflik di Israel & AS vs Iran Jadi Penyebab